WINDING LOVE

WINDING LOVE
TIDAK MENGENAL



Tanpa Genevia sadari sejak ia mulai mengisi perutnya dengan lahap, seseorang telah memperhatikannya sejak awal.


Tanpa merasa kehadiran seseorang sama sekali Genevia memutuskan untuk kembali untuk merebahkan diri di kamarnya. Namun tanpa ia diduga seseorang mengikutinya dari belakang.


Saat ia telah merebahkan diri tanpa mengunci pintu kamarnya, seseorang ikut masuk ke dalam kamarnya dan mendekati dirinya ke arah ranjang. Genevia yang masih sangat mengantuk tidak menyadari sama sekali akan kehadiran seseorang.


Namun ia menjadi sadar sepenuhnya kala ada yang mencoba merubah posisinya menjadi telentang. Rupanya Evan yang melakukannya, ia menatap heran suaminya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia masih terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia ingin melihat apa yang akan Evan lakukan.


Hingga akhirnya ia tak bisa lagi diam kala Evan mulai naik ke atas tubuhnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanyanya menatap tajam Evan.


Evan mendekatkan bibirnya pada telinga Genevia, “Aku menginginkanmu” ujarnya tanpa dosa.


Dan terjadilah hal yang Evan inginkan sejak tadi. Setiap melihat Genevia dengan piyama idurnya yang terlihat begitu terbuka, Evan tak pernah bisa mengendalikan dirinya.


Meski Genevia masih merasa kesal kepada Evan, namun ia tidak dapat memungkiri bahwa ia terhanyut dalam permainan suaminya. Ia pun ikut menikmati kegiatan mereka.


Saat Evan melihat Genevia melewati ruang keluarga, Evan sempat terkejut dengan kehadiran Genevia. Ditambah penampilan Genevia yang setiap akan tidur selalu mengganti pakaiannya dengan piyama yang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya.


...🥀🥀🥀...


Pagi harinya, saat Genevia terbangun dari tidurnya yang nyenyak ia tak lagi melihat suaminya berada di sampingnya. Dirinya juga tidak tahu pasti kapan Evan meninggalkan kamarnya.


Ia mengalihkan pandangannya pada jam yang berada di dinding kamarnya, jarum yang menunjukkan diangka sembilan. Wajar Evan sudah tidak ada di sampingnya, karena pastilah pria itu sudah berada di kantor saat ini.


Seperti hari biasanya, ia akan ke kampus untuk menyelessaikan segera urusan pendidikannya. Namun hari ini sedikit berbeda karena Genevia dapat pulang lebih awal. Dosen yang seharusnya mengisi mata kuliah di jam sore berhalangan untuk hadir.


Melangkahkan kakinya perlahan ke tempat di mana mobilnya berada. Genevia teringat kejadian semalam, saat ia bercinta dengan Evan. Pria itu selalu bersikap lembut saat mereka melakukannya, hal yang membuat ia selalu terbuai dan terhanyut dalam pesona pria itu.


Tanpa terasa kakinya telah membawanya sampai di mana mobilnya berada. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan universitasnya. Namun pikirannya masih melayang memikirkan hal hal tentang Evan.


Jika pria itu selalu berlaku lembut dan manis tidak hanya saat mereka bercinta, pastilah ia benar benar akan jatuh dalam pesona Evan.


Namun meskipun begitu, ia mengakui sepertinya dirinya mulai tertarik kepada Evan. Meski kemarin ia telah dibuat kesal, kini semuanya sirna setelah kegiatan mereka tadi malam. Perlakuan lembut dan kehangatan yang Evan berikan mampu meredupkan kekesalan dalam hatinya.


Terlalu banyak memikirkan hal-hal yang menggetarkan hatinya Genevia tiba-tiba merasa lapar. Saat ia melewati sebuah rumah makan, ia memutuskan untuk mengisi perutnya. Ia memilih duduk di meja yang paling belakang.


Ia menunggu menu yang telah dipesannya sembari memainkan ponsel dalam genggamannya. Karena mulai merasa bosan, ia menyusuri setiap sisi rumah makan itu dengan matanya.


Mencari di mana keberadaan pelayan yang akan menyiapkan menu pesanannya. Saat asik mengamati setiap sudutnya, tanpa sengaja pandangannya bertubrukan dengan seorang pria yang menatapnya dengan intens.


Pria yang hampir seharian ia pikirkan. Lumayan lama mereka bersitatap, tiba-tiba terputus kala rekan yang berada di samping suaminya mengutarakan sebuah pertanyaan.


“Apa anda mengenal gadis itu Tuan?” ujar seorang pria yang merupakan asisten pribadi Evan.


Semenjak tuannya menatap gadis itu, ia merasa heran. Tidak pernah sekalipun tuannya memperhatikan seorang wanita, terlebih Evan begitu lekat menatapnya seolah mengenal dengan baik sang wanita.


Evan segera mengalihkan tatapannya kala mendengar pertanyaan dari pria di sampingnya.


“Tidak” ia menjawab singkat pertanyaan asistennya itu.


Dan hal itu juga dapat Genevia dengar dengan jelas karena mereka sedang melewati meja yang ia tempati. Kesal? Jelas saja ia merasa kesal, namun ia berusaha meredam kekesalannya.


Hal ini memang harus terjadi, Evan Sander tidak satupun orang yang tidak mengenalnya. Maka jika publik mengetahui dirinya memiliki hubungan dengan Evan Sander, sudah pasti selain identitas aslinya yang terbongkar nyawanya juga ikut terancam.


NEXT .......