
Evan yang selama ini dengan sengaja memperlihatkan kemesraannya bersama Keiko di depan Genevia merasa mulai lega kala melihat Genevia yang sepertinya mulai menyerah pada perasaannya.
Meski terkadang dirinya merasa tidak nyaman melihat rasa sakit dan terkuak yang Evan tangkap di mata Genevia. Namun Evan menepis segala perasaan tidak nyaman itu.
Dari awal misinya hanya akan membuat bisnisnya semakin maju dan berkembang, bukan ingin membangun kehidupan pernikahan. Terlebih di cintai oleh istri yang yang menjadi partner pernikahannya.
Selama mereka menjalankan drama ini, Keiko sering mengeluh tidak tega melihat Genevia yang harus terluka dengan sandiwara mereka. Namun Evan tetap kekeh pada rencananya untuk membuat Genevia tak lagi menyimpan rasa cinta padanya.
Hari semakin berlalu, Genevia semakin terluka dengan sikap Evan yang tak lagi hangat kepadanya saat mereka bercinta. Genevia menebak hal itu terjadi karena kehadiran kekasihnya itu.
Selama ini Evan memang terlihat mesra bersama Keiko, namun pria itu masih sering meminta mereka untuk melakukan kegiatan ranjang. Meski Genevia merasa terluka dengan apa yang Evan lakukan kepadanya, namun Genevia tetap melayani Evan sesuai keinginan pria itu.
Ia merasa hal itu satu-satunya kesempatan untuk membuat Evan dapat perlahan lahan mencintai dirinya.
Namun setelah dua bulan berlalu, setelah Keiko tinggal bersama mereka. Evan kini tak pernah lagi mengajak Genevia melakukannya. Hal itu membuat Genevia berpikir, Evan telah mendapatkannya dari Keiko.
Genevia menangis tersedu sedu membayangkan jika hal itu benar. Ia tak lagi sanggup mencintai Evan jika seperti ini. Genevia mencoba menumpahkan seluruh beban hatinya dengan tangisannya.
Bahkan untuk bercerita kepada kedua orangtuanya Genevia tidak lagi sanggup. Ia tak ingin melihat kedua orangtuanya juga ikut terluka mendengar jika dirinya amat terluka bersama Evan. Biarlah kali ini ia tanggung semua penderitaan ini.
Setelah merasa cukup dengan menumpahkan tangisannya, Genevia bergegas mengemasi barang-barangnya yang ada di kamar Evan. Ia akan pindah ke kamar tamu, karena kamarnya yang dulu telah ditempati oleh Keiko.
Kali ini ia yakin Evan tidak akan melarang dirinya untuk berpindah kamar. Karena pria itu kini seolah tidak peduli lagi dengan kehadirannya. Menyentuh saja juga tidak pernah lagi. Hanya berbicara seperlunya kepada dirinya.
...🥀🥀🥀...
Keesokan harinya
Seperti apa yang telah Genevia duga, Evan sama sekali tidak mempermasalahkan ketiadaan dirinya di kamar Evan. Ia yakin Evan tahu jika dirinya pindah ke kamar tamu.
Tanpa sadar, Genevia merasa kecewa dengan respon Evan yang tidak mempedulikan dirinya yang tak lagi berada di kamar Evan.
Semakin hari drama mereka semakin berlanjut. Namun saat ini tak lagi terlalu sering Evan dan Keiko melakukan sandiwara. Karena Genevia yang sekarang terlihat mulai melupakan perasaan pada Evan, membuat Evan tidak perlu terlalu banyak melakukan sandiwara lagi.
Padahal perasaan Genevia masih tetap utuh kepada Evan. Meskipun ia kerap merasa kecewa dan terluka oleh Evan namun seolah perasaan itu telah tertanam kuat di hati Genevia.
Genevia mencoba tetap menikmati setiap matanya masih bisa memandang Evan. Karena ia tidak tahu sampai kapan hal itu bisa ia lakukan.
Hari ini, Keiko tidak tahan lagi setelah dua bukan lamanya bersandiwara di depan Genevia. Bukan hanya lelah ketika melakukan kebohongan, tapi ia juga merasa tak lagi tega untuk melukai Genevia dengan meneruskan sandiwara ini.
"Nevia aku ingin menjelaskan semuanya kepadamu. Dan ku harap kau akan senang dan percaya padaku." Ujar Keiko yang menerobos masuk ke kamar yang Genevia tempati.
"Aku tahu bagaimana hubungan kalian yang tampak memang dua insan yang saling mencintai. Apa kau ingin membicarakan bahwa setelah pernikahan bisnis kami selesai, kalian akan menikah?" Jawab Genevia yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia menanggapi ucapan Keiko dengan acuh.
Genevia memang tengah mengerjakan tugas kuliahnya, dan tak lama lagi ia akan segera menyelesaikan studinya itu kurang dari setahun.
Mendengar jawaban Genevia, Keiko merasa sebal sendiri. Akhirnya ia langsung mengatakan kebenaran tanpa mempedulikan Genevia yang ketus kepadanya.
"Nevia tolong dengarkan aku. Aku dan Evan bukan sepasang kekasih, aku adalah sepupunya dari Jepang. Apa kau tahu aku tersiksa karena suamimu itu terus memaksa aku untuk melakukan sandiwara di depanmu, aku lelah sekali menurutinya." Jelas Keiko tanpa jeda.
Genevia terkejut mendengar perkataan Keiko. Ia yang tadinya sibuk dengan laptopnya, kini menghentikan kegiatannya itu. Ia menoleh pada Keiko yang masih menatapnya untuk memastikan kebenaran yang baru ia dengar.
Nihil, ia tak melihat kebohongan sama sekali di mata Keiko. Jadi selama ini mereka hanya bersandiwara, mereka buka sepasang kekasih. Tapi mereka hanyalah saudara sepupu. Hati Genevia merasa lega, tapi ada sedikit tersentil.
Evan sampai harus melakukan sandiwara seperti itu, untuk membuat dirinya menyerang pada perasaannya. Apa Evan memang benar-benar merasa tidak ingin ia cintai. Apa Evan tidak melihat ketulusannya sedikit pun.
Lalu apa yang pria itu inginkan sebenar? Hanya menjalani pernikahan bisnis ini tanpa rasa sampai waktunya tiba dan pernikahan ini diakhiri? Entahlah Genevia juga tidak tahu.
"Lalu kenapa kau mengakui hal ini kepadaku? Apa kau tidak takut Evan marah?" Tanya Genevia merasa penasaran.
Keiko memutar bola matanya malas. Padahal tadi ia sudah menjelaskannya.
"Kan aku sudah bilang, aku merasa tersiksa dengan sandiwara yang suami buat. Terlebih lagi aku juga tidak tega melihat kau terluka setia hari. Aku tidak mau menyakitimu lagi, bagaimana pun juga kau adalah sepupu ipar ku."
Genevia merasa terenyuh mendengar Keiko yang merasa tidak tega harus menyakiti dirinya terus menerus. Lalu bagaimana dengan Evan? Apa tidak ada sedikit pun rasa iba di hati Evan ketika menyakiti dirinya.
Justru semakin dipikirkan, semakin membuat Genevia sadar. Evan tidak pernah memandangnya sama sekali, bahkan untuk merasakan iba saja Evan tidak ada ruang itu untuk dirinya.
Tetapi mengapa meski Evan telah banyak melukainya, hatinya tetap saja tak bisa membenci Evan. Dan rasa cintanya juga tidak memudar atau berkurang sekalipun.
NEXT .......