
Genevia dan Keiko sampai di rumah Evan. Mereka segera masuk ke dalam rumah karena merasa penasaran dengan pria yang menjadi tamu Evan. Karena tak pernah selama ini, Evan mengizinkan siapapun kecuali keluarganya untuk menginap di rumahnya.
Dan benar saja, saat sampai di ruang keluarga mereka disambut dengan kehadiran seorang pria tampan yang tercengang menatap salah satu dari mereka.
"Kau!" Teriak kedua manusia itu. Tepatnya Frans dan Keiko.
"Jadi kau tamu yang dimaksud sepupuku?" tanya Keiko dengan menatap sebal pria di depannya.
Genevia merasa bingung dengan situasi yang terjadi. Bagaimana kedua orang yang baru bertemu itu tampak saling mengenal. Daripada pusing mendengarkan kedua sejoli yang sepertinya akan perang debat, Genevia memilih ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Genevia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang biasanya ia tiduri bersama suaminya. Memikirkan hal itu, dirinya menjadi rindu kepada Evan dan segala sentuhan pria tampan yang sayangnya begitu dingin dan datar.
Daripada sibuk memikirkan Evan yang pastinya sedang sibuk bekerja saat ini, Genevia segera memejamkan mata untuk mengistirahatkan diri. Dirinya sama sekali tak peduli dengan apa yang terjadi kepada tamu Evan dan Keiko, karena tubuhnya benar-benar lelah meminta untuk diistirahatkan.
Sore hari pun tiba, Evan tampak tengah melangkah memasuki kamarnya. Saat tak mendapati Frans di dalam rumahnya, dirinya tampak biasa saja. Karena Frans memang mengatakan akan meninggalkan rumahnya sebelum sore hari.
Saat akan menaiki tangga, Evan dihadang oleh keberadaan Keiko yang berdiri didepannya dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia hanya menatap datar sepupunya itu. Dan yang berucap apapun, Evan mencoba melangkah di sisi lainnya.
Namun Keiko juga ikut menggeser posisi berdirinya, supaya menghalangi langkah Evan. Evan mengenal nafas. "Katakan." Titahnya pada Keiko, ia tahu Keiko ingin menyampaikan sesuatu.
"Pria yang berada di sini, benar adalah temanmu?" Keiko menanyakan kebenarannya.
Jika benar begitu, bagaimana mungkin dunia terasa begitu sempit. Saat pria yang telah membuatnya kesal karena menabraknya waktu itu rupanya adalah orang terdekat dari sepupunya. Takdir apalagi ini, Keiko merasa akhir-akhir ini segala hal mulai tampak tak terduga.
Terlebih saat ini, dirinya harus dipertemukan lagi dengan pria itu. Entah mengapa rasa kesalnya saat itu masih tetap membekas.
Evan yang mendengar pertanyaan Keiko mengernyitkan keningnya. "Kau mengenalnya?" dari gelagat Keiko, sepertinya sepupunya itu pernah bertemu atau mengenal sahabatnya.
"No, di hanya pria menyebalkan yang pernah membuat pakaianku kotor." Gerutu Keiko menjelaskan pada Evan.
Mendengar perkataan Keiko, alisnya nampak menukik. Otaknya mulai bekerja mengumpul kan segala memori yang terkait dengan kejadian yang Keiko alami.
That right, Keiko rupanya wanita yang pernah membuat pria yang merupakan sahabatnya itu terpesona. Evan menyeringai, seperti menemukan sebuah jawaban atas teka-teki rumit.
"Jadi, apa masalahnya?" tanya Evan menerka pemikiran Keiko. Karena menurutnya tak ada hal yang seharusnya dipermasalahkan, kecuali jika Keiko memang ingin mencari masalah.
"Hei kau ini. Aku ini sepupumu, jadi kau harus memberi pelajaran kepada orang yang telah membuat sepupumu yang cantik ini kesal." Jelas Keiko dengan geram.
"Aku baru tahu, jika kau mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu." Ucap Evan dengan ekspresi datarnya.
"Ak ... aku hah sudahlah, tak ada gunanya bicara denganmu." Gerutu Keiko pada Evan, ia pun berlalu pergi.
Sedangkan Evan hanya menatap datar Keiko yang telah berlalu, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Evan membuka pintu kamarnya, yang netranya tangkap pertama kali adalah Genevia yang sedang nyaman terlelap. Evan hanya melihatnya sekejap tanpa ekspresi, hingga berlaku untuk memberikan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Evan memakai pakaian santai. Ia kembali menatap istrinya yang masih asik terlelap. Dapat ia tangkap sebuah rasa lelah pada wajah cantik itu.
