WINDING LOVE

WINDING LOVE
SEPARUH PEMBICARAAN



"Kita pulang hari ini." Tegas Evan saat berada di kamar bersama Genevia.


Setelah mereka saling berusaha menjernihkan pikiran masing-masing dengan menghirup udara segar di luar. Kini mereka mereka telah kembali masuk ke dalam kamar Genevia.


"Baiklah." Singkat Genevia menjawab Evan.


Perasaannya masih merasa kecewa dengan Evan. Entah bagaimana suaminya yang tak menerima kehamilannya, dirinya tak dapat memaksa. Evan juga akan melanjutkan pembicaraan mereka saat di rumah nanti.


Setidaknya setelah menceritakan kepada adiknya, dirinya merasa sedikit lega. Meski tak secara detail dan banyak hal yang dirinya tutup-tutupi, namun Ia tetap merasa lega dengan bercerita.


Dugaan Genivee benar jika dirinya masih banyak menutupi semua yang terjadi. Karena tak ingin siapapun ikut campur dalam masalahnya. Biarkan dirinya yang akan menghadap ini semua.


Lagi pula Genevia juga tak ingin membebani siapapun, terlebih kedua orang tuanya. Dirinya tak ingin mereka merasa sedih dan merasa bersalah karena menikahkan dirinya dengan Evan Sanders.


Karena sejujurnya Genevia juga tak merasa menyesal sedikitpun dengan pernikahan mereka. Justru dirinya merasa bahagia dapat mencintai seorang Evan Sanders, dan menjadi istrinya.


Setelah berpamitan dengan kedua mertuanya, Evan membawa Genevia untuk pulang ke rumahnya. Seperti perkataannya sebelumnya, mereka akan kembali melanjutkan pembicaraan terkait kehamilan Genevia.


Dalam perjalanan, mereka sama-sama terdiam. Tak ada yang berniat untuk membuka suara, terlebih Genevia yang terlihat melamun dan menatap jalanan dengan sendu.


Genevia tak tahu apa yang akan dirinya hadapi nanti saat di rumah. Evan yang tak menginginkan kehadiran janjinya, apa yang akan pria itu bicarakan. Tiba-tiba pikiran buruk terlintas dalam benaknya.


"Van, apa kau berniat memintaku untuk menggugurkan janin ini?" tanya Genevia tanpa menoleh pada Evan.


Evan Yangs sedang fokus mengemudi tak memiliki niatan untuk membahas hal ini dalam mobil. "Kita akan bicarakan nanti setelah sampai." Ujarnya dengan datar.


Genevia kembali fokus pada lamunannya, setelah mendengar perkataan Evan. Entah apapun yang terjadi nanti, dirinya akan siap siaga untuk selalu melindungi anaknya yang masih dalam kandungan.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu, akhirnya mereka telah sampai di pekarangan rumah Evan. Hari yang tak lagi terang, karena mereka memutuskan pulang saat senja. Membuat mereka sama-sama merasa lelah.


Dan pada akhirnya Genevia maupun Evan memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan pembicaraan mereka terkait janin yang ada dalam kandungan Genevia.


Karena Genevia lebih dulu membersihkan diri, saat ini dirinya tengah bermain ponsel dan berbaring di atas ranjang. Sembari menunggu Evan yang masih membersihkan diri.


"Sejak kapan?" Evan tengah duduk di samping Genevia dengan bersandar di headboard.


Evan telah selesai membersihkan dirinya, dan segera menyusul Istrinya untuk naik ke atas ranjang.


Genevia yang awalnya sibuk memainkan ponselnya, segera meletakkan ponsel yang dirinya pegang ke atas nakas di sampingnya. Supaya fokus untuk melanjutkan pembahasan terkait janin mereka.


"Dokter bilang telah berusia lima minggu. Itu artinya sebulan yang lalu dia hadir." Jawab Genevia menyentuh perutnya.


Evan menghembuskan nafas berat mendengar penjelasan Genevia. Memiliki keturunan dalam pernikahan kesepakatan ini, rasanya begitu berat.


Dirinya tak pernah menduga hal ini akan terjadi, terlebih memiliki seorang anak tidak ada dalam rencananya untuk saat ini. Namun tak mungkin dirinya melakukan hal-hal bodoh, seperti yang Genevia tanyanya dalam mobil.


Dirinya tak mungkin tega membunuh darah dagingnya. Evan juga masih memiliki hati nurani, sehingga tak mungkin akan berbuat nekat.


