
Mereka mulai mencari topik perbincangan ringan dengan menantunya. Demi mengulur waktu, supaya David dan Genivee segera menemukan cara untuk mengindari Evan.
"Apa kau tak merasa takut datang larut malam begini?" Ujar Tuan Albert yang merasa sedikit khawatir sebenarnya. Namun melihat menantunya baik-baik saja, Tuan Albert menjadi lega.
"Aku tak akan sampai di sini jika aku merasa takut Tuan Albert." Jawab Evan dengan percaya diri.
Mendengar jawaban Evan, Tuan Albert tersenyum tipis. Menantunya memang benar-benar keturunan Sanders. Begitu percaya diri dan tahan berani.
"Baiklah, tapi sepertinya kau melupakan sesuatu." Ujar Tuan Albert.
Evan menatap heran sekaligus bingung dengan perkataan mertuanya. Evan rasa tak ada hal yang dirinya lupakan. Dan Tuan Albert menyadari hal itu.
"Sudahlah Dad, mungkin menantu kita belum terbiasa memanggil dengan sebutan Daddy dan Mommy." Jelas Nyonya Albert membantu menjawab kebingungan Evan.
"Ya kali ini aku maklumi. Namun kedepannya kau akan ku usir jika lupa dengan panggilan itu." Ucap Tuan Albert mencoba bercanda dengan menantunya.
Namun dasarnya Evan yang memang bersifat datar terlebih dingin. Sama sekali tak bisa menanggapi ujaran candaan mertuanya dengan candaan pula.
"Baik Dad, Mom." Jawab Evan nampak datar.
Perbincangan mereka kemudian terhenti dengan kedatangan Genevia yang ikut duduk di samping Evan. Tak lupa Genevia memberikan kode untuk memberikan info bahwa semuanya telah aman.
Evan yang melihat wajah Genevia seketika merasa tenang. Kegelisahan dalam dirinya seolah sirna menyisakan sebuah rasa senang yang tak dapat dirinya definisikan.
Begitu pun dengan Genevia yang merasa bahagia melihat wajah Evan. Dirinya tak sabar untuk memberikan kabar bahagia tentang kehamilannya.
Tanpa sadar mereka saling bertatapan dengan dalam, menyelami kedalaman di dalam lubuk mata masing-masing. Dan deheman dari Tuan Albert menyadarkan kegiatan mereka.
Tuan dan Nyonya Albert merasa bahagia melihat putrinya dan menantunya yang terlihat saling mencintai. Padahal mereka tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kedua calon orangtua ini.
Dirasa keadaan telah aman. Melihat bagaimana Genevia yang bahagia melihat kedatangan Evan, Tuan Albert yakin Genevia pasti ingin segera memberitahu Evan tentang kehamilannya.
Tuan dan Nyonya Albert memutuskan untuk meninggalkan mereka dan kembali tidur. Mengingat tidurnya terganggu dengan kepanikan dan kekhawatiran mereka.
"Lebih baik kalian teruskan di kamar, Daddy dan Mommy juga akan segera tidur." Ujarnya mengajak istrinya untuk kembali ke kamar. Dan Nyonya Albert mengikuti titah suaminya.
"Iya Dad, Mom kami akan ke kamar." Bukan Genevia yang menjawab melainkan Evan.
Tuan dan Nyonya Albert berlalu meninggalkan suami istri yang kini menjadi calon orangtua.
Genevia menoleh pada Evan yang kini sedang menatapnya. "Aku pikir kau tak akan datang. Melihat malam yang semakin larut." Ujar Genevia mengalihkan pandangannya dari Evan.
Dirinya memang tak kuasa jika ditatap secara intens oleh suaminya itu. Apalagi sejak tadi Evan hanya terdiam menatap dirinya dengan lekat.
"Van, bisakah kau berhenti menatapku?" Ujarnya protes dengan kelakuan Evan yang masih setia menatapnya. Tanpa menjawab pertanyaan pula.
"Apa kau keberatan ditatap suamimu?" tanya Evan menatap tajam Genevia. Entah mengapa ada rasa tersinggung jika benar Genevia merasa risih ditatap dirinya.
"Bukan begitu Van, aku hanya tak nyaman kau tatap begitu." Ujarnya mencoba menjelaskan pada Evan.
