
Mereka telah sampai di rumah Albert, tentu saja di sambut hangat oleh kedua orangtua Genevia. Perjalanan mereka yang lumayan jauh, membuat mereka kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat. Mereka tidur bersama di kamar Genevia, atas perintah kedua orangtua Genevia.
Esok harinya, Evan sudah tidak ada di sampingnya pastilah pria itu telah berangkat ke kantor. Rupanya benar bahwa suaminya telah berangkat ke kantor saat diberitahu oleh sang Mommy.
Hari ini Genevia sedang cuti, maka ia tidak perlu untuk pergi ke kampus. Ia memutuskan sarapan setelah keluar dari kamar, kebiasaan yang telah tertanam dalam dirinya. Kemudian ia membersihkan diri dan ikut berbincang bersama kedua orangtuanya di rooftop rumah mereka.
Setelah lumayan lama mereka saling bertukar kerinduan dan perbincangan, akhirnya Genevia menyinggung tentang masalah pernikahannya dengan Evan. Ia mengungkapkan semua kegundahannya untuk bersikap acuh dan tidak peduli kepada Evan tanpa terlewat sedikitpun.
Namun ia tidak menceritakan sikap Evan karena pasti kedua orangtuanya juga tahu bagaiman sikap dinginnya keturunan Sanders itu.
"Dad, Mom aku takut jatuh hati pada Evan. Meski dia terkenal dingin, namun aku sering mendapat perlakuan hangatnya. Bagaimana aku mampu menahan diriku untuk tidak jatuh cinta padanya?" Genevia mengutarakan keluh kesahnya kepada kedua orangtuanya.
Tuan Albert dan Nyonya Albert yang mendengar perkataan putrinya justru tersenyum lebar. Mereka merasa senang jika putrinya mulai menyukai Evan. Juga Evan yang sepertinya telah memperlakukan putrinya dengan baik.
"Mengapa takut untuk jatuh cinta? bukankah Evan suamimu, lalu apa yang membuatmu takut?" Tuan Albert menanyakan alasan putrinya.
Mereka adalah suami istri, jadi wajar jika mereka akan saling jatuh cinta pada akhirnya. Justru hak itu yang Tuan Albert inginkan, Evan dan Genevia saling jatuh cinta.
"Bukankah Daddy melarang jika hal itu terjadi Dad? Bukankah jika itu terjadi, maka akan mengancam keselamatanku dan bisnis Daddy?." Genevia mencoba menemukan hal yang membuatnya penasaran.
Tuan Albert tertawa mendengar penuturan putrinya itu. Kemudian ia menjelaskan semuanya secara detail tanpa terlewatkan sedikitpun. Bagiamana pernikahan mereka harus bertahan selamanya, dan untuk apa pernikahan mereka sebenarnya harus ada.
"Apa Evan mengetahui semua hal ini Dad?" Genevia bertanya pada sng Daddy.
"Evan akan mengetahuinya jika kalian sudah saling jatuh cinta. Karena jika belum, ia tidak akan pernah memahami apa yang sedang Daddy khawatirkan." Jelasnya membuat Genevia mengerti.
Evan tidak akan mungkin bersedia melindungi putrinya, jika belum merasa jatuh hati pada putrinya. Maka biarlah ini ia rahasiakan sementara, sampai Evan dapat membuka hatinya untuk Genevia.
Setelah perbincangan mereka, Genevia kembali ke kamarnya. Hari ini ia merasa bahagia, karena tak perlu lagi bersikap acuh kepada Evan. Rupanya ia diperbolehkan untuk jatuh cinta pada suaminya itu.
Namun tiba-tiba ia memikirkan Evan, apakah seorang Evan Sanders dapat membuka hati untuknya? Yang ia tahu Evan Sanders tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Hal itu menandakan kemungkinan besar, suaminya tidak pernah membuka hati untuk seorang wanita.
Namun apapun yang terjadi dengan suaminya selama ini, Genevia tidak peduli. Dirinya yang akan membuat Evan jatuh cinta dan bertekuk lutut kepadanya.
Kini ia jadi merasa menyesal telah bersikap acuh kepada Evan. Namun ia tidak akan melakukan hal itu lagi, dirinya akan bersikap hangat sebagaimana biasanya.
