
"Sementara Evan di ruang kerja bersama Chelsea saling menatap tajam.
"Kau lihat bukan, apa yang dapat ku lakukan?" tutur Chelsea dengan angkuh.
"Susah aku katakan tak ingin membantumu. Mengapa kau masih bersikeras memaksa? Apa kau sudah tak memiliki harga diri?" tanya Evan yang mulai merasa marah.
Belum selesai permasalahanya terkait kehamilan Genevia. Namun saat ini harus ditambah kedatangan wanita yang yang pernah menghancurkan perasaan orang terdekatnya.
"Kau benar. Harga diriku memang sudah lama hilang semenjak kejadian itu. Jadi kau tak perlu lagi mempertanyakannya." Tutur Chelsea dengan wajah datar.
"Pergilah. AKu tak akan pernah sudi untuk membantumu." Tegas Evan berlalu pergi ke luar ruangan.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang akan ku lakukan selanjutnya." Tutur Chelsea tersenyum smirk.
Pada akhirnya Chelsea meninggalkan rumah Evan. Namun jangan harap dirinya tak akan mengusik ketenangan hidup Evan dan istrinya.
Apalagi mengetahui pernikahan Evan yang tak lazim. Dirinya merasa akan dengan mudah menghancurkan hubungan keduanya. Hanya ditambah bumbu-bumbu manis saja, supaya mereka goyah dan akhirnya tumbang.
Darimana Chelsea mengetahui hal itu, tentu saja dari informannya. Yang tentu saja adalah orang dalam. Karena jika orang lain yang tak mengenal seluk beluk keluarga Sanders, tentu merasa sulit mendapat informasi yang cukup penting itu.
Sementara Evan sedang menyusul Genevia yan berada di kamar. Dapat dirinya lihat, wanita yang tengah mengandung benihnya itu nampak terlelap.
Setelah selesai mencurahkan perasaannya pada sang adik, Genevia memutuskan untuk berbaring di ranjang. Hingga pada akhirnya, tanpa dirinya sadari Ia jatuh terlelap dalam tidurnya.
Evan menatap ke arah perut Genevia yang masih datar. Rasanya ada getaran aneh menjalar ke dalam relung jiwanya. Terasa kehangatan mengaliri seluruh hatinya.
Semenjak mengetahui kehamilan Genevia, Evan tak pernah lagi merasa ingin dekat dengan Genevia. Entah memang tak ada keinginan lagi, atau Evan memang sengaja menahannya.
Karena setelah mendapatkan penjelasan dari asisten pribadinya. Bahwa kehamilan dapat pula berdampak pada sang ayah dari si jabang bayi, Evan selalu berusaha menekan rasa apapun terkait istrinya.
Bukan apa-apa, Evan memang tak ingin terikat perasaan apapun pada dengan Genevia. Selain hal itu akan memperumit hidupnya, drinya juga tak ingin merasakan perasaan perasaan yang dapat membuat seorang pria begitu bertekuk lutut pada wanita.
Tak ingin menganggu tidur Genevia, Evan memutuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setelahnya, tanpa menganggu ketenangan istrinya, Evan menuju ke arah dapur. Mencari sesuatu yang sejak tadi membuat Genevia sibuk dengannya.
Saat membuka lemari es, akhirnya yang dirinya cari berada di dalamnya. Evan mengeluarkan puding dan cake buatan Genevia dan dia bawa ke meja makan. Dirinya ingin memakan makanan buatan istrinya.
Karena selama ini istrinya juga kerap membuat cemilan-cemilan seperti ini. Namun bedanya, jika biasanya Genevia yang menawarkan dan menyiapkan.
Kali ini, dirinya mengambil dan menyiapkan sendiri. Entah mengapa, sepertinya Evan merindukan makanan buatan Genevia. Ingin memakan lagi dan lagi.
"Kau di sini?"
Evan terkejut mendengar suara yang dia yakini adalah suara Genevia.
"Hem" Evan hanya menjawab dengan deheman saja.
"Apakah enak puding dan cake buatanku?" tanya Genevia.
Karena dua cemilan yang dirinya buat itu merupakan resep baru yang dirinya dapatkan. Jadi Ia takut jika rasanya tak seenak biasanya ia buat.