Evan mendekati Genevia yang sedang berbaring terlelap di atas ranjang. Saat tubuhnya hendak menunduk ke arah Genevia, dirinya dikejutkan dengan lenguhan yang berasal dari bibir manis yang menjadi candunya.
Sedangkan Genevia yang mulai mengerjapkan mata, mulai membuka lebar matanya perlahan. "Ah!" Dirinya dibuat terkejut dengan kehadiran Evan yang tengah menatapnya dengan tanpa ekspresi.
"Van ... mengapa kau ada di sini?" tanya Genevia terbata.
"Ini kamarku." Ujar Evan telak.
Benar juga jika ini kamarnya, jadi dirinya telah salah bertanya. "Maksudku, kenapa kau menatapku saat aku tidur?" tanya Genevia yang telah yakin dengan pertanyaannya yang tepat.
"Bukankah fungsi mata untuk menatap dan melihat?" Ujar Evan lagi tanpa ekspresi.
Genevia yang mendengarnya menghela nafas berat, ia merasa frustasi. Mengapa dua malam tak bertemu suaminya, sifatnya jadi sedikit menyebalkan begini. Daripada menanggapi Evan yang tak akan kunjung selesai, Genevia memilih untuk membersihkan diri saja.
"Aku akan membersihkan diri" ujarnya memberitahu Evan. Dan pria itu hanya diam tanpa kata, kemudian melangkah pergi ke luar kamar.
Genevia yang sedang membersihkan diri masih teringat dengan jawaban-jawaban yang Evan berikan kepadanya. Suaminya tampak tidak seperti biasanya, menjadi terlihat menyebalkan.
Setelah membersihkan diri, Genevia segera bergabung untuk makan malam. Dirinya tak sempat melayani mengambilkan makan Evan, karena sudah terlambat. Mereka telah memulai memakan menu yang disediakan malam ini.
Tak apa, hari esok masih ada untuk melayani suaminya. Untuk saat ini, dirinya memang merasa tubuhnya begitu letih dan lelah. Perjalanan yang lumayan jauh, membuat tubuhnya terasa remuk.
Jika biasanya dirinya kuat dan tidak kelelahan, untuk saat ini terasa berbeda. Sepertinya benar apa yang pernah ia dengar, jika tekanan batin lebih membuat tubuh merasa lelah dibanding tekanan fisik. Mungkin karena dirinya juga tersiksa rindu kepada suaminya, atau karena rasa lelah hatinya untuk memperjuangkan perasaannya.
"Kei, kau mengenal pria tadi?" Genevia yang yang tadi bersikap tak peduli karena rasa lelahnya. Ki i merasa penasaran dengan hubungan Keiko dengan pria yang merupakan tamu Evan.
"Tidak, dia hanya pria menyebalkan yang harusnya tak bertemu aku." Jelas Keiko dengan perasaan kesal. Entah mengapa kembali mengingat pria itu, dirinya jadi merasa kesal.
Genevia hanya dapat mengerutkan keningnya mendengar jawaban Keiko. Namun ia tak ayal mengangguk, tak ingin terlalu ingin tahu. Karena dirinya ingin cepat kembali merebahkan dirinya lagi.
Setelah mereka makan malam, Genevia maupun Keiko kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Evan justru memasuki ruang kerjanya. Masih ada pekerjaan yang harus dirinya selesaikan.
Genevia yang mengetahui Evan masih sibuk mengerjakan pekerjaannya, memilih untuk kembali tidur. Tubuhnya benar-benar merasa lelah hari ini.
"Rasanya lelah sekali." Selang beberapa detik, Genevia pun nampak terlelap.
Sedangkan Evan masih sibuk berkutat dengan laptopnya. Dirinya nampak fokus dan penuh ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaannya. Aura pebisnis nya tampak terpancar saat mode serius seperti saat ini.
Dua jam berlalu
"Huh." Akhirnya Evan telah menyelesaikan pekerjaan nya.
Evan melangkah ke kamarnya untuk segera mengistirahatkan diri. Saat sampai di dalam kamar, ia mengamati Genevia yang terlelap kelelahan. Jika tadi dirinya gagal mendekati Genevia, karena istrinya itu terbangun.
Kali ini Evan berhasil mendekatkan dirinya di hadapan Genevia. Tangan Evan terulur menyentuh rambut Genevia untuk merapikannya. Supaya tak menutupi pandangannya melihat kecantikan wanita yang merupakan istrinya itu.
NEXT .......