...🍇🍇🍇...
Di tempat yang berbeda...
Hal itu membuat Genivee berpikir Steven memang benar-benar pergi meninggalkan dirinya juga bayinya.
Ia merasa Steven begitu tega padanya. Bagaimana mungkin kekasih yang selama ini selalu bersama dalam suka dan duka tiba-tiba meninggalkan begitu saja tanpa kata.
Genivee kecewa, sangat kecewa kepada Steven. Namun tidak dapat dipungkiri ia sangat mencintai kekasihnya itu. Begitu sakit saat Steven meninggalkannya apalagi dalam keadaan sedang mengandung bayi pria itu.
Meskipun begitu Genivee masih berpikir positif. Ia masih ingin menunggu Steven pulang kepadanya. Meski harapan itu sangatlah kecil, mengingat bagaimana tidak terimanya Steven mengetahui kehamilannya.
Namun Genivee percaya segala kemungkinan akan terjadi. Bisa saja Steven berubah pikiran dan kembali padanya juga menerima bayi mereka. Genivee menguraikan hatinya untuk tidak berpikir hal-hal yang membuatnya perih.
Namun setelah sebulan lamanya ia menunggu, rupanya Steven memang tidak lagi datang kepadanya. Kini harapannya mulai pupus, hatinya yang sakit kini bertambah teramat sakit.
Genivee ingin menyalahkan bayinya atas hal yang terjadi padanya saat ini. Karena kehadiran bayinya, Steven meninggalkannya. Pria yang ia cintai seolah membuang dirinya bagaikan sampah.
Namun semua itu tidak ia lakukan. Kehadiran bayinya atas semua kesalahannya dan Steven. Mereka yang membuat bayi tidak berdosa ini hadir di waktu yang salah.
Kini ia mulai memikirkan kedua orangtuanya. Betapa kecewanya mereka jika mengetahui hal ini, bagaimana caranya ia menjelaskan semua ini kepada Daddy dan Mommynya.
Pertama ia telah melanggar aturan keluarganya, hal itu saja sudah pasti akan membuat mereka kecewa. Ditambah lagi dengan keadaannya yang tengah mengandung, dan pria yang harusnya bertanggung jawab justru pergi meninggalkannya.
Genivee tak mampu membayangkan betapa kecewanya kedua orangtuanya kepada dirinya. Tidak sanggup memikirkan semua hal itu, Genivee memutuskan untuk beristirahat sejenak di ranjangnya yang nampak berantakan.
Sebulan terakhir ini, Genivee tidak melakukan apapun selain mengisi perut nya demi nutrisi bayinya. Ia merasa tidak sanggup lagi menjalani kehidupan selanjutnya. Namun ia harus tetap bertahan demi bayi dalam kandungannya.
Sungguh hatinya tak dapat berbohong bahwa ia sangat-sangat merindukan Steven, kekasihnya. Mungkin juga karena bawaan bayinya. Namun ia tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu keajaiban, Steven datang dan memberikan nya pelukan hangat.
Sedangkan seorang pria yang tengah Genivee rindukan kini tengah berada di sebuah apartemen. Sebulan ini Steven mengurung dirinya di dalam apartemen miliknya.
Setelah ia pergi dari tempat yang ia tinggali bersama Genivee, Steven memutuskan pulang ke apartemennya yang tidak satupun orang mengetahuinya termasuk Genivee.
Steven sadar sepenuhnya bahwa ia telah meninggalkan Genivee dan bayi mereka yang masih dalam kandungan. Kini dirinya dilanda rasa khawatir dan gelisah. Bukan karena telah meninggalkan Genivee namun karena hal lain.
Sejak mengetahui kenyataan bahwa Genivee hamil, Steven tidak berani untuk keluar dari apartemennya. Ia hanya mengurung diri di apartemen, dan memesan keperluannya secara online. Jika ia membutuhkan sesuatu.
Berbeda dengan yang Genivee rasakan, Steven tidak merasakan kerinduan sama sekali kepada Genivee. Semua perasaan dalam hatinya dominasi perasaan khawatir dan gelisah saja. Jadi tak sempat untuk merasakan kerinduan dan perasaan lainnya.
NEXT .......