
Genevia yang masih merasa kesal dengan panggilan dari wanita yang menghubungi Evan, memutuskan untuk keluar dari kamar. Sekedar untuk menjernihkan pikiran dengan tidak melihat keberadaan Evan di depan matanya.
Tampaknya kehamilannya ikut andil dalam mengacaukan pikirannya, hingga dirinya terasa lebih sensitif. Genevia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya meninggalkan suaminya.
Saat ingin ke ruang keluarga sekedar untuk menghibur diri dengan menonton. Genevia melihat ruang dapur terlihat terang benderang, sepertinya ada seseorang yang sedang berada di sana.
Padahal hari masih begitu pagi bahkan gelap, tak mungkin pelayan yang berada di sana. Karena merasa penasaran, Genevia membatalkan niatnya untuk ke ruang keluarga. Dirinya lebih memilih melangkahkan kakinya ke dapur.
Saat sampai di sana, Genevia melihat punggung seseorang, yang dirinya kenali. Rupanya Genivee, sang kembaran yang sedang berada di dapur.
Genevia semakin mendekat ke tempat di mana Genivee edang duduk tenang dan manis. Saat sudah dekat, Genevia kini juga dapat menyaksikan keberadaan David yang sedang sibuk berkutat dengan alat dapur.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya serasa mendudukkan diri di salah satu kursi di dekat Genivee.
"Kak!" Genivee berteriak terkejut degan kehadiran kakaknya yang tiba-tiba. "Kau mengejutkan ku Kak" lanjutnya.
Genevia hanya menanggapi Genivee dengan cengiran. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Genevia mengulangi kembali pertanyaan nya.
"David sedang membuatkan makan untukku. Karena baby-baby ku kelaparan." Jelas Genivee menjawab rasa penasaran kakaknya.
"Priamu perhatian sekali." Bisik Genevia menggoda Genivee.
Sontak hal itu membuat Genivee senang bercampur tersipu. Namun detik berikutnya, dirinya teringat dengan suami kakaknya.
"Apa kau belum memberitahu kehamilanmu pada Evan, Kak?" tanya Genivee merasa penasaran.
Pasalnya jika sudah, suami kakaknya juga dapat turut serta untuk membuat makanan untuk kembarannya bersama David. Namun detik selanjutnya, dirinya kembali tertampar oleh kenyataan.
Bahwa dirinya dan David saat ini sedang bersembunyi dari Evan, suami kakak kembarnya itu.
Sementara Genevia menggeleng mendengar pertanyaan Genivee. DIrinya memang belum sempat memberitahu pada Evan terkait kehamilannya. Karena pria itu rupanya telah terlelap saat dirinya hendak memulai membahasnya.
Mengingat hal itu, Genevia menjadi kesal kembali. Di tambah dengan wanita bernama Chelsea yang menghubungi Evan. Membuat mood nya benar-benar menjadi buruk.
"Why, bukankah itu kabar bahagia? Suamimu pasti akan merasa senang kak." Tutur Genivee merasa ikut kecewa.
Genevia menghela nafasnya dengan kasar, perasaan kesalnya serasa menggumpal di dalam dadanya.
"Aku belum sempat mengatakannya, dia sudah tertidur. Mungkin saat dia bangun atau di rumah aku akan memberitahunya." Jelas Genevia.
Genivee hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Genevia. Karena fokusnya kini sedang terarah pada David yang berjalan ke arahnya membawakan makanan yang telah berhasil suaminya buat.
"Kau di sini?" tanya David pada Genevia yang baru menyadari kehadiran adik iparnya itu.
"He em" Jawab singkat Genevia.
"Apa kau juga menginginkan makanan seperti yang Genivee makan?" tanya David menawarkan pada adik iparnya.
Mengingat Genevia yang juga sedang mengandung, kemungkinan Genevia juga akan merasa ingin memakan apa yang Genivee makan.
"TIdak, kalian makan saja. Aku akan kembali ke kamar, tak ingin menjadi obat nyamuk untuk kalian." Ujar Genevia bangkit dari posisi duduknya.
Genevia memilih kembali ke kamar daripada harus menyaksikan kemesraan yang akan Genivee dan David tunjukkan. Dan benar saja, saat dirinya melangkah pergi, terdengar Genivee yang meminta David untuk menyuapi makan.