"Kemarin saat menemani adi .. maksudku saat aku sedang di luar. Aku jatuh pingsan dan di bawa ke rumah sakit." Hampir saja Genevia kelepasan menyebutkan Genivee.


Setelah mendengar jawaban Genevia, Evan tampak terdiam. Pria itu terlihat seperti memikirkan sesuatu.


"Kita tetap akan menjalankan pernikahan ini sampai anak itu lahir. Setelahnya semuanya akan berjalan seperti pada awal." Ujar Evan setelah lama berpikir.


Evan akan bertanggung jawab pada janin yang sedang Genevia kandung. Namun dirinya tetap ingin berpisah dengan Genevia setelah anak dalam kandungan Genevia lahir.


Mendengar penuturan Evan, tentu Genevia merasa tak terima. "Kau benar-benar tak berperasaan Van. Mengapa kau tak memilih belajar mencintaiku dan membesarkan anak kita bersama. Bukan dengan cara yang kau sebut?" Genevia berucap tegas dan terlihat mulai terbawa emosi.


Evan menatap sekilas Genevia dan berkata. "Sudah aku katakan, aku tak bisa mencintaimu. Terlebih aku tak begitu menginginkan keturunan untuk saat ini. Jadi milikilah dia sepenuhnya setelah kita berpisah." Ujar Evan dingin.


Mendengar perkataan Evan, Genevia nampak berkaca-kaca. Evan benar-benar tak menginginkan janin dalam kandungannya. Sungguh miris nasib anak dalam kandungannya. Masih dalam kandungan saja, sang Daddy telah menolaknya.


Pria itu juga mengatakan tak akan bisa mencintainya. Mengapa Evan tak berusaha meski sedikit saja, untuk jatuh cinta padanya. Apa selama ini memang dirinya yang terlalu berharap pada pernikahan yang sebenarnya Evan anggap hanya permainan semata.


Saat pria itu merasa bosan, dia bebas pergi dan meninggalkan semua hal yang tak lagi menguntungkan untuknya. Termasuk pernikahan yang sedang mereka jalani ini.


Dalam keadaan sedih, Genevia tiba-tiba teringat dengan wanita bernama Chelsea. Apakah pria itu sesungguhnya telah mencintai orang lain, maka tak bisa mencintainya.


Jika benar seperti itu, mungkin saja untuk membuat Evan jatuh cinta pada dirinya. Hanya memiliki peluang yang kecil. Terlebih jika benar Chelsea wanita itu, yang Evan cintai.


Perjuangannya akan bertambah sulit. Karena wanita itu sepertinya sering berinteraksi dengan Evan. Memikirkan hal itu membuat Genevia merasa sesak. Dan Datuk selanjutnya, perutnya terasa kram.


Genevia memegang perutnya yang masih rata, tak ingin terjadi sesuatu pada janinnya. Genevia berusaha untuk bersikap tenang, meredam segala pikiran negatifnya.


"Van bisakah kita lanjutkan besok? Aku merasa perutku tampak tak nyaman." Ujar Genevia kembali merebahkan diri di atas ranjang.


Meski rasanya ingin menangis dengan perkataan Evan, namun Genevia berusaha untuk menahannya. Kondisi janinnya juga hal penting untuk diperhatikan.


Genevia berusaha memejamkan mata meski sulit. Dirinya memilih memikirkan kenangan-kenangan kebahagiaan bersama kedua orangtuanya dan kembarannya. Dan benar saja, kram diperutnya perlahan mereda.


"Baiklah." Singkatnya menjawab pertanyaan Genevia.


Evan menyusul Genevia untuk berbaring dan memejamkan mata. Hanya dalam hitungan detik, Evan telah terlelap dalam tidurnya. Sepertinya pria itu merasa kelelahan hari ini, tapi entahlah.


Genevia yang belum sempat memejamkan mata, mencoba membalikkan badannya ke arah Evan. Suaminya tampak begitu tampan dan wajahnya terlihat begitu damai.


Tak ada ekspresi dingin atau pun datar, hanyalah ekspresi damai dan tenang yang Genevia lihat. Hatinya teras hangat melihat wajah Evan yang nampak terlihat selalu manis dan hangat saat dalam keadaan terlelap seperti ini.


"Semoga Daddy segera mencintai Mommy sayang." Ujar Genevia dengan mengusap lembut perutnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mengusap perlahan wajah Evan yang terlelap.


Next .......