WINDING LOVE

WINDING LOVE
LARANGAN IKUT CAMPUR



Setelah mendengar semua cerita yang Genevia sampaikan pada dirinya. Genivee kembali ke kamar menyusul David yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.


Suaminya tampak sibuk bekerja menggunakan laptopnya. Memang selama ini, David bekerja untuk perusahaan game nya dengan hanya sebuah laptop. Tanpa harus sibuk datang ke tempat di mana perusahaannya berada.


Selama segala urusan terkait pekerjaan dapat David selesaikan lewat online, pria itu tak tak perlu susah payah untuk datang ke perusahaan. Terlebih, identitasnya sebagai pemilik perusahaan itu belum diketahui siapapun kecuali keluarganya.


"Sayang, bolehkah saat ini aku membantu kak Nivea?" rengek Genivee merangkul lengan David dengan manja.


Kali ini dirinya berusaha untuk merayu suaminya. Karena setelah David menceritakan semua seluk-beluk pernikahan kakaknya dan Evan. Suaminya itu melarang dirinya, saat akan bertindak dan melakukan sesuatu.


Alasannya karena ingin memberikan kebebasan bagi kedua pasangan itu untuk menyelesaikan permasalah mereka. Dirinya juga ingin Evan segera menghargai keberadaan Genevia di sisinya. Terlebih ada seorang anak yang akan hadir diantara mereka.


David yang sedang sibuk dengan laptopnya, menjeda kegiatannya sejenak untuk menanggapi istrinya.


"Sayang, kita akan turun tangan jika keadaan memang sudah tak dapat dikondisikan. Tentu kedua orangtua ku juga turut serta membantu jika hal itu terjadi." Jelas David dengan lembut, mengusap pucuk kepala Genivee dengan sayang.


Genivee yang mendengar jawaban suaminya, mulai mengerucut bibir dengan wajah di tekuk. "Jadi kau masih tak mengizinkan aku?" tanyanya.


Melihat Genivee sepertinya tak terima dengan yang dirinya katakan. David segera mematikan laptop dan fokus pada istrinya. Perlahan dirinya membawa Genivee untuk masuk dalam dekapannya.


David mendapatkan penolakan dari istrinya, namun David tak menyerah tetap memaksa Genivee untuk dirinya dekap. Dan pada akhirnya Genivee tak dapat menolak untuk masuk dalam dekapannya lagi.


David dengan lembut mengusap punggung Genivee untuk membuat istrinya tenang. Supaya Genivee dapat memahami dan mengerti penjelasan yang akan dirinya sampaikan.


"Untuk saat ini biarkan Nivea menyelesaikan masalah pernikahannya. Bukankah kau juga harus percaya padanya, jika Nivea dapat menyelesaikan masalah ini?" tutur David pada Genivee.


Genivee mengangguk dalam dekapan David. DIrinya membenarkan apa yang David katakan. Selama ini, kakaknya memang bukanlah seseorang yang lemah. Meski ada sisi manja seperti dirinya, namun kakaknya jauh lebih dewasa di bandingkan dirinya.


Terlebih Genevia merupakan pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah pada suatu masalah. "Sepertinya Kak Nivea juga tak ingin aku ikut campur." Ujar Genivee sendu.


Rasanya Genivee merasa ikut sakit mendengar semua kenyataan pernikahan kakaknya yang tidak mendapat kebahagiaan. Dirinya merasa bersalah karena membiarkan kakaknya merasa menderita sendirian.


Namun dirinya tak dapat berbuat banyak. Selain David yang melarang dirinya, sepertinya Genevia juga tak ingin dirinya ikut campur dalam masalah mereka. Karena kakaknya itu seolah enggan untuk menceritakan secara detail semua yang terjadi padanya selama ini.


"Itu benar, Genevia adalah wanita yang tangguh. Tentu dia tak ingin membebani siapapun dalam masalahnya. Berbeda dengan adiknya yang super manja." Ucap David dengan menggoda Genivee di ujung kalimatnya.


Genivee menatap tajam suaminya, perlahan dirinya berusaha melepaskan dekapan David namun tetap tak bisa. "Jadi kau lebih menyukai kepribadian kakakku dibandingkan aku?"


