WINDING LOVE

WINDING LOVE
DAVID SANDERS



Rupanya dihadapannya adalah Tuan Sanders penguasa Amerika. Apa yang membuat pria paruh baya itu memanggilnya ke sini.


"Apa yang Tuan inginkan?" tanya Genivee tegas dengan berani.


Tuan Sanders terkekeh pelan. Ia merasa kagum dengan keberanian Genivee kepadanya. Pantas jika Steven jatuh pada pesona wanita cantik dihadapannya ini. Kemudian ia meminta Genivee untuk duduk di kursi tepat didepannya.


"Kau adalah Genivee anak seorang Albert" ujarnya Tuan Sanders.


Genivee jelas saja terkejut mendengar perkataan Tuan Albert. Bagiamana mungkin ada yang mengetahui identitasnya dirinya.


"Bagiamana Tuan bisa mengetahuinya?" tanya Genivee pelan, ia mulai sedikit takut saat ini.


"Bahkan aku juga mengetahui nak, bahwa kekasihmu pergi meninggalkanmu dan bayimu" ujarnya tampak tenang, namun jika Genivee mengetahui ada sebuah guratan kemarahan dalam ekspresi wajahnya.


Genivee hanya mampu membeku dengan wajah bertanya-tanya. Dan hal itu tertangkap jelas pada pandangan mata Tuan Sanders.


"Steven kekasihmu adalah anakku nak, dan yang sedang kau kandung adalah cucuku" jelasnya pada Genivee.


Deg


Tentu Genivee merasa terkejut, bahkan kakinya terasa lemas seketika. Tuan Sanders yang menyadari hal itu mendekati Genivee dan memberikannya minum.


Semua kenyataan ini belum ia percaya. Namun Tuan Sanders berhasil meyakinkannya dengan semua penjelasan dan bukti yang nyata.


"Steven adalah David Sanders, putra pertamaku yang mengasingkan diri dari publik." Jelasnya lagi.


Genivee hanya mampu terdiam, mungkin ia merasa kecewa mengetahui fakta sebesar ini. Namun ia juga menyembunyikan jati dirinya dari Steven. Jadi mereka impas.


"Aku membawamu kesini karena mulai saat ini kau akan tinggal di sini bersama kami. Sampai kekasihmu itu mau bertanggung jawab atas bayimu" ujar Tuan Sanders menjelaskan maksud dan tujuannya.


Genivee menggeleng, ia tidak ingin lagi bersama Steven. Ia terlanjur kecewa dengan semua yang Steven lakukan kepadanya.


"Aku tidak ingin kembali padanya, aku bisa mengurus bayiku sendiri"


"Lalu bagaimana dengan orangtuamu? apa kau sanggup membuat mereka kecewa nak?" Jelas Tuan Sanders.


Genivee menggeleng, ia juga tidak sanggup mengecewakan kedua orangtuanya.


"Maka tinggallah di sini sebelum David kembali kepadamu. Setelah dia kembali, aku akan membalaskan rasa sakit mu. Karena dia anakku aku harus mendidiknya dengan benar, tidak menyakiti wanita seperti ini. Lalu kami akan menikahkan mu, aku akan mendatangi orangtuamu untuk merestui kalian. Jika kau tidak ingin bersama David lagi, maka lakukanlah demi bayi yang ada dalam kandungan mu. Dia membutuhkan kedua orangtuanya." Jelas Albert untuk membuat Genivee mengerti.


Genivee akhirnya setuju dan mulai tinggal di kediaman keluarga Sanders. Tuan Albert juga membawanya kepada Nyonya Sanders yang masih begitu cantik.


Genivee disambut baik oleh keluarga Sanders, ia berharap semua ini awal yang baik untuk dirinya dan bayinya.


Meski masih tidak menyangka bahwa Steven adalah David yang selama ini orang-orang cari wajah sebenarnya. Namun Genivee mencoba menetralkan segala keterkejutan itu demi kesehatan bayinya.


"Apa kau tahu nak, kisah kalian begitu unik." ujar Nyonya Sanders kepada Genivee.


"Maksudnya Mom, maaf aku tidak paham" Genivee merasa tidak enak.


Semenjak kedatangannya untuk tinggal di kediaman Sanders, Genivee memang diperintahkan untuk menganggap dan memanggil mereka sebagaimana orang tua sendiri.


Syok, Genivee tidak pernah tahu selama ini jika yang menikah dengan Genevia adalah Evan Sanders. Meski ia tahu pernikahan itu atas dasar bisnis, namun dirinya tidak mengetahui tentang siapa yang Genevia nikahi.


