WINDING LOVE

WINDING LOVE
MENGUNGKAP KEHAMILAN



Hari semakin siang, matahari telah menampakkan sinarnya untuk menyambut alam semesta yang terasa padat terisi oleh populasi manusia.


Genevia yang ikut terlelap di samping Evan tidak merasakan sama sekali, suaminya yang telah terbangun dan pergi membersihkan diri.


Namun saat terdengar pintu bathroom terbuka, bersamaan dengan Genevia yang membuka matanya. Genevia memandangi Evan tanpa berkedip yang menurutnya tampak terlihat seksi dengan hanya menggunakan sehelai benang sampai batas pinggang.


Sementara Evan yang tengah dipandangi istrinya, tidak menyadari kegiatan Genevia yang sedang asik memandangi dirinya.


Genevia yang masih asik dengan kegiatannya, seketika tersadar saat nama Chelsea terlintas di kepalanya. Yang membuat dirinya segera bangkit dari posisi berbaringnya, menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya.


Genevia menghampiri Evan yang saat ini tengah berada di walk in closet untuk memakai pakaian yang kemarin dirinya persiapkan.


Genevia melangkahkan kakinya untuk memasuki walk in closet, tempat di mana suaminya kini berada. Tanpa mengetuk atau memberi tanda, Genevia menyelonong masuk ke dalam ruangan. Sontak dirinya dan Evan sama-sama merasa terkejut.


Jika Genevia terkejut melihat tubuh telanjang Evan, Evan justru terkejut hanya karena keberadaan Genevia yang masuk tanpa terduga.


Karena jika hanya tubuhnya di saksikan oleh Genevia, yang notabennya istrinya terlebih mereka sering melihat tubuh masing-masing. Evan sama sekali tak merasa terkejut ataupun merasa keberatan.


Berbeda dengan Genevia yang terkejut, meski sudah biasa melihatnya namun kali ini terasa berbeda. Karena entah mengapa seolah gairah dalam dirinya terasa terpancing setelah melihat bagaimana tubuh Evan.


Demi mengalihkan perasaan inginnya dengan kegiatan panas mereka, Genevia segera meminta Evan untuk memakai pakaian dan segera mengajaknya untuk berbicara.


“Sebaiknya cepat pakai pakaianmu. Aku ingin berbicara denganmu setelahnya.” Ujar Genevia dengan membelakangi Evan, karena tak ingin melihat tubuh suaminya yang tak tertutup sehelai benang apapun.


Evan yang mengetahui arah pembicaraan Genevia, dan apa yang akan istrinya bicarakan dengannya merasa ingin mencari kesempatan untuk membatalkan pembicaraan mereka.


Evan merasa tak ingin membahas terkait Chelsea bersama Genevia. Dirinya tak ingin sibuk menjelaskan siapa dan bagaimana Chelsea kepada istrinya.


Evan mendekati Genevia yang sedang berdiri membelakanginya, dirinya mengetahui kalau istri nya itu sedang tak ingin melihat tubuhnya yang tak tertutup apapun. Padahal Evan saat kini telah memakai celana setelan untuk ke kantor, tanpa Genevia sadari.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Evan tetap di samping telinga Genevia dengan memeluk istrinya dari belakan tubuh Genevia.


Sontak hal itu membuat Genevia terkejut sekaligus merinding. Sejak tadi dirinya menahan diri untuk tidak terpancing gairah, namun saat ini Evan seolah benar-benar ingin membangkitkan gairahnya.


“Apa yang kau lakukan Van?” tanya Genevia dengan tertahan. Rasa geli bercampur kesal menguasai dirinya. Saat Evan dengan sengaja menghembuskan nafasnya di tengkuknya yang nampak terlihat jelas. Karena rambutnya tengah dirinya gulung di atas.


“Tidakkah kau menginginkan sesuatu?” tutur Evan menggoda Genevia.


Genevia menggeleng pelan dalam dekapan Evan yang begitu erat memeluknya. Dengan mengumpulkan kesadarannya, Genevia berusaha melepaskan dekapan tangan Evan dengan sekuat tenaga.


“Pakai pakaianmu, dan mari bicarakan tentang Chelsea.” Tegas Genevia setelah berhasil melepaskan rengkuhan tangan suaminya.


