
Pagi harinya di rumah Evan, Genevia tengah mengantarkan Evan untuk berangkat ke kantor. Dirinya melabuhkan kecupan di pipi Evan sebagimana biasanya. Dan Evan melajukan mobilnya untuk pergi ke perusahaan nya.
Sesampainya di perusahaan, Evan memasuki ruangannya dan mulai melakukan pekerjaannya. Setelah berselang sekitar dua satu jam, Evan dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
"What's Up Brother" Sapa pria yang kini tengah duduk santai di sofa ruangan Evan.
"Kau di sini?" Tanya Evan.
Meski awalnya ada sedikit keterkejutan di wajah Evan dengan kehadiran pria itu, namun hal itu hanya berlaku sekejap. Karena Evan kini kembali tampak datar dan terkesan tidak peduli.
"Wah, kau masih tetap sama tampak datar." Ujar Pria itu.
"Untuk apa kau ke sini Frans?" Tanya Evan yang tampak acuh, dirinya masih sibuk memeriksa berkas-berkas yang bertumpuk di mejanya.
Rupanya pria itu merupakan Frans. Sahabat sekaligus partner bisnis Evan yang asli keturunan Amerika, sama seperti Evan. Ia mendatangi Evan ke Eropa hanya untuk mencari tahu seluk beluk pernikahan Evan.
Bukan hanya itu saja tujuan Frans ke Eropa. Dirinya yang menyukai healing dan keliling dunia, menjadi alasan terkuat mengapa dirinya kini berada di Eropa.
Tentang pernikahan Evan, entah darimana Frans mengetahui pernikahan yang Evan sembunyikan, namun Evan tampak tidak peduli jika sahabatnya itu mengetahui.
"Brother tak bisakah kau menyambut ku dengan sopan? Aku datang jauh dari Amerika hanya untuk kau acuhkan begini?" Gerutu Frans kepada Evan dengan canda.
Evan hanya menanggapi ucapan Frans dengan helaan nafas berat. Ia bertambah pusing mendengar celotehan Frans yang menurutnya tidak penting.
"Aku ke sini untuk mengusut pernikahan mu Brother. Siapa wanita beruntung yang mampu meluluhkan hatimu itu?" Tanya Frans menggoda Evan.
"Jika kau tak bisa diam, maka keluarlah dari ruangan ku!" Ujar Evan mengusir Frans secara halus.
Dirinya sedang fokus pada pekerjaan nya, namun suara Frans sungguh mengganggu konsentrasi dirinya.
"Baiklah ... baiklah aku akan diam." Ujar Frans mengalah kepada Evan daripada dirinya diusir sungguhan.
Frans menyibukkan dirinya dengan memainkan ponselnya. Mengerjakan pekerjaan nya di sana. Meski Frans berusaha fokus pada pekerjaan dan ponselnya, namun rasa penasaran tentang pernikahan Evan senantiasa mengganggu fokusnya.
Waktu berjalan, terlihat hari yang nampak mulai siang. Frans melirik ke arah Evan yang masih sibuk pada pekerjaan nya. Perutnya terasa lapar berdemo minta di isi, namun Evan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyudahi pekerjaan nya.
Namun tak lama kemudian, akhirnya Frans dapat bernapas lega. Karena melihat Evan yang sedang bersiap-siap untuk makan siang.
"Apa kau tak lapar?" Sindir Evan kepada Frans yang hanya diam tanpa mengikuti nya.
"Tentu saja Brother, aku menunggu mu sejak tadi." Ujar Frans dengan menepuk punggung Evan.
Mereka keluar dari perusahaan dengan menggunakan mobil Evan. Evan yang tak suka bila menjadi penumpang membuat Frans bersorak senang karena tidak perlu lelah mengemudikan mobil.
"Siapa wanita yang menjadi istrimu itu Brother? Aku penasaran dengan pesonanya, apakah dia sangat cantik dan menawan hingga mampu memikat mu?" Ujar Frans dengan terkekeh pelan.
Selama ini Frans mengenal Evan selalu dingin dengan lingkungan sekitarnya terlebih wanita. Bahkan kepada keluarganya, Evan juga tampak dingin dan datar.
