
Genivee yang mendengar perkataan Chelsea merasa tak percaya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap tajam penuh selidik pada Chelsea.
"Apa perkataanmu dapat dipercaya?" tanya Genivee yang tampak sulit untuk percaya.
"Percaya atau tidak adalah urusanmu. Karena untuk saat ini aku hanya ingin berbicara serius dengan David, apa kau mengizinkan?" tanya Chelsea dengan baik-baik.
Genivee mengalihkan pandangannya pada David. "Tanyalah pada orang yang bersangkutan." Jawab Genivee yang meminta David untuk menjawab.
Namun dalam hatinya sudah mewanti-wanti. Jika sampai David bersedia, maka Genivee tak segan akan marah dan mendiami suaminya itu sampai semampunya.
Karena seharusnya sebagai prianya, David tak akan mengizinkan siapapun wanita terlebih mantan kekasihnya untuk hanya berbicara berdua saja dengannya.
"Baiklah." Ujar David yang membuat Genivee menatap tajam David. "Namun Genivee juga akan ikut serta." Lanjut David yang membuat Genivee laga, sedangkan Chelsea mengangguk pelan.
Genivee ditarik David untuk kembali duduk di sampingnya. Mereka akan mendengarkan apa yang akan Chelsea sampaikan pada David.
"Awalnya kedatanganku untuk memperbaiki hubungan kita yang telah hancur di masa lalu Dav. Tapi saat melihat bahwa ada seseorang yang telah mengisi hatimu dan berada di sampingmu. Membuat aku mengurungkan niat. Aku hanya tak ingin terbelenggu dalam kesalahan di masa lalu. Maka dari itu, aku meminta maaf atas semua kesalahanku dulu padamu." Jelas Chelsea yang didengar oleh Genivee dan DAvid.
"Tolong juga sampaikan permintaan maafku pada Evan dan Genevia. Karena kesalahpahaman yang aku buat, membuat hubungan mereka terjadi kekacauan. Karena malam ini aku harus segera kembali ke Jepang." Lanjut Chelsea meminta maaf.
"Jika tujuanmu pada David, lalu mengapa kau harus mengusik hubungan Evan dan kakakku?" tanya Genivee menggebu, tak terima rasanya dengan alasan wanita itu yang tampak kurang tepat.
"Aku tak ada niat untuk mengacaukan hubungan mereka. Tapi Keiko memintaku melakukan itu, untuk membuat Evan menyadari perasaannya pada Genevia. Dan satu-satunya cara bagiku hanya dengan membuat Genevia pergi dari kehidupan Evan." Tutur Chelsea menjelaskan.
David tampak tak terkejut, karena Keiko juga sempat meminta hal itu padanya. Namun dirinya menolak pada saat itu. Sementara Genivee merasa terkejut, tak pernah terpikir Keiko yang mengirim wanita itu untuk mengacaukan pernikahan kakaknya. Meski maksudnya baik.
"Lalu mengapa kalia bisa datang bersamaan ke tempat ini?" tanya Genivee yang masih belum percaya.
Chelsea menghembuskan nafas lelah. Karena rupanya wanita yang baru Ia ketahui namanya itu masih belum percaya padanya. "Aku sengaja mengikuti Evan, karena Keiko mengatakan Genevia sedang bersama David saat ini. Dan rupanya benar, hingga terjadi kesalahpahaman yang memang kalian rencanakan." Ujar Chelsea menjelaskan kembali.
...*******...
Sementara di lain tempat, tepatnya di kamar Genevia. Saat ini keduanya tengah berbaring di ranjang, dengan Evan yang terus berusaha memeluk Genevia dari arah belakang. Terlihat Evan yang masih berusaha membuat istrinya memaafkan dirinya.
Sejak masuk ke dalam kamar, Genevia tak mengucapkan satu patah katapun. Hingga membuat Evan menjadi kelimpungan, bukannya tadi Genevia sudah memaafkan dirinya. Namun mengapa saat ini justru jadi begini.
"Aku masih kecewa padamu Van. Kau bermain dengan wanita lain di belakangku saat aku sedang mengandung anakmu. Lalu kini kau juga mengajak serta dia untuk mencari ku di sini. Jika memang kau mencintainya, tak perlu mengatakan kau mencintaiku ketika di hadapan mereka." Tutur Genevia mengutarakan unek-uneknya.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Genevia mengeluarkan suaranya. Meski hanya kalimat ketus, namun Evan tetap merasa lega. Daripada istrinya mendiami dirinya, rasanya tak enak.
