
Evan menatap lekat Genevia dengan pandangan tak terbaca. Tangannya yang semula merapikan rambut Genevia, kini telah berpindah menyentuh lembut pipi istrinya. Tak ada yang tahu apa yang sedang dalam pikiran Evan, selain Evan sendiri.
"Rupanya dengan melihatmu saja, aku merasa nyaman." Batin Evan berkata.
Cukup lama Evan melakukan kegiatannya itu, dirinya masih betah memandangi wajah cantik Genevia yang terasa teduh di dalam pandangnya. Ia merasa nyaman dengan memandang wajah Genevia seperti ini. Hatinya terasa sejuk.
Setelah merasa puas memandangi wajah cantik istrinya, Evan perlahan menaikkan diri ke atas ranjang menyusul Genevia. Ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya, mengulurkan tangannya memeluk Genevia dengan erat.
Tak dapat dipungkiri hatinya merasa lega karena saat ini Genevia telah berada di sisinya. Tak seperti dua malam kemarin, yang harus rela tidur sendirian. Jauh di dalam lubuk hati Evan, dirinya merasa kosong dan hampa.
Entahlah Evan terkadang juga merasa tak mengerti dengan dirinya sendiri. Daripada sibuk memikirkan hal-hal yang tidak ia ketahui jawabannya, Evan lebih memilih memejamkan mata menyusul Genevia yang telah terlelap.
Tengah malam, Genevia yang merasa sesak perlahan membuka matanya. Perutnya terasa berat seperti terdapat beban yang menimpa. Setelah berhasil menyadarkan dirinya, Genevia mulai melihat ke arah perut dan pinggangnya.
Ia sedikit terkejut dengan keberadaan sebuah tangan yang bertengger nyaman di atas perutnya. Tanpa memastikan pemilik tangan itu, Genevia yakin milik siapa tangan itu. Jika bukan suaminya, siapa lagi.
Sebenarnya dirinya merasa senang dengan pelukan yang Evan berikan, namun tak dapat dipungkiri ia merasa tak lazim dengan hak ini. Evan yang selalu bersikap acuh kepadanya, kini memeluk dirinya seolah hubungan mereka begitu hangat. Padahal nyatanya sangatlah dingin dan datar.
"Apa yang terjadi dengannya?" Lirih Genevia bertanya pada dirinya sendiri.
Tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi sebenarnya, Genevia dengan hati-hati memindahkan tangan Evan dari tubuhnya. Ia ingin ke toilet untuk buang air. Setelah berhasil melepaskan diri dari dekapan Evan, Genevia bergegas pergi.
Sementara Evan tak terganggu sama sekali saat Genevia melepaskan pelukannya. Dua malam tak bisa tidur senyaman ini, membuatnya benar benar tak terganggu dengan apapun.
Benar, selama dua malam Genevia menginap di rumah orang tuanya. Evan merasa tidak nyaman saat tidur. Sebagaimana Genevia yang juga tak biasa tidur sendirian setelah menikah, sehingga meminta Keiko menemaninya.
Yang terjadi pada Evan pun sama, Evan tak nyaman tidur sendirian. Namun Ia tak melakukan hal seperti Genevia yang mencari teman tidur. Ia lebih memilih memaksakan diri untuk terlelap sendiri, meski kurang nyaman.
Saat Genevia keluar dari bathroom, Evan masih nyaman terlelap. Suaminya itu biasanya akan terbangun atau sekedar terganggu dengan suara-suara lirih sekalipun. Namun kali ini terasa berbeda, semakin membuat Genevia bertanya-tanya.
Keesokan harinya, Genevia terbangun dari tidurnya. Saat melihat jam yang terdapat di kamar, ia begitu terkejut. Dirinya bangun kesiangan, padahal ada Maya kuliah hari ini. Belum lagi, seharusnya dirinya melayani kebutuhan Evan.
Mengingat hal itu, Genevia segera menoleh ke sampingnya. Rupanya Evan juga bangun kesiangan seperti dirinya. Apa pria itu tidak ke kantor hari ini? Daripada sibuk menerka, Genevia segera membangunkan suaminya yang masih asik terlelap itu.
"Van, bangun. Apa kau tidak bekerja?" Ujar Genevia menggoyangkan lengan Evan perlahan.