Semua fakta yang baru ia ketahui akhir-akhir ini membuatnya benar benar terkejut. Apakah dunia se-sempit itu, rupanya kekasihnya lebih tepatnya ayah dari bayinya adalah kakak dari kakak iparnya.


...🥀🥀🥀...


Sedangkan Steven yang masih mengurung diri di dalam apartemennya kini merasa mulai suntuk. Kini ia mulai merindukan Genivee, wanita manja itu kini tengah mengandung anaknya.


Steven sebenarnya tidak setega itu untuk meninggalkan mereka, namun ia takut keselamatan kedua orang yang ia cintai itu akan terancam jika tidak ia tinggalkan.


Orangtuanya merupakan seseorang yang berkuasa, bagaimana mungkin ia tega melihat meraka akan membuat Genivee terluka.


Namun Steven merasa semuanya justru akan semakin parah jika ia diam saja. Selama ini ia mengurung diri untuk menenangkan diri dan berpikir solusi terbaik. Kini ia telah memutuskan untuk menemui kedua orangtuanya dan mengungkapkan semuanya.


Setuju atau tidak, ia tetap akan memperjuangkan wanita yang ia cintai itu. Genivee adalah hidupnya, jiwanya. Ia tidak akan bisa hidup bahagia tanpa Genivee di sisinya.


Akhirnya Steven pergi ke tempat yang Genivee tinggali selama ini bersamanya. Ia akan bersimpuh dan memohon maaf pada Genivee atas tindakannya yang pergi begitu saja meninggalkan Genivee.


Ia akui dirinya sangat pengecut dengan melarikan diri, namun kini ia sadar dan akan memperbaikinya. Genivee tidak boleh pergi dari sisinya.


Namun saat sampai di tempat Genivee, kekecewaan yang Steven dapatkan. Genivee telah meninggalkan tempat itu beberapa hari yang lalu. Ia tidak tahu tempat mana yang Genivee datangi saat ini.


Karena setahunya Genivee hanya akan pergi bila bersama dengannya ke tempat-tempat asing dan tak nyaman. Disaat ia dilanda kebingungan, seorang teman yang tinggal di samping Genivee memberitahu.


"Kemarin Genivee pergi bersama rombongan pria berbaju hitam"


Mendengar hal itu, Steven bisa menebak kemana Genivee pergi saat ini. Pasti ayahnyalah yang telah memerintahkan mereka untuk membawa Genivee. Hal ini yang Steven takutkan.


Kenapa ia tidak berpikir sejauh ini, bahwa ayahnya akan membawa Genivee tanpa sepengetahuan dirinya. Tanpa menemui dirinya dahulu. Kini perasaan menyesal dan takut melanda hatinya.


Steven menyesal meninggalkan Genivee, dan ia takut ayahnya melukai Genivee dan bayinya. Steven dengan tergesa gesa segera pergi untuk menuju kediaman keluarganya.


Pasti Genivee kini sudah tahu siapa dia sebenarnya, jati diri Steven sebenarnya yang seorang Sanders. Mungkin Genivee akan kecewa dengan kebenaran yang ia sembunyikan. Namun dibanding memikirkan hal itu, Steven lebih khawatir memikirkan keselamatan Genivee dan bayinya.


Selama dalam perjalanan Steven tidak sedetikpun merasa tenang. Pikirannya tertuju kepada Genivee yang saat ini telah berada di genggaman orangtuanya. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan wanita yang sangat ia cintai itu.


Bahkan setitik air mata berhasil lolos dari matanya. Hatinya sesak membayangkan hak yang tidak tidak tentang yang terjadi kepada Genivee. Terlebih wanitanya tengah hamil saat ini.


Sungguh ia tidak sanggup bila Genivee pergi darinya, bahkan meninggalkan dirinya pergi jauh. Jika terjadi sesuatu kepada Genivee, ia tak segan akan membenci keluarganya. Atau bahkan akan ikut Genivee pergi jauh meninggalkan segalanya.


Steven akui kemarin dirinya yang dengan kebodohannya meninggalkan Genivee begitu saja. Meninggalkan wanitanya sendirian dengan kesedihan mendalam. Namun bolehkah ia membela diri. Kemarin ia kalut dan teramat syok dengan kabar yang begitu mengejutkan.


Namun bagaimanapun alasannya, dirinya tetap salah dengan meninggalkan Genivee begitu lama. Tak hanya seminggu namun dalam hitungan bulan.


Kini Steven benar-benar menyesal telah melakukannya. Jika nanti ia masih diberi kesempatan bertemu wanitanya, dirinya rela untuk bersimpuh demi mendapatkan maaf dari wanitanya itu.


NEXT .......