
Genevia yang melihat tangan Evan nampak terkepal merasa penasaran dengan respon yang pria itu berikan setelah mendengar kabar kehamilannya. Dan saat dirinya mendongak menatap wajah Evan, seketika dadanya nampak sesak. Air mata mengalir deras di pipinya tanpa dirinya sadari.
“Van, apa kau tak merasa bahagia dengan kehadirannya?” tanya Genevia menatap lekat wajah Evan.
Meski alam bawah sadarnya telah mengatakan penolakan Evan akan kehadiran janin dalam kandungannya. Namun Genevia masih berusaha untuk berpikiran positif, jika Evan akan merasa bahagia dengan kehadiran anak mereka yang sedang dirinya kandung.
“Apa selama ini kau tak pernah memakai pencegah kehamilan?” bukannya menjawab pertanyaan Genevia, Evan justru menanyakan hal lain.
Dan jelas hal itu membuat Genevia yang masih berusaha berpikir positif merasa terhempas. Evan, suaminya tak merasa bahagia dengan kehadiran bayinya. Evan tak menginginkan dirinya mengandung. Genevia kembali meneteskan air matanya.
Dengan gelengan kepala Genevia menjawab pertanyaan Evan. Tampak pria itu mengusap kasar rambutnya, merasa frustasi dengan keadaan saat ini. Pantas saja mertuanya meminta dirinya untuk menyusul istrinya, padahal selama ini tak pernah hal itu terjadi.
Rupanya karena Genevia yang tengah mengandung, membuat semua orang merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Genevia yang mereka pikir kondisinya begitu rentan.
Namun tidak bagi dirinya, Genevia dan anak dalam kandungannya tak akan membuat dirinya merasa khawatir seperti yang kedua mertuanya rasakan. Karena, tentu saja disebabkan dirinya tak memiliki perasaan apapun pada Genevia juga bayi yang sedang dalam kandungan itu.
“Ke .. kenapa Van? Apa yang salah dengan kehamilanku, bukankah kita suami-istri?” tanya Genevia yang masih tak mengerti dengan jalan pikiran Evan.
Evan menatap datar Genevia yang kembali mengajukan pertanyaan. “Dari awal kau tahu, bagaimana pernikahan ini. Pernikahan kesepakatan bisnis. Tentu saja tak akan ada keturunan dalam pernikahan seperti itu.” Jelas Evan dengan datar enggan menatap Genevia.
“Tapi kita bisa menjadikan pernikahan ini sungguhan, dengan kau belajar mencintaiku Van.” Ujar Genevia merasa tak terima dengan perkataan Evan.
Dirinya masih berharap Evan mau menerima kehamilannya dan mulai belajar mencintainya.
“Aku tak bisa mencintaimu, dan untuk kandunganmu kita akan bahas lagi di rumah nanti.” Tutur Evan mengakhiri pembicaraan mereka, meninggalkan Genevia yang masih setia meneteskan air mata.
Mendengar perkataan Evan membuat Genevia hanya dapat menatap sendu suaminya yang meninggalkan kamarnya. Terlebih Evan seolah menekankan bahwa bayi yang dirinya kandung memang hanyalah miliknya.
Semua itu tak salah, karena memang hanya dirinya yang menginginkan janin ini, sedangkan Evan tidak menginginkannya.
“Sayang, Daddy hanya belum menyadari bahwa dia juga menginginkanmu.” Ujar Genevia mengajak janinnya berbicara.
Entah janinnya mendengar atau tidak, namun yang pasti Genevia hanya ingin menanamkan pemikiran yang positif pada janinnya. Supaya tak ikut merasa sedih seperti yang dirinya rasakan atas penolakan Evan.
“Evan, jika memang kau tak bisa mencintaiku setidaknya cintai janin ini. Bagaimana pun juga, dia adlah darah dagingmu.” Lirih Genevia sendu menatap pintu di mana Evan keluar dari kamarnya.
...🥀🥀🥀...
Semua terlihat hikmat menikmati sarapan pagi, namun hanya empat orang karena Genivee dan David masih bersembunyi dari Evan. Jika semua wajah tampak terlihat biasa saja.
Terlebih Evan yang selalu datar, berbeda dengan Genevia yang tampak jelas wajahnya terlihat sendu.
Namun Tuan dan Nyonya Albert tak berani berkomentar sebelum Genevia sendiri yang mendatangi mereka. Bagaimana pun juga Evan lebih berhak atas Genevia dibandingkan dirinya.