Dan supaya dirinya tak semakin terpancing oleh Evan, Genevia segera meninggalkan walk in closet untuk menunggu Evan di sofa yang berada di kamarnya.


Sementara Evan hanya menatap punggung Genevia dengan datar, saat wanita itu malah menghindarinya dan masih berusaha membuat dirinya menjelaskan siapa sosok Chelsea.


Namun karena merasa risih dengan dirinya yang baru bangun, Genevia menyempatkan diri membersihkan dirinya sembari menunggu Evan.


“Siapa Chelsea, bisakah kau jelaskan Evan Sanders?” ujar Genevia merasa tak sabar menunggu Evan sejak tadi, namun sama sekali tak bersuara.


Tampak Evan menghembuskan nafasnya dengan berat. Terlihat dirinya malas untuk membahas tentang wanita itu. Namun berbeda dalam pandangan Genevia, wanita cantik itu merasa Evan sengaja menyembunyikan siapa wanita yang tadi pagi sempat menghubungi Evan.


“Aku tak ingin membahasnya” ujar Evan dengan datar.


Mendengar hal itu, Genevia seketika menatap tajam Evan. Tebakannya sepertinya benar. Evan memang ingin menyembunyikan identitas wanita itu pada dirinya. Dengan kenyataan ini, membuat Genevia mulai berpikiran negatif.


“Ap .. apa kau memiliki hubungan dengannya Van?” tanya Genevia dengan bibir bergetar.


Genevia rasanya tak akan sanggup jika hal itu benar adanya. Terlebih saat ini dirinya tengah mengandung benih Evan yang kemungkinan kembar, mengingat dirinya memiliki gen kembar.


Namun Evan justru hanya terdiam membisu, seolah tak berniat menanggapi perkataan Genevia. Dan hal itu membuat Genevia mengartikan diamnya Evan adalah jawaban iya. Hanya saja pria itu tak ingin memperjelas perkataannya.


Tanpa sadar, pipinya terasa basah oleh air mata. Dengan cepat Genevia menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.


“Jawab Van. Apa wanita itu bukan rekan bisnis biasa?” tanya Genevia memaksa Evan untuk membuka mulut.


Evan hanya diam membisu menatap Genevia dengan datar. Evan tak ingin mempermasalahkan hal apapun terkait Chelsea.


“Berhentilah mengkhawatirkan wanita itu.” Tegas Evan yang nampak enggan melihat Genevia menangis.


Genevia memberanikan diri menatap mata suaminya. Tampak jelas di sana tak ada tatapan cinta atau sebangsanya. Hanya tatapan tajam yang meminta dirinya untuk tak mengkhawatirkan apapun terkait wanita yang bernama Chelsea.


Bagiamana mungkin, dirinya bisa melakukannya?. Sedangkan dirinya mencintai Evan. Wanita mana, atau manusia mana yang rela seseorang yang dirinya cintai memiliki hubungan dengan orang lain. Tak ada satupun manusia yang rela, begitupun juga dengan dirinya.


“Van, jika memang kau belum mencintaiku. Aku mohon setidaknya jangan hadirkan orang lain diantara kita. Terlebih, saat ini ak ... aku sedang mengandung benihmu.”


Mohon Genevia dengan dengan bergetar, tangisannya berusaha dirinya tahan supaya dapat membicarakan hal ini sampai dengan selesai bersama suaminya.


Deg


Evan tersentak mendengar kalimat terakhir Genevia. Dirinya berusaha mencerna apa yang baru saja Genevia katakan. Dan kini dirinya menatap lekat Genevia untuk memastikannya.


“Kau sedang mengandung?” tanyanya menatap tajam Genevia.


Dan diangguki oleh Genevia.


“Ya, dan ini anakmu. Darah dagingmu Van.” Ujar Genevia tanpa berani membalas tatapan tajam Evan.


Entah mengapa dirinya akan merasa lemah di hadapan Evan, pria yang sangat dcintai olehnya. Sampai dirinya rela seolah mengemis cinta pada suaminya. Namun baginya jika mengharapkan dan memperjuangkan cinta suami, merupakan hal yang wajar bahkan wajib.


Evan terlihat mengetatkan rahangnya, tanagnnya nampak terkepal, dan terlihat kemarahan di wajahnya.


Next .......