WINDING LOVE

WINDING LOVE
PERUBAHAN



Hari ini Evan bangun pagi seperti biasanya, meski sedang di rumah mertuanya tak membuat jam bangunnya berubah sedetikpun.


Dan seperti biasanya pula istrinya yang kini berada di sampingnya masih lelap dalam tidur nyenyaknya. Ia memperhatikan Genevia dengan lekat beberapa detik, kemudian mengalihkan perhatiannya.


Entah mengapa dirinya merasakan sebuah perasaan asing kala menatap Genevia yang masih asik terlelap di sampingnya. Namun segala perasaan itu segera ia tepis, tak ingin ada hal-hal yang mampu melenakannya.


Evan bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke kantor. Saat keluar dari kamar Genevia ia telah melihat kedua mertuanya yang sedang sarapan. Jika semua penghuni rumah biasa bangun pagi, mengapa istrinya terbiasa bangun siang. Hal itu kini memenuhi pikiran Evan.


Namun segera mungkin ia tepis, karena mungkin memang kebiasaan Genevia memang sulit bangun pagi. Evan pun segera bergabung bersama kedua mertuanya yang sedang sarapan. Mereka pun sarapan bersama tanpa Genevia.


Setelah selesai, Evan berpamitan dengan kedua mertuanya dan bergegas ke kantor. Tidak ada adegan berpamitan dengan Genevia sebagaimana pasangan suami-istri pada umumnya, karena baginya mereka bukanlah sepasang suami-istri yang sebenarnya.


Sepenuhnya dirinya menyadari pernikahan mereka akan berjalan sementara. Meski dirinya tidak pernah mengutarakan hal itu kepada siapapun. Baik Tuan Albert maupun Genevia semestinya sudah tahu, bahwa pernikahan mereka bisa berakhir kapan saja.


Tak jauh berbeda dengan hari kemarin, saat ini Evan masih memikirkan perubahan sikap Genevia kepadanya. Meski secara logika ia menyadari hal itu bukanlah urusannya, namun entah mengapa ada sisi dalam dirinya yang nampak tidak nyaman. Seolah tidak rela Genevia bersikap acuh kepadanya.


Tidak ingin terus menerus larut dalam pemikirannya yang tidak ia ketahui pasti, Evan memilih menyibukkan diri dengan melaksanakan tugasnya sebagai seorang pebisnis.


...🥀🥀🥀...


Sore harinya tampak Evan tengah bersiap untuk pulang ke rumah mertuanya. Di mana istrinya saat ini berada. Setelah menempuh beberapa menit lamanya, Evan sampai di kediaman Tuan Albert.


Suasana tampak sepi seperti tidak berpenghuni, Evan memutuskan langsung menuju ke kamar Genevia. Ia melihat istrinya kini sedang duduk di ranjang dengan buku dalam genggamannya.


Seperti kebiasaan Genevia seperti sebelum sebelumnya. Namun ada yang berbeda kali ini, sikapnya tak lagi dingin seperti kemarin. Wanita itu tampak tersenyum manis menyambut kepulangannya.


Bahkan istrinya itu membantunya untuk meletakkan tasnya dan membantu melepas jas yang melekat pada tubuhnya. Genevia bagai melakukan tugas istri sungguhan.


Evan dibuat terheran dengan sikap Genevia hari ini, namun tidak dipungkiri ada sisi hatinya yang merasa bahagia. Namun Evan menampik hal itu.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya pada Genevia untuk mengurangi rasa penasarannya atas perubahan istrinya yang signifikan.


Sehari berubah dan hari berikutnya berubah lagi. Apakah wanita memang seperti itu sifatnya. Evan sulit untuk memahami Genevia, apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.


Genevia yang ditanya Evan tersenyum tipis. Ia menyadari bahwa Evan pasti menanyakan tentang perubahan sikapnya ini. Padahal kemarin kemarin dirinya begitu acuh kepada suaminya namun sekarang berubah hangat lagi.


Dan Genevia tidak berniat menanggapi hal itu. Ia sendiri bingung bagaimana menjelaskannya kepada Evan, tentang perubahan sikapnya. Ia terlalu malu mengakui bahwa dirinya telah mulai jatuh dalam pesona suaminya.


