WINDING LOVE

WINDING LOVE
AKU ISTRIMU



"Tentu saja aku mencintai David." Tegas Genivee menjawab pertanyaan Evan.


Dengan menatap tajam Evan, Genivee berucap setelah melepaskan pelukannya dari suaminya. Dapat Ia lihat raut kecewa pada wajah suami kakaknya itu. Meski pria itu tampak berwajah datar, namun rasa kecewa itu tampak jelas tertera dalam ekspresinya.


David pun juga dapat melihat dengan jelas rasa kecewa saudaranya itu. Sesungguhnya David merasa tak tega melihat adik bungsunya seperti ini, namun dirinya juga mesti memberikan efek jera pada adiknya itu. Karena telah menyakiti hati istrinya selama ini.


Bahkan tak hanya Keiko yang meminta dirinya untuk membantu hubungan mereka, rupanya sang Daddy juga memintanya untuk turun tangan membantu Evan. Karena mereka semua tahu bagaimana tabiat Evan yang tidak peka, hingga sulit meraba perasaannya sendiri.


Evan yang mendengar pernyataan tegas Genevia tetap memasang wajah datarnya, meski sejujurnya hatinya merasa sakit dan kecewa. Namun tak etis untuk menunjukkan kelemahan di depan lawan.


Ya, David adalah rivalnya mulai saat ini. Meski mereka memiliki campuran darah yang sama, tapi melihat David yang terang-terangan merebut wanitanya. Membuat Evan memutuskan untuk tak lagi menganggap David sebagai saudara.


"Sepertinya kau tahu dengan jelas, bahwa Genevia adalah wanitaku?!" sarkas Evan menatap tajam David.


Evan tak dapat melampiaskan kemarahannya pada Genevia. Wanita yang sedang mengandung juga wanita yang dirinya cintai. Merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, membuat Evan merasa bodoh.


Meski Genevia dengan jelas menyakiti dan melukai perasannya dengan penghianatan yang dilakukan. Namun Evan rasanya tak bisa meluapkan kemarahan pada wanita itu, merasa tak tega.


Dirinya juga sadar, bahwa selama ini ikut andil dalam pengkhianatan yang mereka lakukan. Dengan bersikap acuh dan dingin pada istrinya selama ini, Evan menyadari kesalahannya itu. Yang saat ini menjadi bumerang bagi hubungan mereka.


David mengangguk. "Tentu saja, wanita yang tak pernah kau hargai? Sepertinya dia akan lebih bahagia bersamaku dibandingkan hidup bersamamu." Jawab David dengan pedas.


David sengaja mengatakannya, untuk membuat Evan tersinggung dan menyadari kesalahannya. Meski sedikit berbohong, rasanya tak akan masalah. Asalkan Evan sadar akan kesalahannya dan menyesali perbuatannya.


Evan mengetatkan rahangnya, bahkan tangannya nampak mengepal erat. Benar apa yang David pikirkan, Evan merasa tersentil dengan perkataan David itu.


Evan berusaha menahan gemuruh di dadanya. "Sejak kapan kalian bermain di belakangku?" tanya Evan untuk memastikan kebenaran janin dalam kandungan wanitanya. Benar miliknya atau milik pria brengsek di depannya.


"Sejak lama, kau tak perlu tahu. Yang perlu kau tahu, janin dalam kandungan wanitaku adalah milikku." Tegas David dengan mengusap pelan perut Genivee tepat di hadapan Evan.


Sontak perkataan dan tindakan David membuat Evan merasa panas dan terbakar. "Lepaskan tanganmu brengsek!" marah Evan kepada David.


David menyeringai ke arah Evan. Tangannya semakin memeluk erat tubuh Genivee dan menciumi pipi wanitanya. David niat sekali membuat adiknya itu merasa terbakar dan marah.


Evan yang menyaksikan tindakan David yang begitu berani di hadapannya, tanpa segan menarik pria itu. Dan melayangkan bogeman mentah ke arah wajah kakak sulungnya itu.


"Brengsek!!" Teriak Evan marah.


Bugh


Bugh


Bugh


Evan terus memukuli David dengan membabi buta. Matanya tanpa berbinar berkaca-kaca. Sakit sekali menyaksikan wanita yang dicintai disentuh dengan lugasnya oleh pria lain. Pria yang jelas-jelas adalah saudara kandungnya.


