
Evan yang baru saja pulang dari kantor merasa semakin tak menentu. Kala mendapati Genevia belum pulang ke rumah. Padahal hari sudah mulai gelap, namun istrinya belum menunjukkan tanda-tanda kepulangan.
"Kemana dia sebenarnya?." Gumam Evan yang menunggu Genevia tak kunjung datang.
Ya Genevia memang belum memberitahu Evan kepergiannya untuk menemani pemeriksaan kehamilan Genivee. Karena Genevia pikir, dirinya akan segera pulang setelah mereka selesai pemeriksaan.
Namun rupanya hal lain terjadi, Genevia pingsan dan harus stay di rumah sakit beberapa jam. Lalu kini, Genevia dilarang pulang oleh ayahnya yang khawatir pada kandungannya.
Evan yang merasa gelisah sejak tadi mencoba membuka ponselnya untuk mencari nomor istrinya. Sejak tadi dirinya merasa tak tenang. Memang seperti ini jika dirinya tak bersama Genevia.
Lain halnya jika Genevia bersamanya, perasaan gelisah itu hilang seketika dan tergantikan dengan rasa nyaman saat di dekat istrinya.
Namun belum sempat menekan nomor Genevia, terlihat sang mertua yang menghubunginya. Evan segera mengangkat panggilan itu.
"Tuan Albert?" Sapa nya pada Tuan Albert.
Meski Tuan Albert sudah memerintahkan Evan untuk memanggilnya sebagaimana Genevia. Namun menantunya tetap saja tak mendengar perintahnya, sungguh kerasa kepala seperti putri sulungnya.
"Genevia akan menginap di sini nak. Jika kau keberatan, kesini lah untuk menjemputnya. Namun kalian baru bisa pulang esok hari."
Setelah mengatakan hal itu, Tuan Albert menutup panggilannya setelah mendengar bahwa Evan akan memikirkan keputusannya.
Jelas Tuan Albert yang bukan meminta izin pada suami putrinya, melainkan seakan hanya memberitahukan. Dirinya tak akan menjelaskan alasannya, karena Genevia lebih berhak menyampaikan berita bahagia itu pada suaminya.
Tuan Albert tidak menyadari bahwa di kediamannya ada David dan juga putri bungsunya. Yang sampai saat ini belum Evan ketahui keberadaan dan pernikahan mereka.
Karena dua kabar bahagia yang hadir hari ini di kediamannya. Membuat mereka semua melupakan bahwa mereka masih harus menyembunyikan pernikahan David dan Genivee.
Sementara Evan yang mendengar perkataan Tuan Albert merasa bimbang. Dirinya tak memiliki minat untuk menginap ataupun mengunjungi kediaman mertuanya. Hubungan pernikahan mereka tak sedekat itu untuk saling berkunjung.
Namun jika dirinya tak datang, Ia akan terus merasa gelisah dan tak nyaman bila tak bersama Genevia. Lagi pula Genevia mengapa harus menginap di kediaman keluarganya. Membuatnya sulit untuk memutuskan keputusan saat ini.
Evan menjadi menyalahkan Genevia yang menginap di kediaman Albert. Tak biasanya juga, Genevia tak memberitahu kepergiannya. Karena istrinya tadi pagi hanya mengatakan akan menyelesaikan urusannya di kampus.
Ditambah kini Tuan Albert sendiri yang memberitahukan kepada dirinya bahwa Genevia akan menginap. Biasanya Genevia yang akan memberitahu Evan, dan meminta izinnya.
Meski sedikit merasa curiga, namun pikiran itu segera tertepis dengan perasaan gelisah nya. Yang kini kian semakin menyiksa. Evan masih bimbang untuk memutuskan untuk menjemput Genevia atau membiarkan istrinya menginap di sana tanpa dirinya.
"Sepertinya aku tak akan tidur jika jauh darinya." Ujar Evan.
Evan telah memutuskan untuk menjemput Genevia dan ikut menginap di kediaman Albert. Sampai saat ini dirinya masih belum memahami apa yang terjadi padanya. Sehingga ingin selalu bersama dan dekat dengan Genevia.
Karena selama ini, Evan hanya berusaha mengikuti apa kata hatinya. Asalkan dirinya tak merasa tersiksa dengan kegelisahan dan ketidak nyamanan yang ia rasakan bila jauh dari istrinya itu.
