
"hanya perlu sedikit rasa iba mu. Dan aku butuh kau memaafkan kesalahanku. Simple bukan?" ujar Chelsea dengan menatap Evan.
Evan tersenyum sinis mendengar perkataan wanita di depannya itu. Betapa tidak tahu dirinya, datang dan meminta sesuatu padanya. "Pergilah, dan buang jauh-jauh harapanmu itu." Ujar Evan mengusir Chelsea.
"Baiklah jika kau menolak. Kita lihat apa yang bisa aku lakukan." Tantang Chelsea menyeringai kepada Evan.
Dan wanita cantik itu berlalu pergi meninggalkan Evan yang masih terdiam di ruang rapat. Evan hanya dapat melihat kepergian wanita itu dengan tatapan datar. Ia mencoba menerka apa yang akan wanita itu lakukan.
Tak ingin memikirkan hal-hal yang tidak penting, Evan kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk. Dirinya mendudukkan diri di kursi kerjanya.
Tiba-tiba ia merasa ingin bersama istrinya, jika biasanya mereka tak pernah berpisah sedetikpun. Karena dirinya akan selalu membuat Genevia menempel padanya. Kali ini, ia tak memaksakan diri. Karena dirinya maupun Genevia sedang ada urusan penting masing-masing.
Pada akhirnya Evan mencoba mengenyahkan segala pikiran tentang istrinya. Karena bagaimanapun saat ini dirinya harus tetap fokus pada pekerjaannya. Lagi pula di rumah mereka juga akan bertemu, hanya menunggu beberapa jam saja.
...🥀🥀🥀...
Genevia yang telah sampai di kediaman Albert, segera berangkat ke rumah sakit bersama Genivee dan David. Meski ia merasa permintaan Genivee ini terdengar manja, namun Genevia dengan senang hati akan melakukan permintaan kembarannya. Yang kemungkinan adalah ngidam Genivee.
Meski sebenarnya Genivee aslinya memiliki sifat manja, namun bisa jadi permintaan ini memang dari keponakannya yang masih dalam kandungan. Apapun itu, Genevia dengan senang hati akan menuruti kemauan adik satu-satunya.
"Mereka terlihat lucu sekali." Ujar Genevia yang ikut menyaksikan tampilan di layar.
Usia kandungan Genivee telah memasuki bulan ke enam. Bentuk janin itu mulai terlihat, dan terlihat lucu di pandangan mereka.
"Benar Kak. Dan Kakak harus segera menyusul." Genivee tersenyum menatap kakaknya yang turut bahagia melihat anaknya.
Genevia hanya tersenyum mendengar penuturan Genivee. Ia tak tahu apakah Tuhan akan memberikan sebuah anugerah itu. Karena pernikahan yang kini tengah ia jalani pun belum menunjukkan perubahan ke arah lebih baik.
Justru ia takut anaknya akan kekurangan kasih sayang jika hubungan mereka masih belum berjalan baik.
Setelah memeriksa kandungan Genivee, mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah rumah makan untuk mengisi perut. Terlebih Genevia memang belum sarapan sejak pagi, merasa sangat lapar.
Namun saat mereka tengah menunju meja yang telah mereka pilih, hal tak terduga terjadi. Genevia yang berjalan di samping Genivee tiba-tiba terjatuh secara tiba-tiba. Tentu hal itu membuat mereka panik.
"Kak!" teriak Genivee yang terkejut melihat kakaknya yang jatuh pingsan.
Dengan perasaan panik dan khawatir Genivee meminta David untuk menggendong kakaknya.
"Sayang, ayo bawa kakakku ke rumah sakit." Ujar nya dengan panik.
David segera menggendong Genevia dan membawanya kembali ke dalam mobil. Mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu untuk menuju rumah sakit.
"Kak bangunlah..." Genivee tak dapat menahan airmatanya sejak tadi.
Ikatan batin yang mereka miliki, membuat Genivee merasa begitu sedih menyaksikan kakaknya yang tak sadarkan diri di pangkuannya.
"Sayang jangan menangis, ingat baby kita. Kau tak boleh terlalu merasa tertekan Sayang."