Genevia berjalan untuk kembali ke kamarnya. Saat tangannya akan menyentuh gagang pintu, justru pintu di depannya terbuka dari dalam.
Sontak hal itu membuat Genevia terkejut, dan detik berikutnya merasa panik. Rupanya Evan yang sedang membuka pintu, dan kini tengah berdiri di hadapannya.
"Van?" Ujarnya merasa terkejut sekaligus panik.
Genevia merasa panik dan takut Evan akan menyadari keberadaan David dan Genivee di ruang makan. Dirinya harus mencegah Evan untuk keluar dari kamar.
"Kau darimana?" tanya Evan yang sedikit kesal.
Saat terbangun tak mendapati genevia berada di sampingnya, membuat dirinya tak dapat kembali terlelap. Hingga Evan memaksakan diri untuk bangun dari posisi berbaring nya dan mencari istrinya.
"Aku baru dari dapur untuk minum" Genevia memberikan alasan yang paling masuk akal, supaya Evan tak banyak bertanya lagi.
Evan tak menanggapi perkataan istrinya, namun segera membawa Genevia untuk masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Dan dengan senang hati, Genevia mengikuti Evan untuk masuk kembali ke dalam kamar.
Karena sejak tadi dirinya merasa khawatir jika Evan akan melihat ke arah dapur. Di mana David dan genivee sedang duduk berdua saling menyuapi makanan.
"Van ada yang ingin aku bicarakan" Ujar genevia ingin membuka pembicaraan terkait wanita yang bernama Chelsea. Namun niatnya juag untuk mengalihkan perhatian Evan supaya fokus padanya.
Evan yang mendengarnya menatap datar. "Apa tak bisa nanti saja? Lebih baik kita kembali tidur." Jelas Evan tak berniat berbicara.
"Siapa Chelsea?" tanya Genevia. Daripada dirinya mengulur waktu, Genevia langsung berbicara langsung pada intinya.
Evan terkejut mendengar Genevia menyebut nama wanita itu. Darimana istrinya mengetahui tentang wanita itu?Evan ingin menangapi namun rasanya dirinya tak kuat menahan rasa kantuk yang masih mendera.
Hingga tanpa menanggapi pertanyaan Genevia, Evan membawa istrinya masuk ke dalam kamar Genevia. Saat sampai di dalam, Evan membawa serta Genevia untuk berbaring di ranjang.
Dengan posisi Evan memeluk erat Genevia, supaya istrinya itu tidak kabur kemana-mana lagi. Hingga hitungan detik, Evan kembali terlelap dengan mudahnya.
Membuat Genevia yang menoleh pada Evan menghembuskan nafas kasar. Padahal dirinya sangat merasa penasaran tentang wanita bernama Chelsea, tetapi suaminya justru kembali terlelap dengan begitu nyenyak.
Namun tak apa, yang terpenting untuk saat ini Evan tak menyadari keberadaan Genivee dan David yang berada di ruang makan.
Genevia membalikkan posisinya untuk menghadap ke arah Evan. Kini drinya dapat melihat bagaimana wajah tampan Evan yang sedang terlelap. Genevia memberanikan diri untuk menyentuh wajah tampan suaminya.
Dengan usapan lembut. Genevia menyentuh setiap sisi wajah Evan dengan teliti. Merasa bahagia karena saat ini tengah mengandung benih dari pria tampan di hadapannya ini.
Setelah puas menyusuri wajah Evan, Genevia beralih menarik tangan Evan yang berada di pinggangnya. Ia bawa tangan suaminya untuk berada di atas perutnya, di mana bayinya tengah bersemayam.
"Sayang, apa kau merasakan kehadiran Daddy mu?" ujar Genevia mengajak janin dalam kandungannya untuk berbicara.
Hanya dengan tindakan sesederhana ini membuat Genevia merasa hatinya bahagia. Rasanya akan terasa lucu mengingat akan ada seorang bayi di pernikahan mereka. Terlebih dirinya juga akan memiliki keponakan dari dua bayi yang sedang Genivee kandung.
Membayangkan akan ada banyak bayi di sekitarnya, membuat hati Genevia merasa tergelitik dan tak sabar untuk menanti kehadiran mereka. Terutama anak dalam kandungannya.
Next .......