WINDING LOVE

WINDING LOVE
SEBENARNYA



Sementara David dan Genivee masih tercengang dengan apa yang baru saja mereka dengar dari bibir Evan. Selama keduanya mengenal Evan, tak sekalipun mendengar Evan berkata sepanjang itu.


Terlebih pria yang sedang sengaja dibuat salah paham itu mengatakan permintaan maaf, yang terdengar begitu tulus. Bukan seperti Evan yang selama ini mereka tahu, pria dingin dengan segala sikap angkuhnya.


Namun beberapa detik selanjutnya, Genivee dan David pun tersadar dari rasa terkejutnya. Dan kini mereka merasa ikut bahagia menyaksikan kehangatan Evan dan Genevia yang sedang melepas rindu.


Berbeda dengan mereka, seorang wanita cantik menatap ke arah Evan dan Genevia yang tengah saling memeluk. Dia adalah Chelsea yang juga ikut merasa bahagia, karena rupanya yang terjadi hanyalah sebuah kesalahpahaman semata.


Meski tak dapat dipungkiri sudut hatinya merasa terluka dan perih, atas kenyataan bahwa mantan kekasihnya sudah memiliki wanita yang dicintai. Namun Chelsea berusaha untuk menerima. David juga berhak bahagia.


Flashback on


Chelsea yang diminta pergi oleh Evan, segera meninggalkan kamar itu. Air matanya senantiasa mengiringi langkah kakinya yang yang membawanya pergi menjauh dari tempat itu.


Karena hatinya yang sedang merasa kacau, membuat Chelsea tak menyadari bahwa bukannya keluar dari bangunan megah itu. Justru malah melangkah ke area yang ada di belakang bangunan.


Hingga dirinya berhenti di samping sebuah kolam renang. Chelsea terduduk menangis pedih. Sampai suara seseorang mengejutkan dirinya.


"Kau siapa?!" teriak Genevia yang juga merasa terkejut.


Genevia yang awalnya sedang tertidur lelap, entah mengapa merasa tidurnya terusik. Saat terbangun dirinya memutuskan untuk kembali memejamkan matanya, namun terasa sulit.


Hingga akhirnya Genevia memutuskan untuk keluar dari kamarnya, sekedar untuk mencari udara segar. Siapa tahu dengan mendapat ketenangan dari pemandangan malam, akan membuatnya kembali mengantuk.


Nanum saat sudah melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Genevia dikejutkan dengan suara seorang wanita yang menangis. Awalnya Ia pikir Genivee yang sedang menangis.


Namun saat diperhatikan, bentuk tubuhnya sangat berbeda dengan Genivee. Ia melihat wanita itu mendudukkan diri di pinggiran kolam, terdengar jelas isak tangisnya.


Hingga Genevia memutuskan untuk menegur wanita itu. Tak peduli benar-benar manusia, atau makhluk lainnya.


Chelsea yang terkejut sontak membalikkan badannya dan segera bangkit. Betapa terkejut keduanya kala melihat wajah masing-masing.


Jika genevia terkejut karena wanita yang Ia ketahui adalah wanita yang membuatnya pergi. Chelsea terkejut karena melihat Genevia berada di sini. Bukankah wanita di depannya ini seharusnya masih di dalam.


"Kau! Apa yang kau lakukan di sini? Bagaiman kau tahu aku di sini?" tanya Genevia beruntun.


Chelsea masih terdiam melihat respon Genevia terhadapnya. Jika dilihat dari respon Genevia, sepertinya Genevia yang ada di dalam berbeda dengan yang saat ini ada di hadapannya ini.


Kemudian Chelsea kembali menatap pakaian yang Genevia kenakan. Seingatnya, Genevia tadi tak mengenakan pakaian itu. Melihat respon wanita di hadapannya saat melihatnya, kini Chelsea mengetahui jawabannya.


"Kau Genevia yang sebenarnya?" tanya Chelsea menyelidik, untuk lebih meyakinkan perkiraannya.


"Tentu saja." Ketus Genevia. "Apa maksudmu ...?" perkataan Genevia terpotong kala pikirannya tertuju pada Genivee.


"Apa yang kau lakukan pada adikku!?" tanya Genevia merasa marah, sungguh dirinya begitu khawatir dengan keadaan Genivee.


"Mereka sedang berbicara dengan Evan?" Jawab Chelsea apa adanya.


