
Keesokan harinya, saat Genevia terbangun dari tidurnya sudah tak mendapati sang suami berada di sampingnya. Jika biasanya dirinya akan bersikap biasa Karena Evan juga terbiasa seperti itu, saat dirinya bangun kesiangan.
Namun entah mengapa, kali ini terasa berbeda. Hatinya merasa sendu kala tak mendapati Evan di sampingnya. Terlebih kini dirinya merasa semakin jauh dari Evan, disebabkan pria itu yang tak menginginkan atas anak yang sedang dirinya kandung.
Seperti biasa, jika sedang tak sibuk Genevia hanya akan bersantai dan melakukan aktifitas yang menurutnya bermanfaat. Seperti saat ini, dirinya sedang membuat cake & puding untuk cemilan. Yang pastinya terjamin sehat dan menggunakan bahan-bahan alami.
Sebelum merealisasikan rencana yang akan dirinya lakukan, Genevia terlebih dahulu membersihkan dirinya. Meski bangun siang, seolah menjadi gaya hidupnya. Namun Genevia adalah orang yang menyukai kebersihan.
"Sayang, hari ini pertama kalinya kita akan membuat cemilan bersama." Tuturnya dengan mengusap lembut perutnya.
Baginya hari ini adalah hari pertama dirinya dan janin dalam kandungannya beraktivitas bersama. Karena meskipun kehadirannya sudah ada sebulan yang lalu, namun dirinya baru mengetahuinya kemarin.
Jadi menurutnya, ini adalah aktivitas pertama yang mereka lakukan bersama. Hingga Genevia rasanya lebih bersemangat melakukan kegiatannya, karena merasa di temani oleh calon anaknya.
Setelah selama satu setengah jam, Genevia berkutat membuat cake. Saat ini cake yang dirinya buat telah jadi. Genevia tampak puas memandangi hasil karyanya, dirinya merasa ini lebih sempurna dibandingkan biasanya.
"Cake kita sudah jadi, Sayang. Selanjutnya kita akan membuat puding. Nanti kita akan berikan pada Daddy oke." Ujar Genevia yang memang merasa senang berbicara pada janinnya.
Genevia melanjutkan kegiatan membuat puding. Seperti saat membuat cake, Genevia begitu menikmati. Akli ini pun juga sama, dirinya begitu menikmati memproses pembuatan puding untuk cemilan. Dan nantinya akan dirinya berikan pada suaminya, Evan.
Saat tengah asik membuat puding, Genevia dikejutkan dengan kehadiran seorang pelayan.
"Maaf Nona, di luar ada seorang wanita yang mencari Nona dan Tuan." Ujar pelayan itu dengan sopan.
"Biarkan dia menunggu di ruang tamu." Titah Genevia mengizinkan pelayan untuk menyuruh seseorang itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Baik Nona." Jawabnya sebelum berlalu pergi dari hadapan Genevia.
Genevia tampak ingin segera menemui tamu itu. Selain karena merasa penasaran, Genevia juga takut jika tamu yang mencari dirinya dan Evan memiliki suatu urusan penting.
Namun karena pembuatan puding yang prosesnya tinggal sedikit lagi, membuatnya menunda sejenak supaya menyelesaikan pembuatan puding itu. Hingga beberapa menit, akhirnya pudingnya telah jadi, dan segera Ia masukkan dalam lemari es.
Saat akan meninggalkan dapur, Genevia terkejut melihat seorang wanita dengan rambut pirang menatap dirinya dengan tersenyum. Senyuman yang sulit untuk Genevia artikan.
Genevia yakin wanita itu lah yang merupakan tamu, yang sedang mencari dirinya. "Bukankah kau harus menunggu di ruang tamu?" tanya Genevia dengan tajam.
Dirinya merasa tamu itu sungguh tak sopan. Padahal tuan rumah saja memintanya untuk menunggu di ruang tamu.
Meski mendapati pertanyaan dan tatapan tajam dari Genevia. Namun wanita itu masih terdiam dengan masih mengulas senyuman. Tak berniat mengeluarkan suaranya sama sekali.
Menyaksikan hal itu, Genevia mengenal nafasnya. Dirinya harus pintar-pintar mengontrol emosi, supaya tak membahayakan janinnya.
"Apa tujuan mu kemari? Aku sama sekali tak mengenalmu." Ucap Genevia.
Next .......