...🥀🥀🥀...
Sementara di kediaman Albert. David dan Genivee sedang berpelukan di atas ranjang. Mereka tengah mengajak bayi-bayi dalam kandungan Genivee berkomunikasi. Hal-hal sederhana yang kata dokter akan mempengaruhi perkembangan bayinya.
Mendapati bahwa Evan memilih jauh darinya, dibandingkan menyusul ke sini. Padahal akhir-akhir ini, setahu dirinya suaminya itu tak dapat jauh darinya. Dan ingin terus menempel. Menginginkan hal itu, Genevia mulai berpikir.
"Apa keanehan Evan selama ini terjadi ada kaitannya dengan janin yang sedang ku kandung?" tanya Genevia mulai berpikir pada dirinya sendiri.
Dirinya pernah mendengar adanya pengaruh-pengaruh kehamilan seorang wanita pada ayah dari bayinya. Namun tak begitu yakin adanya hal itu. Namun jika benar apa yang terjadi pada Evan karena kandungannya. Kemungkinan bayinya pula yang akan menyatukan cinta mereka kelak.
Kembali pada David dan Genivee yang sedang asik berceloteh dengan bayi-bayi dalam kandungannya. Tiba-tiba David menyadari sesuatu.
"Bukankah kita masih harus merahasiakan pernikahan dari Evan?" tanya David yang bangkit dari posisi berbaring nya.
Mendengar perkataan David, Genivee menjadi terkejut. Dirinya ikut merubah posisi menjadi duduk. "Benar, astaga aku lupa Dav. Bagaimana ini? sepertinya Daddy dan yang lain juga tak ingat."
Mereka berdua segera bergegas menuju kamar Genevia, yang membuat segala lamunan Genevia tentang Evan menjadi buyar. Kemudian mereka juga membangunkan kedua orangtuanya yang mungkin telah terlelap.
Genevia dan David berhasil, mereka saat ini tengah berkumpul di ruang keluarga dengan wajah yang terlihat mengantuk.
"Ada apa nak, kau membangunkan semua orang?" Tanya Tuan Albert segera.
Genivee sebenernya merasa bersalah telah membangunkan kedua orangtuanya yang telah terlelap. Namun harus bagaimana, ini situasi yang gawat.
"Dad, bukakan kita masih harus merahasiakan pernikahan ku dari Evan Sanders? Lalu bagaimana jika Evan datang dan melihat aku dan David berada di sini?" Jelas Genivee.
Mereka semua terkejut kecuali David yang lebih dulu tahu. Benar, mereka melupakan fakta itu. Kini mereka terlihat mulai bingung dengan situasi yang terjadi. Namun ada satu wajah yang menunjukkan raut lega namun tersirat kekecewaan.
"Kalian tak perlu khawatir. Evan tak akan datang ke sini." Ujar Genevia yang sebenarnya kecewa dengan keputusan Evan. Namun dirinya juga lega, dengan begitu pernikahan Genivee dan David tak akan terbongkar dihadapan Evan.
Dan semua orang yang ada di sana tak menyadari rasa kecewa yang tersirat pada wajah Genevia. Karena mereka lebih fokus pada kekhawatiran mereka dengan terbongkarnya rahasia itu.
"Apa kau yakin nak?" tanya Tuan Albert merasa tak yakin dengan perkataan Genevia.
"Yakin Dad, hari sudah gelap tak mungkin Evan akan datang begitu larut." Kekeh Genevia yang tetap yakin.
Mereka membenarkan perkataan Genevia yang logis. Dan mereka setuju untuk kembali ke kamar masing-masing melanjutkan istirahat yang sempat terganggu.
Berbeda dengan mereka, David menunjukkan pemikiran yang lain. Dirinya mengenal Evan dengan baik, bagaimana tidak jika mereka adalah adik dan kakak kandung.
"Aku memiliki firasat lain. Aku mengenal bagaimana Evan, jika dia datang pada larut malam mungkin saja terjadi." Jelas David mengutarakan pendapatnya.
Mendengar penuturan David, semua orang membenarkan. Bagaimanapun, David pasti lebih mengenal Evan. Kini Mereka masih memikirkan cara untuk mengahadapi situasi ini.
Hingga suara kedatangan seseorang membuyarkan konsentrasi mereka yang sedang berdiskusi.
Next .......