"Apa?!!" Tanpa berucap apapun lagi, Genevia segera berlari untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Chelsea mengikuti Genevia yang berada di depannya. Hingga dirinya berhenti kala melihat Genevia terdiam mematung menyaksikan perdebatan tiga orang yang sedang berada di kamar di mana tempat mereka dipertemukan.


Genevia tak jadi melanjutkan langkahnya kala mendengar Evan yang sedang menyatakan perasaan kepadanya. Tak dapat dipungkiri hatinya merasa bahagia, meski masih ada serpihan kekecewaan dan luka atas apa yang Evan perbuat selama ini.


Genevia masih ingin berdiam diri, guna mendengarkan apa yang akan Evan katakan selanjutnya. Hingga sampailah pada perkataan Evan yang mengatakan menyesal dan meminta maaf atas perbuatannya.


Bahkan Genevia juga dapat mendengar suara Evan yang tal lagi baik-baik saja. Dapat genevia rasakan, ada kesedihan dan kekecewaan pada nada bicara suaminya itu.


Genevia luluh pada ucapan Evan yang teramat tulus, hingga dirinya tak lagi sanggup untuk membiarkan suaminya itu semakin terluka. Karena Genevia tahu, apa yang terjadi saat ini pasti akal-akalan dari Genivee dan David.


Saat Evan telah selesai mengatakan apa yang ingin Ia katakan, Genevia melangkahkan kakinya untuk berdiri tepat di belakang suami dinginnya itu. Hingga saat Evan berbalik, Genevia tersenyum dan mengatakan kebenarannya.


Genevia dapat melihat dengan jelas Evan meneteskan air matanya, yang membuat batinnya terasa tersayat. Hingga saat Evan merengkuh tubuhnya dengan erat, Genevia membalasnya dengan tak kalah erat.


Flashback off


Setelah tragedi pelukan kerinduan Genevia dan Evan, saat ini mereka berlima sedang berkumpul di ruang keluarga di bangunan megah itu. Ya berlima dengan Chelsea yang juga ikut serta.


Di sini mereka akan menjelaskan dan klarifikasi dengan kesalahpahaman yang mereka buat. Evan yang duduk bersama Genevia terlihat terus saja memeluk erat pinggang wanitanya. Sama sekali tak ada niat untuk melepaskannya.


"Besok saja kita bahas." Titah Evan kembali datar.


Nampaknya Evan hanya akan cair di hadapan Genevia, tidak untuk di depan orang lain. Evan tak ingin melewatkan waktunya untuk melepas rindu bersama sang istri tercinta.


Setelah merasa di prank oleh kakak sulungnya, Evan tak ingin lagi menyia-nyiakan waktu sedetikpun bersama Genevia. Karena merasa kehilangan Genevia begitu sakit dan menyesakkan.


"Kita ke kamar oke." Ujar Evan berujar berusaha dengan nada ramah pada Genevia.


Meski terasa sedikit sulit karena melampaui batas kebiasaanya, namun demi wanita yang dicintainya. Evan akan selalu berusaha untuk membuat Genevia nyaman berada di sisinya. Hingga wanitanya tak akan ada keinginan pergi lagi.


"Baiklah." Jawab Genevia mengikuti Evan. Mereka melangkahkan kakinya menuju kamar Genevia yang berada di halaman belakang bangunan ini.


Kini hanya tertinggal David, Genivee, dan Chelsea. Mereka tampak masih sama-sama terdiam. Hingga tindakan Chelsea yang memberikan kotak P3K pada David membuat Genivee menjadi panas.


"Ck" hanya decakan yang terdengar dari bibir Genivee. Karena setelahnya, dirinya bangkit dan siap meninggalkan pasangan mantan kekasih yang mungkin saja ingin bernostalgia.


"Apa kau mengizinkan jika aku yang mengobati lukanya?" tanya Chelsea sebelum Genivee beranjak pergi.


"Silahkan, mungkin kalian ingin bernostalgia." Ketus Genivee.


"Sayang ..." panggil David yang tak ingin Genivee beranjak. Namun untuk mencegahnya, David merasa tak sanggup. TUbuhnya terasa remuk dan sakit karena pukulan yang Evan berikan.


Chelsea menghela nafasnya pelan. "Aku tak ingin merusak hubungan kalian, karena aku tau kau berhak atas David." Tegas Chelsea yang mengatakan kebenarannya.


Meski awalnya ingin kembali memperbaiki hubungan dengan David, namun setelah melihat David telah memiliki seorang wanita yang dicintai. Chelsea merasa tak pantas jika menghancurkan kebahagiaan mereka.


Next .......