
"Kak aku akan periksa kandungan. Kakak temani aku ya?"
Terdengar permintaan Genivee yang meminta Genevia untuk menemani ke rumah sakit.
"Apa David tidak ada Vee?" Genevia merasa aneh dengan permintaan adiknya itu. Bukankah ada David yang harusnya menemani kembarannya itu.
"Dia ada, tapi aku juga ingin kakak juga menemani ku. Sepertinya baby ku merindukan mu kak" Jelas Genivee yang memang merasa rindu dengan Genevia.
Genevia tersenyum kala mendengar keponakannya merindukan dirinya. Terdengar manis sekali di telinganya.
"Baiklah, aku akan temani. Tapi saat ini aku ada urusan di kampus. Jadi tak bisa jika pagi ini." Ucap Genevia menjelaskan kesibukannya pagi ini.
"Kalau begitu, nanti sore saja kita periksa kandungannya ... iyakan sayang?."
Ujar Genivee dari seberang sana. Juga terdengar sedang meminta persetujuan David, yang sepertinya ada di dekat Genivee.
"Baiklah, aku matikan" Genevia memutus sambungan, dan kembali melakukan kendaraannya setelah meletakkan ponselnya.
Genevia sampai di kampus. Dengan membawa keperluannya, Ia melangkahkan kakinya untuk memasuki area kampus. Namun langkahnya terhenti kala, seseorang terlihat sedang menghalangi langkahnya.
"Kau?" Ujar Genevia. Dia tahu siapa orang tersebut, namun tidak begitu mengenal.
"Iya, aku Frans sahabat suamimu." Ucapnya.
"Apa tujuanmu menghalangi langkahku?" Tanya Genevia merasa tidak memiliki urusan apapun dengan pria yang mengaku sahabat suaminya.
Frans yang ingin menyampaikan sesuatu kepada Genevia dan mencari sebuah informasi. Memutuskan mengajak Genevia mencari tempat yang lebih nyaman dan leluasa untuk mereka bicara.
"Aku tak bisa, ada urusan yang harus segera aku urus."
Bukan Genevia tak mau untuk berbicara dan ikut bersama Frans. Namun dirinya benar-benar harus mengurus urusannya sesegera mungkin.
Karena jika tidak, maka waktu kelulusannya yang akan menjadi taruhan. Dan Genevia tak ingin hal itu terjadi padanya.
Saudara kembarnya sudah tertunda, maka dirinya tak boleh tertunda juga. Apalagi karena hal-hal yang sepele.
"Baiklah, setelah urusan mu selesai kita akan bicara. Kabari aku jika sudah selesai."
Frans memberikan nomornya pada Genevia. Merekapun bertukar nomor. Kemudian Frans berlalu meninggalkan Genevia yang juga ikut berlalu.
Genevia segera menuju tempat tujuannya semula. Dan mulai menyelesaikan segala urusannya yang sedikit banyaknya membebani dirinya.
Setelah cukup lama menyelesaikan segala urusannya, kini Genevia dapat bernafas dengan lega. Dirinya hanya tinggal menunggu waktu kelulusannya setelah dirinya melalui banyak rintangan akhir-akhir ini.
Dibebani dengan banyaknya urusan terkait perkuliahan, ditambah lagi beban batin yang ia pikul pada hubungan pernikahannya.
Membuat Genevia hendak menyerah dan berputus asa sebenarnya. Namun semua itu tertutupi oleh sikapnya yang keras dan tegar, jiwa yang mandiri dan berani.
Hingga kini untuk urusan perkuliahan semuanya telah usia. Ia merasa lega meskipun tidak sepenuhnya. Karena kini, dirinya akan lebih fokus pada hubungan pernikahannya bersama Evan.
Entah harus kembali berusaha meluluhkan hati suaminya, atau memutuskan hal lainnya yang akan membebaskan dirinya dari beban.
Namun terlepas dari bagaimana keputusan yang akan dirinya ambil terkait pernikahannya. Genevia sangat mencintai Evan. Bagaimanapun sikap dan cara Evan memperlakukan dirinya, Genevia tetap mencintai suaminya.
Genevia menghembuskan nafas pelan. Rupanya ia merasa sedikit lelah setelah menyelesaikan urusannya. Apalagi tadi ia belum sarapan, membuatnya sedikit lemas.
Ingin pergi ke tempat makan, namun ia urungkan niatnya kala mengingat janjinya yang akan bertemu dengan Frans.