Sementara Genivee yang merasa ketakutan dan tak tega melihat David, berusaha menghentikan perbuatan Evan. "Hentikan Evan, dia kakakmu." Teriak Genivee dengan panik, tangannya berusaha menarik baju belakang Evan.


Mendengar perkataan Genivee, Evan menghentikan tindakannya. Matanya menatap nyalang ke arah David. Kemudian menatap tajam Genivee yang tengah membantu David untuk bangkit dari posisi berbaringnya.


Wanita itu tampak menangis melihat wajah tampan David yang dibuat babak belur oleh Evan. Dan semua itu disaksikan oleh Evan dengan tersenyum miris. Wanitanya yang begitu mengkhawatirkan pria lain, tepat dihadapannya.


"Katakan! Kau tak mencintaiku?!" Titah Evan untuk mendengar kalimat terakhir yang ingin dirinya dengar. Masih dengan berdiri tegak menatap dua insan yang saling merangkul itu.


Karena setelah ini, Evan tak akan lagi menunjukkan diri di hadapan wanitanya. Cukup wanita yang Ia pikir adalah Genevia, yang telah menghancurkan hatinya. Evan tak ingin lagi merasakan jatuh cinta.


Untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta, Evan tak menyangka akan sesakit ini patah hati. Mungkin ini layak sebagai balasan untuknya, yang selama ini telah menyakiti dan melukai Genevia begitu dalam.


"Kau sendiri, apa kau mencintai istrimu?" tanya Genivee menguatkan diri, meski isak tangis masih terdengar.


"Ya, aku mencintaimu Genevia." Pelan Evan menatap Genivee sendu, tampak senyum terpatri di bibirnya.


Untuk pertama kalinya, Evan menunjukkan senyum itu di hadapan orang lain. Karena mengungkapkan perasaan pada wanitanya. Meski wanitanya tak lagi dapat Ia miliki.


Sebenarnya dirinya lebih berhak bersama wanitanya, karena status mereka sepasang suami-istri. Namun mengingat janin dalam kandungan wanitanya adalah milik David, makan Evan tak lagi berdaya.


David dan Genivee sontak terkejut mendengar perkataan Evan. Namun sedetik kemudian, senyuman tampak di kedua bibir pasangan suami-istri itu. Meski sangat tipis, bahkan tak terlihat.


Mereka merasa berhasil menjalankan misi. Evan sudah mengakui perasaannya, maka tak ada alasan untuk menjauhkan Evan dan Genevia lagi.


Namun meskipun begitu, mereka tak akan memaksa Genevia untuk memaafkan Evan. Biarkan Genevia yang membuat keputusan untuk hal itu.


"Untuk terakhir kalinya, maafkan semua kesalahanku yang selama ini telah mengacuhkan mu. Tak pernah bersikap hangat dan sering mengabaikan. Bahkan saat mendengar kehamilan mu, aku tak menerima kehadirannya. Walau kini aku tahu, janin itu bukan milikku. Maafkan aku Nivea, aku menyesali semuanya." Tutur Evan menatap lekat Genivee dengan penuh penyesalan.


"Berbahagialah dengan pria brengsek ini. Meski kalian bermain kotor di belakangku, mungkin semua itu memang karena kesalahan ku. Kau benar lebih memilihnya, karena dia bukanlah pria dingin dan acuh sepertiku. Dia pria hangat, yang akan selalu mencintaimu." Lanjut Evan diakhiri senyuman miris.


Sampai saat Evan membalikkan tubuhnya, setetes air terjatuh dari matanya. Namun saat melihat ke depan, Genevia berdiri tepat di hadapannya.


"Kau?" Evan terkejut.


Membuat Evan terpaku, hingga suara wanita itu menyapanya.


"Van, aku Genevia istrimu." Tutur Genevia yang seketika membuat Evan kembali meneteskan airmatanya, dan segera ia rengkuh tubuh wanitanya untuk masuk dalam dekapannya.


Evan bahkan tak lagi ingin bertanya bagaimana bisa wanita yang bersama David memiliki wajah yang sama dengan wanitanya. Karena hatinya msih cukup terkejut sekaligus bahagia, bahwa wanitanya masih tetap miliknya.


Rasa kehilangan yang sempat menghancurkan hatinya perlahan menyurut dan membuat batinnya terasa lega.


Next .......