David menjadi ikut khawatir dengan kondisi istrinya yang tengah hamil. Karena Genivee terlihat begitu sedih, dan itu tak baik untuk kandungannya.
Mendengar ucapan suaminya, Genivee berusaha mengontrol dirinya. Benar yang dikatakan David, dirinya tak boleh terlalu sedih yang akan membahayakan kesehatan bayinya.
"Genevia pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir Sayang, mereka sedang menanganinya."
David menenangkan istrinya, seraya mengusap lembut punggung istrinya. Tak lupa memberikan kecupan berulang di kening Genivee untuk membuat istrinya lebih tenang.
Tak lama kemudian, seorang tenaga kesehatan keluar dari ruang pemeriksaan Genevia. Genevia segera bangkit untuk menanyakan kondisi kakaknya. Dengan diikuti David di belakangnya, yang juga sama ingin tahu.
Dokter itu menjelaskan hasil pemeriksaannya, apa yang terjadi kepada Genevia. Dan hasil pemeriksaannya Genevia terlalu kelelahan. Di tambah kurangnya nutrisi yang membuatnya jatuh pingsan karena kehabisan tenaga.
Pasangan itu mendengarkan dengan seksama. Namun penjelasan yang tenaga medis itu yang ketiga membuat kedua pasangan suami-istri itu terkejut.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam untuk melihat kondisi Genevia. Genivee mendekati ranjang pasien dan duduk tepat di samping kakaknya. Bibirnya mengulas senyuman ke arah Genevia yang masih belum siuman.
Sementara David memilih duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu, yang letaknya sedikit jauh dari ranjang pasien. Melihat istrinya yang tersenyum menatap Genevia, ia kemudian teringat bahwa istrinya belum makan apapun siang ini.
Ia mendekati Genivee dan menyentuh pelan pundak istrinya. Genivee menoleh menatap David yang datang mendekatinya.
"Mau makan apa? kita belum sempat makan siang" ujar David menatap lekat Genivee.
"Aku belum lapar, Dav. Nanti saja aku makan bersama kak Nivea." Tolak Genivee yang merasa belum tenang jika Genevia belum tersadar.
"Tapi baby tentunya kelaparan di dalam sini." David mencoba membujuk dengan mengatasnamakan bayi mereka. Tangannya mengusap lembut perut Genivee.
Mendengar ucapan suaminya yang menyinggung bayinya, Genivee pun luluh seketika. Ia mengangguk bersedia untuk makan. Dan untuk menunya terserah David yang memilih, asalkan suaminya juga yang nanti membantu nya makan.
David telah kembali setelah keluar beberapa saat. Dan membawakan makanan untuk mereka. Sesuai yang istrinya inginkan, David menyuapkan makanan untuk Genivee sampai tandas. Bahkan dengan penuh perhatian, mengelap sudut bibir Genivee yang nampak bekas makanan.
Setelah mereka selesai makan pun, Genevia belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Membuat Genivee kembali khawatir dengan kondisi kakaknya.
Dirinya ingin memanggil tenaga medis untuk memeriksa, namun tindakannya terhenti kala mendengar gumaman kecil yang mereka yakini suara Genevia.
"Kak kau sadar." Genivee langsung memeluk erat kakaknya itu.
Ia begitu khawatir dengan kondisi kakaknya. Kini ia lega karena kakaknya telah siuman.
"Aku sakit apa Vee?" tanya Genevia yang merasa penasaran.
Tak biasanya dirinya akan tumbang seperti ini. Sejak kecil, dirinya tak pernah sekalipun pingsan. Namun kali ini, justru hal tak terduga terjadi padanya.
Genivee yang ditanya hanya tersenyum lebar memandang wajah Genevia. "Aku akan memiliki keponakan di sini." Ujar Genivee menyentuh perut Genevia seraya tersenyum lebar.
Deg
"Be .. benarkah? aku hamil?" Genevia terkejut mendengar berita ini.
Dirinya tak pernah menduga hal ini akan terjadi dalam waktu dekat. Namun tak dapat dipungkiri, hatinya merasa terharu dan bahagia. Ia akan memiliki seorang baby.
Next .......