Namun pria itu tetap tidak terbangun. Sungguh, ini bukan kebiasaan Evan. Pria dingin yang biasanya selalu mementingkan segala hal terkait waktu terutama pekerjaan. Kini masih saja asik terlelap padahal hari sudah siang.
"Van, apa kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Genevia lagi. Kali ini Ia mendekatkan bibirnya tepat di daun telinga Evan. Supaya pria itu mendengar perkataannya.
Dan benar saja, Evan meras terganggu dekat perbuatan Genevia. Bukan karena suara wanita itu yang sebenarnya mengganggunya, namun hembusan nafas hangat Genevia yang membuat Evan merasa berdebar. Sepertinya Genevia telah memancing sesuatu yang membuat Evan harus menahan diri.
"Apa yang kau lakukan?." Tanyanya dengan datar. Evan merasa tidurnya terganggu oleh Genevia.
"Aku hanya membangunkan mu. Apa kau akan bolos kerja?" Tanya Genevia setelah pria itu telah bangkit duduk dari posisi berbaring nya.
Sontak hal itu membuat Genevia kembali terkejut dengan kelakuan Evan. Ini tak seperti biasanya, suaminya meninggalkan pekerjaannya demi untuk berbaring di ranjang seperti ini.
"Apa kau sakit? Tak biasanya kau seperti ini Van." Ucap Genevia mengutarakan rasa herannya.
"Apa tidak bekerja harus sakit?" Ujar Evan terdengar menyebalkan di telinga Genevia.
"Aneh saja, kau tak seperti Evan yang biasanya." Ujar Genevia dengan beranjak bangkit dari ranjang.
Ia akan bersiap ke kampus, untuk segera menyelesaikan tugas-tugasnya yang sebentar lagi ia akan lulus. Mengingat hal itu, Genevia menjadi teringat Genivee yang tak sedang mengambil cuti kuliahnya.
Padahal harusnya mereka akan lulus pada waktu bersamaan, namun Genivee harus tertinggal darinya. Apalagi kini adiknya itu tengah mengandung, pastilah membutuhkan waktu sedikit lama untuk kembali menyelesaikan kuliahnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Evan yang menyadari Genevia beranjak dari ranjang.
"Aku ada kuliah pagi ini" Jawab Genevia.
"Kau tidak ku izinkan keluar ke mana pun hari ini." Titah Evan dengan suara tegas.
...🥀🥀🥀...
Cup
"Tidur yang nyenyak sayang" Ucap seorang pria yang tengah memeluk erat istri tercintanya, setelah mendaratkan kecupan di pelipis istrinya.
Cup
"Baby jangan rewel sayang." Titahnya dengan mencium perut istrinya yang mencoba memejamkan matanya. David tahu, istrinya sulit untuk sekedar terlelap karena rasa mual yang menderanya.
David sedang merasa khawatir dengan keadaan Genivee. Sejak pagi, bahkan langit masih tampak gelap. Genivee terus saja merasa mual dan akhirnya mengeluarkan isi perutnya.
Tentu saja David merasa khawatir dengan keadaan Genivee. Karena saat di kediaman Sanders, ada ibunya yang membantu merawat Genivee sebagai seseorang yang telah berpengalaman.
Sedangkan saat ini, Kedua mertuanya sedang ke luar kota sejak kemarin sedang ada urusan bisnis. Sehingga kini tinggallah mereka berdua saja dengan beberapa pelayan. Jadilah kini dirinya bingung harus melakukan apa untuk meredakan mual yang Genivee rasakan.
"Mau ke rumah sakit Sayang?" David mencoba menawari Genivee lagi.
Karena sejak tadi, istrinya sama sekali tak mau pergi ke rumah sakit. Hingga membuatnya bertambah khawatir.
Genivee menggeleng mendengar perkataan suaminya. Ia benar-benar tak mau pergi ke rumah sakit. Dengan membayangkan rumah sakit saja, rasanya ia bertambah mual. Apalagi jika benar-benar datang ke tempat itu.
David menghela nafas, istrinya kembali menolak ajakan ke rumah sakit. Ia juga tak dapat memaksa jika Genivee sendiri tak mau. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk meminta salah satu pelayan untuk menghubungi dokter.
NEXT .......