...🥀🥀🥀...
Dirinya akan menunggu beberapa menit sebelum klien pentingnya datang ke perusahaannya untuk mengadakan rapat yang tentu saja penting.
Evan teringat dengan kelakuannya akhir-akhir ini, tepatnya tiga minggu terakhir. Dirinya yang senantiasa ingin selalu di dekat Genevia. Sekali ingin menempel dan merasa tak nyaman bila jauh dari Genevia.
Evan juga tak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Karena selama ini Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Jika berdekatan dengan Genevia bukan hal yang salah, terlebih membuat dirinya nyaman. Tentu saja hal akan dirinya lakukan.
Tanpa memikirkan apapun dampak atas apa yang dirinya lakukan. Entah membuat Genevia menjadi baper padanya. Atau membuat istrinya itu merasa dirinya telah mulai tumbuh perasaan.
Evan tak memikirkan semua hal itu. Baginya kepentingan dirinya lebih penting di atas segalanya.
Ketukan pintu yang terdengar, membuyarkan segala lamunan Evan mengenai istrinya dan kelakuannya akhir-akhir ini. Rupanya asisten pribadinya yang terlihat menyembul dari pintu masuk.
Dan kini berjalan melangkah menghadap pada dirinya, untuk memberitahu kedatangan klien penting yang sejak tadi ia tunggu.
Evan bersama asisten pribadinya melangkah menuju ruang rapat yang berada di perusahaannya. Dengan Evan yang berjalan di depan, sedangkan sang asisten berjalan di belakangnya.
Mereka kemudian memasuki ruang rapat yang tertutup. Terlihat seorang pria dan wanita, yang Ia yakini di wanita yang menjadi kliennya. Sedangkan si pria pastilah asisten atau sekretarisnya.
"Hai" Sapa wanita itu kepada Evan.
"Kau?!" Evan terkejut kala wanita itu mengarahkan wajah kepadanya. Wanita yang tidak asing baginya, Ia mengenal wanita itu.
"Apa kabar Evan Sanders?" Ujar is wanita dengan tersenyum menyeringai.
"Lebih baik kita mulai !" Titah Evan memberi perintah.
Meski dirinya penasaran dengan keberadaan wanita itu di perusahaannya, namun Ia berusaha untuk tetap profesional.
Setelah rapat ini selesai barulah dirinya akan menyala tujuan wanita itu datang ke negara ini. Terlebih menjadi partner bisnisnya.
Akhirnya rapat yang mereka adakan selesai setelah memakan waktu yang lumayan lama.
"Tinggalkan kami !" Perintah Evan kepada asisten pribadinya dan sekretaris si wanita.
Sekretaris si wanita itu menatap pada atasannya. Bermaksud menanyakan haruskah ia keluar sesuai perintah Tuan Evan tau tidak harus menurutinya. Dan si wanita memberikan anggukan, mengisyaratkan dirinya akan baik-baik saja.
Mereka pun keluar dari ruangan rapat setelah mendapat perintah atasannya. Meninggalkan kedua insan berbeda jenis itu di ruangan yang baru mereka gunakan untuk kesepakatan bisnis.
"Apa tujuanmu datang ke sini?" Tanya Evan dengan aura dinginnya.
Tanpa berbasa-basi ia segera menanyakan keperluan wanita itu datang ke negara ini, terlebih ke perusahaannya.
"Rupanya kau masih cukup mengenalku Evan Sanders?" Ujar wanita itu dengan menyeringai.
"Tentu saja, siapapun tak akan lupa dengan perbuatan mu yang begitu menjijikan." Tegas Evan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ya baiklah, aku akui aku salah dengan segala perbuatan ku. Tapi sekarang aku telah berubah, bukan lagi orang yang sama." Jelasnya dengan tegas.
Ia ingin menegaskan bahwa dirinya memang telah berubah dan ingin memperbaiki semuanya.
"Apa kau pikir aku bodoh Chelsea Johnson?!" Ucap Evan penuh penekanan. Terlihat bibirnya menyeringai meremehkan ucapan wanita yang bernama Chelsea itu.
"Kau memang tak pernah berubah. Masih teguh dan keras kepala seperti dulu." Ujar wanita itu tersenyum tipis. Akan sedikit sulit untuk meyakinkan Evan dengan perubahan dirinya.
Next .......
🤗🤗🤗