WINDING LOVE

WINDING LOVE
KEMESRAAN



Sepasang suami istri tengah saling memadu kasih dengan mesranya. Mereka adalah Genevia dan Evan. Saat ini mereka baru saja melakukan kegiatan panas yang memakan cukup banyak waktu.


Setelah hari di mana Evan menggoda Genevia, setelah itu hubungan keduanya semakin mesra dan hangat. Bahkan rasa kecewa Genevia tampak pudar seiring kebersamaan mereka.


Wanita cantik yang tengah mengandung benih keturunan Sanders itu. Kini mulai dapat menerima prianya dan segala sikap di masa lalu yang sempat menorehkan luka dalam batinnya.


Lagi pula, Evan juga sudah membuktikan bagaimana ketulusan dan perasaan nya yang tak main-main padanya. Ditambah lagi ada calon anak mereka yang pastinya membutuhkan peran dirinya maupun Evan sebagai ayah dari janin nya.


Setelah mengarungi samudera kenikmatan bersama, Genevia dan Evan tampak berbaring dengan saling memeluk satu sama lain. Seolah mereka adalah sebuah perangko yang tak akan bisa dipisahkan oleh apapun.


"Apa di sini sudah tak ada lagi rasa kecewa padaku?' tanya Evan menunjuk dada Genevia.


Memastikan bahwa wanitanya sudah tak menyimpan perasaan kecewa lagi pada dirinya. Sampai detik ini Evan masih terus saja menyesali sikap buruknya dimasa lalu. Sikapnya yang terlalu dingin dan acuh pada wanitanya.


Genevia menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya ikut menyentuk dadanya yang sedang di sentuh oleh suaminya. Hingga tangan Genevia bertumpu di atas tangan Evan.


"No. Tak ada lagi rasa kecewa itu." Jawab Genevia yang membuat Evan lega, hingga pria itu menerbitkan senyumnya. Mengecup pelan pelipis Genevia yang berada dalam pelukannya.


Evan yang tengah memeluk Genevia di dalam selimut tebal, merendahkan tubuhnya. Netranya menatap perut Genevia, tempat di mana calon anaknya berada.


"Apa dia bisa merasakan kehadiran ku?" tanya Evan sembari mendekatkan wajahnya guna mencium perut wanitanya.


Genevia mengangkat tangan kanannya untuk memberikan usapan lembut di surai legam suaminya. "Tentu saja, dia bahkan bisa merasakan kecupan dari Daddy nya." Ujar Genevia menanggapi.


Evan yang mendengar jawaban dari istrinya merasa sangat bahagia. Hingga tampaklah sebuah senyuman dari kedua bibirnya. Menggambarkan bahwa pria itu sedang merasa bahagia.


Tanpa berlama-lama Evan kembali mendaratkan bibirnya di perut wanitanya yang tampak terbuka. Tanpa sehelai benang yang menutupi perut ramping Genevia yang kini terlihat sedikit buncit.


Kecupan yang Evan berikan di perut Genevia tak hanya sekali, namun berulang kali hingga membuat sang empunya merasa kegelian.


"Van stop, geli" Tutur Genevia dengan terbata karena menahan sensasi geli yang disebabkan oleh bibir Evan.


Mendengar keluhan Genevia, bukannya menghentikan aksinya mengecupi perut istrinya. Evan justru semakin gencar mencium perut Genevia sampai membuat Genevia tak tahan lagi menahan rasa geli.


"Van!?' Jerit Genevia yang sudah tak tahan.


"Apa sayang?" tanya Evan menatap lekat wajah istrinya.


Genevia menjadi salah tingkah saat Evan menatap lekat dirinya. Karena Evan bukan hanya menatap nya lekat, namun Evan juga menatap dirinya dengan tatapan tak biasa. Bisa dikatakan tatapan menggoda. Terlebih panggilan sayang yang Evan sematkan padanya.


Menyadari bahwa wanitanya tengah malu-malu dan salah tingkah, Evan semakin ingin menggoda istrinya. Dengan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, Evan perlahan menghembuskan nafas hangatnya di area pipi halus Genevia.