Evan merasa tersinggung mendengar perkataan Genevia yang merasa tak nyaman ditatap oleh dirinya. Padahal bukannya Genevia mencintai dirinya, namun mengapa wanita itu justru tak suka.
"Apa kau memiliki pria lain?" Evan menjadi berpikiran aneh-aneh dengan respon Genevia yang merasa tak nyaman ditatap olehnya.
Padahal rata-rata wanita akan begitu jika ditatap oleh orang-orang yang ia cintai. Mereka akan tersipu dan merasa malu.
Genevia yang mendengar perkataan suaminya merasa terkejut. Pemikiran Evan sama sekali tak berdasar. "Apa yang kau bicarakan Van. Kau benar-benar tak jelas." Ujar Genevia menatap Evan yang aneh.
"Bisa saja hal itu terjadi. Apa kau sudah tak lagi mencintai ku?" tanya Evan yang masih menatap tajam wanitanya.
"Van kau benar-benar aneh. Apa yang sebenarnya kau bicarakan?" Ujar Genevia semakin tak paham dengan sikap Evan.
Evan yang melihat Genevia seperti mengalihkan pembicaraan, merasa semakin curiga. Dadanya terasa panas memikirkan Genevia memang memiliki pria lain di hatinya.
"Kau benar-benar memiliki pria lain?" Tanya Evan dengan tegas.
"Astaga Van, kau benar-benar tak jelas. Bagaimana mungkin aku memiliki pria lain, hatiku sepenuhnya terisi olehmu." Ujar Genevia merasa kesal dengan Evan.
Mendengar hal itu, panas yang Evan rasakan di dadanya seketika hilang. Berganti perasaan berdebar yang membuatnya tanpa sadar tersenyum. Namun Genevia tak melihatnya karena Evan tersenyum tipis sekali.
"Baguslah. Hatimu memang hanya untukku." Ujar Evan yang masih terlihat datar, namun hatinya merasa bahagia.
Genevia terkesima mendengar perkataan Evan. Namun detik berikutnya, dirinya tersadar dan kembali menguasai dirinya.
"Jika kau berkata dan bersikap seperti itu. Aku bisa saja berpikir bahwa kau telah jatuh cinta padaku Van." Ujar Genevia kembali menatap manik indah mata Evan.
Evan yang mendengar perkataan Genevia, seketika terdiam. Dirinya tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan hal itu membuat Genevia tersenyum sinis menatap Evan.
Dugaannya benar, Evan memang belum memiliki perasaan kepadanya. Baiklah tak apa, semoga dengan kabar kehamilannya Evan akan luluh kepadanya. Atau sekedar menerima dan belajar mencintainya.
"Lebih baik kita masuk seperti kata Daddy dan Mommy." Ujar Evan memecah keheningan yang sempat terjadi diantara mereka.
Evan segera mengajak Genevia untuk menuju kamar istrinya. Mereka berbaring di atas ranjang dan saling berpelukan. Selama ini, Evan memang selalu memeluk Genevia saat tidur.
Karena selama dirinya ingin selalu dekat dengan Genevia, Evan juga akan merasa nyaman bila tidur dengan memeluk istrinya.
"Van ada hal yang ingin aku katakan." Ujar Genevia memecah keheningan di antara mereka.
Namun Genevia tak mendapatkan jawaban dari Evan. Dirinya pun mengulangi perkataannya. "Van, apa kau mendengar ku? Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang penting."
Genevia tak mendapatkan jawaban lagi, hingga akhirnya Genevia menoleh kebelakang di mana Evan rupanya telah terlelap dengan memeluk erat pinggangnya.
"Huh sia-sia aku mengumpulkan keberanian sejak tadi." Genevia merasa zonk dengan yang terjadi.
Padahal dirinya telah merasa sedikit takut-takut untuk mengatakan kehamilannya. Namun rupanya Evan malah sudah terlelap dengan pulsanya.
Akhirnya Genevia pasrah, besok dirinya akan memberitahu Evan. Genevia menarik tangan Evan yang berada di pinggangnya untuk menempel di perutnya. Dirinya ingin janin dalam kandungannya juga merasakan kehadiran Daddynya.