Tak mendapat jawaban dari istrinya, Evan bersikap acuh seperti biasanya. Ia tidak akan menanyakan lagi jika Genevia tidak berniat menjawabnya. Ia bukalah tipikal seseorang yang kepo


...🍇🍇🍇...


Setelah selalu berharap kedatangan Steven untuk kembali padanya, kini Genivee merasa menyerah dengan harapannya sendiri. Sampai saat ini pun, sang kekasih tidak kembali. Membuatnya yakin Steven memang benar-benar meninggalkannya.


Di mana hati Steven, di mana pula cinta pria itu untuknya. Mengapa seolah segala cinta Steven sirna hanya karena kehamilannya. Apa karena Steven memang sama sekali tidak menginginkan seorang anak atau bagiamana sebenarnya?.


Kini perasaannya cintanya kepada Steven berubah menjadi sebuah kebencian yang mendalam. Ia tidak akan pernah memaafkan Steven jika suatu hari Steven datang kepadanya untuk meminta maaf.


Lama termenung dalam pemikirannya, Genivee dikejutkan dengan ketukan pintu rumahnya. Ketika membuka pintu ia dikejutkan dengan kehadiran para pria berseragam hitam yang nampak baris di depannya.


"Kalian mencari siapa?" Genivee menanyakan langsung tanpa basa-basi.


Salah satu dari mereka melangkah mendekati Genivee dan membungkuk hormat.


"Kami di perintah oleh Tuan besar untuk menjemput nona" Ujarnya dengan sopan.


Mendengar perkataan pria itu, Genivee tampak terkejut. Ia tidak mengenal mereka terlebih tuan besar mereka, jadi untuk apa mereka menjemput dirinya.


Setelah diam termenung, Genivee mulai berpikir Steven merupakan tuan besar mereka. Namun itu tidak mungkin, Steven bukanlah orang berkuasa setahunya.


"Siapa Tuan kalian? Aku rasa aku tidak mengenalnya. Lagipula apa tujuannya menjemputku?" rentetan pertanyaan Genivee lontarkan kepada pria berbaju hitam di depannya.


Sepertinya bumil ini semakin cerewet setelah mengandung.


"Maaf Nona kami tidak berhak memberitahukan siapa tuan kami. Tetapi Nona akan mengetahuinya jika bersedia mengikuti kami." Ujarnya menjelaskan.


Genivee merasa mereka bukanlah orang orang yang berniat buruk. Ia memutuskan untuk ikut bersama dengan mereka.


Melihat para bodyguard seperti ini adalah hal lumrah baginya. Karena Daddynya juga memiliki banyak bodyguard untuk menjaga keluarga mereka. Dan ia bis membedakan mana orang-orang yang berniat buruk dan tidak.


Maka ia bersedia untuk ikut para pria berbaju hitam ini, karena Genivee tidak menemukan niat buruk pada mereka. Namun ia penasaran siapa Tuan Besar yang mereka maksud, yang memerintah mereka untuk menjemput dirinya.


Dan apa tujuan Tuan itu menjemput dirinya. Sedangkan Genivee rasa mereka tidak saling mengenal. Dalam keadaan seperti ini, Genivee bisa saja menghubungi Daddynya.


Namun melihat bagaimana keadaannya, ia belum siap sang Daddy mengetahui kehamilannya. Ia juga merasa, ia mampu menghadapi apa yang tuan para pria ini inginkan nanti.


Setelah perjalanan cukup lama, sampailah mereka di sebuah rumah mewah yang nampak asri. Rumah ini tampak berdiri sendirian dan terasa kehangatan menjalar dalam setiap sisinya.


Genivee dibawa masuk ke dalam sebuah ruang kerja. Ia ditinggalkan sendiri bersama seorang pria yang sedang duduk membelakanginya. Genivee berpikir, mungkin dialah tuan besar yang mereka maksudkan.


"Ada keperluan apa Tuan meminta mereka menjemput saya?" tanyanya Genivee yang tak ingin berlama-lama penasaran.


Pria di depannya itu membalikkan badannya ke arah Genivee. Dan hal itu sontak membuat Genivee terkejut bukan main kala melihat siapa yang sedang berada dihadapannya.


NEXT ........