Kini Evan menjadi sadar dengan apa yang selama ini dirinya lakukan pada Genevia. Sikapnya yang acuh dan dingin, pastilah selama ini membuat Genevia tersiksa setiap saat.
Apalagi saat dirinya tak menerima kehamilan istrinya, pasti Genevia merasa begitu sakit saat itu. Meski dirinya sudah menyakiti wanitanya, namun saat dirinya terluka. Wanitanya lah yang selalu ada untuknya dan memberi kehangatan.
"Saat aku memaafkan mu di dalam, hanya karena tak ingin David dan adikku akan semakin membuatmu terluka. Jadi jangan salah paham dengan tindakan yang sudah ku lakukan Van." Lanjut Genevia.
Evan tak akan menyerah untuk mendapatkan maaf dari Genevia. Wanita yang saat ini mengandung benihnya, juga wanita yang sangat Ia cintai.
"Menginap di apartemen seorang wanita, terlebih saat ini kau membawanya ke sini. Apa mungkin tak ada hubungan jika seperti itu?" Ketus Genevia yang bertambah emosi.
Entah mengapa setiap mengingat hal itu, Genevia senantiasa merasa emosi pada Evan maupun Chelsea. Ia begitu cemburu dengan hal itu, karena baginya Evan hanya miliknya.
Namun dirinya sempat memutuskan pergi, karena merasa Evan tak mencintainya. Maka Genevia merelakan Evan asal Evan bahagia, dan dirinya tak lagi menjadi beban bagi prianya.
Tapi setelah mendengar jika Evan mencintainya, rasanya hati kecilnya secara spontan mengklaim Evan hanya miliknya. Evan adalah prianya.
"Sayang, aku tak pernah menginap di apartment siapapun. Perkataannya hanyalah kebohongan untuk membuatmu meninggalkanku." Jelas Evan.
Genevia tersipu mendengar panggilan sayang yang Evan berikan padanya. Namun tetap saja, rasa kecewanya masih bersarang di hati.
"Apa David belum mengatakan bahwa wanita itu mantan kekasihnya?" tanya Evan penasaran.
Genevia terkejut mendengar fakta itu. Karena selama ini, David dan Genivee tak ada yang buka mulut terkait hal ini. Hingga dirinya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Evan.
Evan menghela nafas pelan. "Dia mengancam akan mengusik hubungan kita, jika aku tak mau membantunya mencari keberadaan David."
"Lalu kau tak mengabulkan keinginannya?" tanya Genevia menebak.
Melihat pada akhirnya dirinya yang memutuskan pergi karena perkataan yang Chelsea katakan. Sepertinya memang Evan tak bersedia membantu wanita itu.
"Tentu saja tidak, karena aku tak ingin dia mengusik kehidupan David lagi." Jawab Evan.
"Tak ingin dia mengusik David, tapi kau justru merelakan pernikahan kita yang diusik." Ketus Genevia yang entah mengapa selalu merasa kesal mendengar jawaban Evan.
"Ya, dan aku menyesalinya. Sungguh, aku tak ada hubungan apapun dengan wanita itu. Bahkan dia datang ke tempat ini bukan aku yang membawanya. Tapi dia mengikuti." Tutur Evan berusaha meyakinkan Genevia.
"Sebaiknya lanjutkan besok saja, aku lelah Van." Tutur Genevia memejamkan matanya.
Genevia tak berbohong, karena matanya tampak mulai sulit untuk terbuka lebar. Pikirannya pun sama, tak lagi bisa mencerna ucapan-ucapan yang keluar dari bibir Evan.
"Tidurlah Sayang, dan anak Daddy." Gumam Evan mencium kening Genevia dan perut istrinya, tempat di mana calon anaknya bersemayam.
Setelahnya Evan kembali merengkuh tubuh istrinya dan mengeratkan rengkuhannya. Seakan tak ingin saat dirinya terbangun, tak lagi mendapati Genevia berada di sampingnya.
Evan begitu takut, Genevia akan pergi lagi dari sisinya. Mengingat bahwa istrinya belum bisa memaafkan kesalahannya.
Next .......