
Hari berlalu begitu cepat tanpa terasa bagi Genevia. Ia merasa waktu berjalan begitu cepat, sampai ia tak menyadari pernikahan mereka telah berjalan sekitar tiga bulan.
Semenjak mengatakan keluh kesahnya kepada kedua orangtuanya waktu itu. Genevia selalu bersikap hangat dan lembut kepada Evan. Bahkan lebih baik dari perlakuannya saat awal-awal mereka menikah.
Semua yang Genevia lakukan untuk membuat suaminya luluh kepadanya. Memberikan seluruh perhatiannya kepada Evan dengan semampunya.
Meski Evan masih bersikap dingin dan acuh namun tak melunturkan semangatnya untuk terus berusaha meluluhkan hati Evan.
Seperti hari biasanya, Genevia selalu bangun pagi sebelum Evan. Bahkan wanita itu telah menyiapkan setelan kerja untuk suaminya itu. Meski Genevia dilanda kesibukan terkait perkuliahan, namun tak melunturkan semangatnya untuk meluluhkan hati suaminya.
Evan keluar dari kamar mandi di sambut oleh Genevia dengan senyuman manis yang menawan. Evan selama ini dibuat heran dengan semua perhatian dan sikap manis Genevia.
Namun tak sekalipun Evan berniat menanyakannya kepada istrinya itu. Biarlah Genevia bertingkah sesukanya asalkan tidak menggangu kegiatannya.
Bukan hal langka jika saat ini Genevia yang sedang memasangkan dasi di lehernya.
Memang semenjak menginap di rumah mertuanya waktu itu, sikap Genevia berubah tak sepeti biasanya.
Genevia mengantarkan Evan sampai depan mobil, tak lupa ia mencium tangan suaminya dan memberi kecupan pada pipi kanan Evan.
Sontak hal itu membuat Evan terkejut dan merona. Entahlah ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat setelah mendapat kecupan di pipi kananya.
Genevia melambaikan tangannya kala mobil Evan meninggalkan pekarangan rumah yang mereka tempati.
Genevia telah menunggu Evan di depan rumah seperti biasanya. Evan turun dari mobilnya dengan sambutan ciuman di tangannya yang ia dapat dari Genevia. Genevia mengambil tas Evan dan menggandeng lengan suaminya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Saat ini mereka tinggal di kamar dan di ranjang yang sama, semenjak Genevia memintanya seminggu setelah mereka pulang dari rumah Tuan Albert. Bahkan kegiatan bercinta mereka terhitung lebih sering dibandingkan sebelum mereka sekamar.
Dan saat ini Genevia lebih berani mengikuti alur permainan Evan kala mereka sedang bercinta. Tidak jarang Genevia juga terkadang yang mulai merayu Evan duluan.
Semua hal yang ia lakukan itu semata-mata hanya ingin supaya Evan dapat membuka hati untuknya dan mencintai dirinya. Setelah sepulang dari rumah orang tuanya, Genevia memamg mengakui tertarik kepada Evan namun untuk mencintai dirinya msih belum yakin.
Namun semenjak ia terbiasa melakukan hal-hal manis dan memberikan perhatian kepada Evan, Genevia yakin bahwa dirinya memang telah jatuh hati pada Evan.
Ia tak dapat memungkiri hatinya sendiri bahwa dirinya memang telah jatuh kedalam pesona seorang Evan Sanders. Oleh sebab itu, keinginannya untuk membuat Evan jatuh hati padanya semakin kuat dan menggebu.
Ia tidak ingin berpisah dari Evan, apalagi jika pernikahan mereka sampai berakhir. Genevia berusaha menghindari hal itu.
Setelah membantu menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, Genevia memanggil Evan yang masih berada di kamar.
“Van makanan sudah siap, mari kita makan” ajak Genevia kepada Evan.
Evan mengangguk dan berjalan menuju ruang makan diikuti oleh Genevia di belakangnya. Mereka duduk untuk makan, Genevia menyiapkan piring Evan dan mengambilkan nasi lauk yang Evan inginkan. Dan Evan menerimanya dengan senang hati.
NEXT .......