Dan David hanya menanggapi dengan kekehan. Melihat Genivee yang marah dan merajuk, entah mengapa membuat dirinya senang. Karena istrinya terlihat begitu lucu dalam pandangannya.


"Jika begitu, lebih baik kita bertukar. Kau bersama Kak Nevia dan aku bersama Evan?" tutur Genivee berniat menggoda balik David. Dengan masih dalam dekapan David.


Karena nyatanya, Genivee juga tak akan pernah dapat berpaling dari seorang David Sanders. Karena hatinya telah terikat pada David , suaminya seorang, ayah dari bayi-bayinya yang sedang dirinya kandung.


Namun berbeda dengan apa yang Genivee pikirkan. David menanggapi pernyataan Genivee dengan tidak main-main. Rahangnya tampak mengetat, dan matanya menatap tajam Genivee yang juga sedang menatapnya.


Dirinya lupa bagaimana tingkat cemburu David yang tinggi. Padahal dirinya hanya main-main, namun suaminya sudah terlihat mulai merasa murka.


Bukannya dari awal, David sendiri yang mengajaknya untuk saling menggoda. Dengan memuji kakaknya dan membandingkan dengan dirinya.


"Sayang, berapa kali aku bilang. Jangan pernah mengatakan atau hanya membayangkan pria lain di sini." Ujar David dengan suara rendah & berat, dengan menatap tajam Genivee. Tangannya mengusap dahi Genivee dengan lembut.


Membuat Genivee yang sedang diusap oleh David merasa gugup juga khawatir. Dirinya tahu kemana arah yang David akan lakukan setelah ini. Apalagi jika bukan melakukan kegiatan panas bersama.


"Dav, aku ingin bicara serius saat ini." Ketus Genivee dengan perasaan kesal yang menggumpal.


Mereka telah melewati kegiatan panas selama kurang lebih satu jam. Dan saat ini, Genivee benar-benar ingin membahas permasalahan kakaknya yang sempat tertunda. Hanya karena tingkat kecemburuan David yang tak terdefinisikan itu.


"Baiklah apa yang ingin kau katakan, Sayang?" tanya David semakin memeluk erat pinggang Genivee yang berada di bawah selimut.


Posisi mereka yang saling berhadapan, membuat David dapat dengan leluasa memandangi wajah cantik istrinya.


"Saat permasalahannya tak lagi dapat dikondisikan, maksudmu saat kondisi seperti apa?" tutur Genivee merasa tak paham dengan dengan maksud perkataan David.


David terdiam sejenak, memikirkan kalimat yang akan mudah dipahami oleh Genivee. "Mungkin saat Genevia memutuskan untuk menyerah karena tetap tak pernah mendapatkan hati Evan."


Genivee terkejut mendengar penuturan David. "Apa maksudmu ada kemungkinan, Evan tak akan mencintai kakakku?" tanyanya merasa mulai khawatir.


"Hak itu bisa saja terjadi, mengingat Evan yang selama ini tak pernah mengenal wanita. Mungkin Evan akan merasa sulit mencintai Genevia, atau ..." David tak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Atau apa Dav?" tanya Genivee yang merasa penasaran dengan kalimat yang tak jadi David ucapkan.


David mengecup dahi Genivee sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Atau bisa saja Evan telah mencintai Genevia. Namun tak menyadari perasaannya."


David sempat ragu melanjutkan kalimatnya. Karena dirinya tak begitu yakin dengan pemikirannya ini. Dirinya merasa kemungkinan ini begitu kecil akan terjadi ada Evan. Karena setahunya, adiknya itu tak pernah tersentuh dengan yang namanya cinta.


"Benarkah itu mungkin terjadi? aku berharap hal itu yang memang terjadi Dav." Tutur Genivee sedih menatap David.


"Iya Sayang, aku juga berharap hal yang sama." Jawab David.


"Dav, apa benar kedua orangtua mu akan membantu hubungan mereka?" tanyanya penasaran.


David mengangguk sebagai jawaban. "Tentu saja, bukankah yang membuat kita menyatu juga karena sedikit bantuan mereka." Tutur David tersenyum tipis.


David merasa bersyukur karena orangtuanya ikut andil dalam menyembunyikan Genivee. Jika tidak, belum tentu dirinya akan menemukan dan mendapatkan Genivee kembali. Seperti saat ini.


Next .......