Padahal Evan terlihat begitu menikmati saat dirinya belum datang. Namun saat ditanya, pria itu sulit sekali untuk menjawab enak atau iya.
Justru meminta dirinya untuk mengecek rasanya sendiri. Genevia kesal di buatnya. Namun tak urung, dirinya pun akhirnya mencicipi makanan buatannya itu.
"Emm lezat sekali" gumam Genevia yang masih mampu terdengar oleh telinga Evan.
Pantas saja Evan begitu menikmati, rupanya memang begitu lezat dan enak. Bukan bermaksud memuji buatannya sendiri, namun Genevia memang merasakan hal itu.
"Apa hubunganmu sebenarnya dengan wanita yang bernama Chelsea itu Van?" tanya Genevia di sela-sela mulutnya yang asik mengunyah.
Dalam keadaan santai seperti ini, Genevia merasa akan lebih baik untuk membahas tentang wanita yang mengaku bernama Chelsea itu.
"Hanya orang tak penting. Tak perlu membahasnya." Tegas Evan yang tak ingin membahas tentang Chelsea.
"Apa dia wanitamu? Kekasihmu? Apa juga karena dia kau tak bisa mencintaiku, menolak kehadiran janin dalam kandungan ku?" tanya Genevia beruntun. Matanya tampak sayu dan sendu.
"Aku tak akan membahas apapun, baik tentang wanita itu ataupun janin dalam kandunganmu." Ujar Evan dengan dingin, dan berlalu meninggalkan ruang makan.
Evan tampak pusing dengan permasalahan yang sedang dirinya hadapi. Rasanya begitu sulit harus memberikan solusi terbaik dengan cara apa.
"Apa sebaiknya, perpisahan itu disegerakan?"gumam Evan seakan bertanya pada dirinya sendiri.
Evan mulai berpikir, apa dengan berpisah dengan Genevia hidupnya akan kembali tenang. Tak akan dituntut untuk mencintai lagi, atau di tuntut untuk menjadi seorang ayah.
Mungkin itu bukan solusi yang tepat, karena perusahannya belum sepenuhnya maju. Dirinya masih membutuhkan kerjasama dengan Tuan Albert untuk melancarkan perkembangan bisnisnya.
Terdengar picik, namun itulah kenyataanya seorang Evan Sanders. Menghalalkan segala cara hanya untuk mencapai tujuannya, tanpa memperdulikan perasaan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Genevia tak tinggal diam dengan berlalunya Evan. Dirinya menyusul Evan yang sedang masuk ke ruangan kerja pria itu. Saat sampai di sana, Genevia dapat melihat sang suami sedang memegangi pelipisnya seperti memijit.
"Van, aku ingin membahas tentang kandunganku. Jika sudah selesai, mari kita bahas tentang wanita itu." Tutur Genevia dengan penekanan.
Kali ini semuanya harus jelas. Genevia memiliki seorang nyawa yang harus selalu dirinya lindungi dan jaga. Jadi setelah perbincangan ini, dirinya akan membuat keputusan yang sekiranya tepat dan terbaik.
Genevia sebenarnya telah merenungkan tentang pernikahannya, setelah dirinya dinyatakan mengandung. Karena kehadiran seorang anak, tentu saja dirinya tak bisa menjalani kehidupan yang tak pasti.
Namun selama ini, Genevia belum cukup berani untuk mengesampingkan perasaan cintanya pada Evan. Jadilah dirinya masih stay dan tak menuntut apapun.
Namun setelah kedatangan wanita yang mengaku Chelsea, Genevia mau tidak mau harus nekat. Ia juga sudah sedikit merenung setelah mencurahkan perasannya pada Genivee. Saat dirinya belum jatuh terlelap.
Genevia berpikir mungkin benar yang wanita itu katakan, Jika hubungannya dan Evan begitu dekat. Namun dirinya tak tahu hubungan apa.
Ketika teringat kejadian saat Keiko datang ke rumah Evan dan menginap. Genevia berpikir, Evan mungkin kembali meminta sepupunya untuk mengelabuhi dirinya.
Namun saat Genevia bertanya pada Keiko tentang semua sepupu Evan, bahkan sampai mengirim foto mereka. Genevia tak menemukan satu pun wajah Chelsea berada di deretan sepupu perempuan Evan.
Next .......