Evan adalah tipikal seseorang yang menyayangi keluarga dan perhatian meski terlihat acuh. Namun dengan orang-orang asing, Evan nampak acuh terhadap mereka.
Justru Evan menggapai Frans dengan topik yang lain.
"Sebaiknya urusi kehidupan sendiri Frans. Jangan hanya terjebak pada masa lalu, dan menutup peluang di masa depan." Tutur Evan menyindir Frans.
"Ck hanya itu saja yang selalu kau katakan." Gerutu Frans.
Kemudian Frans terlintas dengan kejadian kemarin saat ia bertabrakan dengan seorang wanita. Frans yakini keturunan Asia, yang mampu membuatnya terpesona. Meski wanita itu sempat menyalahkan dirinya, namun tak mengurangi kadar terpesona dalam dirinya.
Frans tersenyum-senyum sendiri, dan hal itu terlihat jelas dalam pandangan Evan. Membuat suami dari Genevia itu merasa geli melihat tingkah tidak jelas sahabatnya itu.
"Sepertinya kau sudah tidak waras, karena masa lalu mu." Uajr Evan kepada Frans.
"Enak saja kau bilang, aku masih waras. Asal kau tahu brother, kemarin aku bertenu seorang wanita yang begitu cantik. Bahkan aku terpesona padanya." Jelas Frans dengan membayangkan betapa cantiknya wanita yang kemarin ia temui.
"Baguslah jika kau tertarik dengan orang lain. Sebaiknya segera kau adakan pernikahan, agar dia tak pergi darimu." Ujar Evan menyindir masa lalu Frans.
"Kau benar Brother, tetapi aku tak mengetahui siapa wanita itu. Kami hanya bertemu dengan tak sengaja." Jelas Frans.
Evan menghela nafasnya berat. Pria yang merupakan partner nya ini nampaknya mulai setengah tidak waras. Bagiamana ia dapat terpesona pada seorang wanita yang baru saja ditemuinya kemarin.
"Lalu untuk apa kau menceritakan nya?" Gerutu Evan merasa pembahasan Frans tidaklah penting.
"Apa aku harus meminta bantuan ayahmu Brother untuk mencari identitas nya?" terlintas sebuah ide di kepala Frans untuk segera mendekati wanita yang telah membuatnya terpesona.
"up to you." Jawab Evan dengan singkat.
"Sebaiknya memang harus aku lakukan, agar aku tak lagi kehilangan wanitaku lagi. Dan akan membuatku benar-benar menjadi tidak waras." Tutur Frans bertekad kuat.
Deg
Mendengar perkataan Frans, entah mengapa Evan menjadi terpikirkan dengan bayangan-bayangan Genevia. Istrinya yang memutuskan untuk menginap di rumah kedua orangtuanya bersama Keiko.
Entah mengapa ada perasaan tak nyaman dalam hati Evan, kala mendengar Frans mengatakan kehilangan wanitanya. Seolah Evan juga akan merasakan hal yang sama jika dirinya tidak bertekad mempertahankan.
Evan terdiam sejenak memikirkan segala hak itu. Namun suara Frans membuyarkan segala pemikirannya. Evan segera mungkin menepis segala perasaan nyaman yang sempat bersemayam di hatinya.
"Kau melamun Brother? sungguh hal langka sekali melihat kau seperti ini brother" Ujar Frans menertawakan Evan yang sempat terdiam melamun. "Wah tampaknya istrimu yang merubahmu menjadi seperti ini."
Frans tidak pernah melihat pria yang telah sepuluh tahun bersahabat dengannya itu tampak melamun dan termenung. Sungguh hal langka, Frans dapat menyaksikan nya saat ini.
"Diamlah!." Geram Evan kepada Frans yang telah menertawakan dirinya.
"Baik baiklah Brother, aku akan diam" Tutur Frans menutup mulutnya dengan menahan tawanya.
Evan dan Frans sampai di sebuah restoran elit yang begitu mewah. Mereka turun dan melangkah menuju ruang VIP. Mereka tampak makan dengan hikmat, karena Frans paham Evan tidak suka diajak bicara saat sedang fokus makan.
NEXT .......