Jelas hal itu membuat Genevia meremang. Bau mint yang berasal dari nafas Evan menambah kesan cool dalam diri Evan, pada pandangan Genevia.


Sementara di tempat yang lain, tampak David dan Genivee tengah sibuk untuk mempersiapkan kepulangan mereka ke kediaman Albert. Setelah dirasa penenang diri Genevia sudah cukup, David dan Evan memutuskan untuk membawa istri mereka untuk lebih dekat dengan kedua mertuanya.


"Sayang, biarkan aku saja." Ujar David kala melihat Genivee yang nampak ikut mengemasi barang-barang mereka.


Padahal sejak tadi David sudah melarang istirnya itu. Namun masih saja Genivee tetap tak mendengarkan dan masih saja membantunya berkemas.


"Aku masih kuat Dav, lagipula baby juga tak masalah dengan kegiatan yang aku lakukan." Jelas Genivee merasa kuat melakukan hal-hal ringan itu.


"Ck sulit sekali berbicara dengan ibu hamil." Tutur David pelan supaya Genivee tak mendengar gumaman nya.


Namun entah mengapa pendengaran Genivee sepertinya juga lebih sensitif. Sehingga wanita yang tengah mengandung calon baby mereka itu dapat mendengar dengan jelas apa yang David katakan.


"Apa yang kau katakan Dav?" tanya Genivee untuk memastikan pendengarannya.


Bukan merasa salah mendengar apa yang David katakan, namun Genivee hanya ingin memastikan dan meminta suaminya untuk mengulangi perkataan nya itu.


"No sayang. Aku tidak mengatakan apapun." Kilah David merasa was-was jika sampai Genivee mendengar apa yang dirinya katakan pada wanita yang berstatus istrinya itu.


Genivee yang malas untuk berdebat dengan David pun hanya berdecak dan meninggalkan pekerjaan yang sejak tadi dirinya lakukan. Meninggalkan David yang tengah menatap was-was padanya.


Melihat Genivee yang rupanya melangkah menjauh meninggalkan tempat mereka berkemas. David segera menyusul Istrinya itu. David paham dengan apa yang tengah terjadi pada istrinya.


Mood wanita yang tengah hamil sepertinya memang cukup sulit untuk dikendalikan. David merasa lelah sendiri sebenarnya. Namun perasaannya sayang dan cintanya pada Genivee mengalahkan segala rasa lelahnya itu.


"Sayang, bukankah hari ini kita harus cek kandungan? Bagaiman kalau sekarang kita bersiap-siap untuk ke rumah sakit?" Tawar David kepada istrinya, supaya Genivee tak lagi merasa badmood lagi.


David yang telah berhasil menyusul Genivee yang rupanya pergi ke arah taman. Mendekati Genivee, David memeluk istrinya itu dari arah punggung wanita itu. Menawarkan untuk melakukan pemeriksaan kandungan sembari mengusap lembut perut buncit Genivee.


Dan benar saja, usaha yang dilakukan oleh David berbuah hasil. Genivee terbuai dengan sentuhan lembut dan ajakan David untuk memeriksakan kandungannya. "Hm baiklah, tapi bersama kakak ku juga." Pinta Genivee yang ingin bersama saudara kembar nya.


"Baiklah, aku akan mengajak mereka. Evan juga pasti akan bahagia, ini kali pertama adikku itu menemani Genevia untuk periksa kehamilan." Jelas David yang menyetujui permintaan dari istrinya.


Dan pasangan suami-istri itu terus melanjutkan adegan keromantisan mereka di taman itu. Didukung dengan pemandangan taman yang indah dihiasi oleh berbagai macam bunga yang juga indah. Momen mereka tampak lebih hidup dan terasa hangat serta menenangkan hati keduanya.


"Apa Daddy sudah memberikan kabar untuk pengungkapan identitas kita?" tanya Genivee disela-sela kemesraan mereka.


"Belum Sayang, sepertinya Daddy masih mempersiapkan segala keamanan dan keadaannya." Jelas David berdasarkan pemikirannya.


Next .......