Setelah sarapan, Genevia tak kembali ke kamar. Dirinya lebih memilih menghirup udara di rooftop yang terasa segar di pagi hari seperti ini. Sebab matahari belum naik terlalu tinggi, sehingga sinarnya yang menerpa kulit menyehatkan kulit.
Tak lama kemudian, Genevia dikejutkan dengan kehadiran adiknya, Genivee.
“Apa yang kau lakukan Vee? Evan masih adadi sini.” Tutur Genevia yang nampak panik.
“Tenanglah kak, suamimu sedang di luar bersama Daddy.” Ujar Genivee, dan tiba-tiba Genivee memeluk erat Genevia.
“Kau kenapa Vee? Apa sedang ada masalah dengan David?” tanyanya dengan mengusap pelan punggung Genivee.
Mendapatkan perlakuan seperti itu oleh kakaknya, justru membuat Genivee semakin sedih. Hingga terdengar isakan dari bibir Genivee yang Genevia dengar.
“Hei, kau kenapa Vee. Ceritakan padaku apa yang terjadi.” Titah Genevia merasa tak tega pada adiknya.
Mendengar hal itu, Genivee melepaskan pelukan mereka, dan menatap tajam kakaknya dengan isak tangis.
“Kakak yang jahat. Mengapa tak pernah menceritakan padaku bagaimana pernikahan kakak yang tak baik-baik saja?” tutur Genivee menatap tajam kakaknya.
Mendengar hal itu, Genevia seketika mengeluarkan kemabli air matanya yang sempat kering. Entah darimana adiknya mengetahui, namun rasanya lega karena ada tempat dirinya untuk menceritakan kesedihannya.
Karena dirinya tak berani untuk menceritakan pada kedua orangtuanya tentang masalah pernikahannya. Tentu saja Genevia tak ingin membebani kedua orangtuanya dan membuat mereka sedih.
Sementara Evan yang harus bekerja pagi ini tak jadi pulang ke rumah. Pikirannya sedang tak jernih, maka dirinya akan sulit berkonsentrasi. Jadilah dirinya memutuskan untuk menghirup udara di sekitar kediaman Albert untuk sekedar mengurangi pikiran.
Tentunya dirinya di temani oleh Tuan Albert yang senantiasa berjalan beriringan dengannya. Tuan Albert juga tak menyinggung wajah sendu Genevia sedikit pun.
Karena dirinya paham, para pria dan wanita yang telah menikah akan merasa tak nyaman jika ada yang ikut campur pada urusannya.
Saat sedang asyik berbincang dengan mertuanya, terdengar ponsel Evan berdering. Ia meminta izin Tuan Albert kemudian mengangkat panggilannya. Setelah sampai di tempat yang lumayan jauh dari Tuan Albert, Evan segera mengangkat panggilan itu.
“Apa yang kau inginkan?” Ucap Evan dengan dingin.
Dirinya mengetahui bahwa yang menghubunginya adlah Chelsea setelah wanita itu memberikan sapaan padanya.
“Hanya hal sederhana yang pernah ku katakan. Istrimu aku tak menjamin dia akan tenang.” Ancamnya pada Evan.
Evan berpikir sejenak untuk mencerna ucapan Chelsea. Jika Genevia mengetahui tentang Chelsea, begitupun sebaliknya. Berarti mereka telah melakukan sebuah pertemuan sekedar perkenalan atau hanya sebatas komunikasi.
Setelah di pikir-pikir memang ada panggilan masuk di jam tak lama saat dirinya bangun karena kepergian Genevia yang tak ada di sampingnya. Jadi istrinya terbangun oleh panggilan dari Chelsea dan mereka sempat mengobrol.
“Apa rencanamu?” Tegas Evan yang tak ingin di usik oleh wanita itu.
“Hanya ingin bersenang-senang denganmu, terlebih bisa mengajak istrimu dalam permainan.” Tutur Chelsea dengan terkekeh.
“Jangan pernah hubungi aku lagi.” Tegas Evan dengan dingin. Kemudian mematikan panggilan itu.
Evan kembali menghampiri mertuanya dan melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terjeda.
Sementara Chelsea di seberang terlihat menyeringai melihat Evan mematikan sambungan sepihak.
“Kau pikir dapat menghindar dariku? Istrimu akan menjadi target utamaku saat ini.” Ujarnya dengan tertawa.
Next .......