
Setelah kejadian di mana Genevia meminta penjelasan kepada suaminya. Namun wanita yang berstatus istri Evan itu tak kunjung mendapat penjelasan apapun dari Evan.
Bahkan Evan dengan tanpa perasaan meminta Genevia untuk segera meninggalkan ruang kerjanya. Dan semenjak saat itu, evan semakin dingin dan acuh terhadap Genevia.
Wanita cantik yang tengah berbadan dua itu, selalu diabaikan keberadaannya oleh sang suami. Bahkan Genevia tak memiliki kekuatan dan kuasa lagi untuk hanya sekedar berusaha. Untuk meluluhkan hati Evan lagi.
Sikap Evan yang saat ini seperti tak tersentuh. Terlebih pria itu juga tak ingin menyentuh dirinya lagi. Bahkan kamar mereka juga ikut terpisah semenjak kejadian itu.
Evan juga menjadi jarang pulang ke rumah, yang membuat Genevia ketar-ketir. Kadang merasa khawatir, kesepian, dan rindu kepada Evan.
JIka dihitung-hitung sudah lebih dari lima minggu Evan bersikap seperti itu. Yang mana membuat genevia tersiksa dengan keadaan yang sedang terjadi.
Kandungannya juga sudah semakin terlihat. Kini usianya genap sepuluh minggu. Dan selama itu pun Evan tak pernah peduli dengan janin dalam kandungannya sedikitpun.
Tentang wanita yang bernama Chelsea, Genevia juga belum mengetahui siapa sebenarnya wanita itu. Bahkan Genevia juga tak sempat memikirkan hal lain, selain merasa tersiksa dengan perubahan sikap Evan.
Tanpa di duga, wanita yang baru saja Genevia pikirkan. Terlihat berjalan ke arahnya. Saat ini Genevia sedang pergi ke pusat perbelanjaan. Namun sialnya, Chelsea juga berada di sini.
"Hai, lama tak bertemu." Sapanya berbasi-basi pada Genevia.
Dan hal itu membuat Genevia ingin muntah, merasa jijik dengan wanita itu yang berdrama.
"Pergilah, aku muak melihatmu." Ketus Genevia pada wanita itu.
"Benarkah? Aku hanya ingin menyampaikan informasi penting. Terkait suamimu." Bisik Chelsea tepat di telinga Genevia.
"Aku tak ingin mendengarnya." Ketus Genevia berlalu pergi.
Namun langkahnya terhenti kala mendengar perkataan Chelsea yang berhasil menusuk hatinya.
"Suamimu setiap hari bersamaku. Bahkan dia juga menginap di apartment ku." Ujar Chelsea tanpa malu.
Deg
Dadanya terasa sesak, jantungnya rasanya berhenti berdetak. Sungguh Genevia tak ingin percaya dengan apa yang Chelsea katakan. Namun hatinya menolak untuk tak percaya.
Genevia membalikkan tubuhnya ke arah Chelsea. "Jelaskan!." Titahnya pada Chelsea tentang apa yang dirinya dengar.
Chelsea mendekati Genevia perlahan. Tangannya terulur menepuk pundak Genevia. Dengan tatapan tak terbaca, Chelsea berujar.
"Lepaskan jika kau memang mencintainya. Apa kau ingin menjadi beban dan sumber penderitaan untuk suamimu?" Tutur Chelsea dengan santainya.
Genevia bertambah sesak mendengar perkataan Chelsea. Benarkah dirinya selama ini menjadi beban dan sumber penderitaan Evan? Genevia sakit mendengar kenyataan itu.
"Apa kau benar kekasihnya?" tanya Genevia menahan tangis.
"Tak penting aku benar kekasihnya atau bukan. Yang terpenting adalah Evan tak mencintaimu, jadi lepaskan dia. Biarkan Evan bahagia dengan tanpa kau dan anak dalam kandunganmu." Jelas Chelsea berusaha mempengaruhi Genevia.
Setelahnya Genevia pulang ke rumah dengan keadaan kacau. Dia masih memikirkan perkataan Chelsea tentang Evan. Jika dipikir-pikir semuanya memang benar. Apa yang Chelsea katakan adalah faktanya.
"Aku ingin kau bahagia Van, berbahagialah tanpa aku dan anakku. Maafkan aku karena sudah membuatmu menderita dan menjadi bebanmu selama ini." Lirih Genevia bermonolog.
Setelah merenungkan semuanya, Genevia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Evan yang tenang sebelum kehadiran dirinya.
"Semoga kau bahagia bersama Chelsea, suamiku." Tutur Genevia menatap bangunan yang beberapa bulan ini menjadi tempat tinggalnya.
Genevia melajukan kendaraannya untuk meninggalkan kediaman Evan. Genevia memutuskan untuk pergi ke kediaman kedua orangtuanya.
Tuan dan Nyonya Besar Albert juga tak kalah terkejut melihat kedatangan putri sulungnya.
Sementara David, pria itu dapat menebak apa yang telah terjadi pada pernikahan kedua pasangan itu. Dirinya yang paham dengan watak Evan, tentu saja akan mengira hal ini terjadi.
"Jadi karena wanita itu?" tanya Genivee kepada kakaknya.
Saat ini Genevia tengah di interogasi oleh mereka. Tuan dan Nyonya Besar Albert juga tak henti-hentinya memberikan pelukan. Untuk menenangkan putrinya yang terlihat lesu dan bersedih.
Genevia menggeleng. "Karena aku ingin Evan bahagia dengan wanita yang dicintainya." Tuturnya tak bersemangat.
Dan mereka yang mendengarnya hanya mampu menghela nafas kasar.
Keesokan harinya, Genevia sudah bersiap dengan koper di sampingnya. Genivee dan David juga sudah bersiap dengan koper mereka.
"Kalian harus saling menjaga di sana. Jangan bertengkar apalagi sampai terluka. Mommy khawatir dengan kehamilan kalian." Tutur Nyonya Besar Albert dengan memeluk satu persatu mereka.
Begitupun juga dengan Tuan Besar Albert yang memberikan ultimatum untuk saling menjaga satu sama lain.
Genevia memutuskan untuk pergi sejenak me-refresh kan pikiran dan batinnya. Yang selama ini telah banyak tertekan dan stress.
Karena tak tega melihat Genevia pergi sendirian dalam keadaan hamil, Genivee dan David memutuskan untuk ikut serta. Sekalian untuk acara liburan, menghilangkan penat.
...🥀🥀🥀...
Sementara di rumah Evan. Pria itu sedang termenung setelah melihat cctv yang memperlihatkan kepergian Genevia.
Hari ini Evan memutuskan pulang ke rumah setelah lebih dari sebulan tak kunjung pulang. Niatnya hanya ingin memastikan keadaan rumah dan Genevia.
Namun saat sampai, Evan tak melihat tanda-tanda Genevia berada di rumah. Evan berpikir mungkin Genevia sedang keluar, namun saat tak sengaja netranya menangkap kejanggalan.
Meja kaca yang biasanya dipenuhi peralatan kecantikan Genevia, nampak kosong. Evan mulai berpikiran untuk membuka lemari Genevia. Dan terbukti, lemari itu telah kosong tan sisa sehelai benang pun di dalamnya.
Hingga akhirnya, Evan memutuskan untuk mengecek cctv yang terpasang di setiap susut rumahnya. Di sana terlihat jelas bagaiman Genevia yang melangkah pergi dengan menyeret kopernya.
Evan dapat melihat tangan wanita itu tak henti mengusap kedua pipi dan perutnya. Dan Evan paham apa yang ada dalam pikiran istrinya.
"Dia pergi tanpa ku minta." Gumam Evan yang nampak termenung.
Seharusnya dirinya merasa senang dengan kepergian Genevia. Namun entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman, bahkan ada perasaan sakit yang membelenggu jiwanya.
Evan belum mengetahui secara pasti alasan kepergian istrinya. Namun dirinya juga tak berniat untuk mencari tahu. Justru saat ini, Evan semakin disibukkan dengan kemajuan bisnisnya.
Setelah seminggu berlalu, barulah Evan mulai merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Jiwanya terasa hampa dan kosong semenjak kepergian Genevia.
"Apa yang terjadi padaku sebenarnya?" gumamnya.
Evan masih saja belum menyadari perasaannya pada Genevia. Pria itu terlalu tak peka dengan perasaan orang lain, apa lagi perasaan diri sendiri.
Hingga kedatangan Chelsea ke ruangannya, membuyarkan semua lamunannya tentang istrinya yang pergi.
"Lama tak bertemu. Bagaimana rasanya ditinggalkan istri cantikmu?" tanya Chelsea tersenyum smirk.
Next .......