WINDING LOVE

WINDING LOVE
CURIGA



"Jelaskan padaku, tujuan mu datang kemari?" Ujar Genevia mencoba tetap tegar dan bersikap tegas.


"Aku hanya ingin menyapamu dan suamimu. Tapi rupanya Evan sedang tak di rumah. Bisakah kau memintanya untuk pulang?" Tutur Chelsea dengan congkak.


Mendengar perkataan Chelsea, Genevia semakin geram. Meski awalnya merasa bersedih dan ingin menangis. Namun melihat bagaimana sikap Chelsea yang tak tau malu, membuatnya yakin untuk jangan menunjukkan kelemahan di hadapan wanita itu.


"Aku tak menerima tamu begitupun suamiku. Jadi kau pergilah dari rumah suamiku!" tegas Genevia pada Chelsea.


Mendengar jawaban Genevia, Chelsea justru kembali tertawa. "Rupanya kau hanya mencari alasan bukan, karena Evan tak akan mungkin pulang hanya karena permintaanmu." Sinis nya pada Genevia.


"Apa kau pikir, Evan juga akan pulang hanya dengan permintaan mu?" balas Genevia dengan bersikap acuh.


Chelsea mengeluarkan ponselnya, dengan menyeringai dirinya menekan nomor Evan, guna menghubungi pria itu.


Sementara Genevia hanya bersikap acuh pada tindakan yang Chelsea lakukan. Dirinya terkesan tak peduli dengan apa yang wanita itu sedang rencanakan.


"Aku sedang di rumahmu, Evan." Ujar Chelsea tersenyum menatap Genevia.


"Kita lihat, dalam beberapa menit suamimu akan berada di di sini bersama kita." Ujar Chelsea tersenyum angkuh.


Genevia tampak tak begitu yakin dengan perkataan Chelsea. Namun melihat wanita itu yang begitu yakin, membuatnya sedikit percaya. Benarkah Evan akan pulang, hanya dengan panggilan dari Chelsea. Yang telah wanita itu lakukan.


Jika benar hal itu akan terjadi, dapat dipastikan Evan memang memiliki suatu hubungan dengan Chelsea. Genevia tak tahu hubungan seperti apa, tapi sepertinya mereka cukup saling mengenal satu sama lain.


Sementara di perusahaan, Evan nampak tergesa-gesa untuk segera pulang. Mendapatkan panggilan dari wanita yang bernama Chelsea, di tambah keberadaan wanita itu di rumahnya. Membuat Evan memutuskan untuk segera pulang, melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.


Keadaan Genevia yang tengah hamil juga menjaga alasan dirinya harus segera pulang. Karena dirinya takut, Chelsea akan melakukan sesuatu pada janin dalam kandungan Istrinya.


Meski dirinya tak begitu menginginkan janin itu. Namun tetap saja sebagai seorang ayah, dirinya merasa tak rela. Jika terjadi sesuatu pada janin yang merupakan darah dagingnya itu.


Dengan terburu-buru Evan mengemudikan kendaraannya untuk menuju pulang ke rumahnya. Rumah yang beberapa bulan ini, dirinya tempati bersama Genevia. Istri yang tengah mengandung benihnya.


Setelah menempuh perjalanan yang tak begitu jauh namun juga tak begitu dekat. Evan akhirnya sampai di pekarangan rumahnya. Segera dirinya turun dari kendaraan dan masuk ke dalam.


Mencari keberadaan dua wanita yang sedang berada di rumahnya. Siapa lagi, jika bukan Genevia sang istri dan Chelsea si wanita pengganggu.


Setelah sampai di area dapur, dapar Evan saksikan. Sang istri yang tengah sibuk dengan kegiatannya, sedangkan Chelsea sedang sibuk bermain dengan ponselnya.


Melihat wanitanya baik-baik saja, membuat Evan bernapas lega. Dirinya begitu khawatir jika Chelsea melakukan sesuatu terhadap Genevia. Seperti yang dirinya ketahui, wanita itu memang dapat melakukan hal apapun di luar nalar.


Namun melihat istrinya baik-baik saja, berarti Chelsea tak melakukan hal apapun terhadap wanitanya. Evan tak tahu saja, bahwa Chelsea telah melukai Genevia meski bukan fisik melainkan mental dan hatinya. Bukankah hal itu justru lebih sakit dibanding luka fisik.


"Kau ikut dengan ku!" Titah Evan yang setelah dekat dengan kedua wanita itu.


Genevia menatap penuh tanya, terbesit kesedihannya di mata dan juga hatinya. Benar apa yang Chelsea katakan, suaminya pulang hanya karena panggilan yang wanita itu lakukan. Hubungan apa yang terjalin di antara mereka, sebenarnya?


Ditambah lagi, suaminya justru langsung mengajak wanita itu untuk pergi entah ke mana. Menambah pemikiran buruk semakin bersarang di otaknya.


Genevia bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan sesak. Meski merasa sedih, Genevia mencoba meredam pikiran buruknya, karena dirinya juga tak ingin akan berpengaruh buruk pada janin dalam kandungannya. Juga biarkan Evan yang nanti akan menjelaskan padanya.


Karena Evan lebih memilih mengajaknya pergi dibandingkan memperdulikan Genevia. Padahal pria itu baru saja pulang dari perusahaan.


Evan meminta Chelsea mengikuti dirinya menuju ruang kerja. Meninggalkan Genevia yang masih sibuk berkutat di dapur. Menatap nanar Evan dan Chelsea yang semakin berjalan menjauh.


Sebenarnya Genevia merasa penasaran dan ingin menguping pembicaraan mereka. Namun jika dirinya ketahuan, bisa saja Chelsea akan bertambah merasa menang. Karena berhasil membuat dirinya panas dan akhirnya melakukan tindakan konyol dengan menguping.


Setelah punggung kedua orang itu tak terlihat lagi. Genevia segera merapikan perlengkapan dan bahan yang baru saja dirinya gunakan. Kemudian puding dan cake yang selesai dirinya buat, ia letakkan di dalam lemari es terlebih dahulu.


Biarkan nanti malam saja akan diberikan pada Evan. Toh saat ini suaminya sedang sibuk dengan wanita lain. Jadi dirinya tak ingin menunggu dua manusia itu. Selain karena takut hatinya merasa bertambah sedih, Genevia juga merasa badannya pegal.


Sepertinya usia kandungan yang masih muda, membuatnya sedikit akan sulit untuk melakukan kegiatan kegiatan yang memakan tenaga. Akhirnya Genevia berjalan untuk memasuki kamar.


Saat sampai di dalam kamarnya, terlihat banyak notifikasi panggilan di ponselnya. Saat dirinya hendak duduk di ranjang untuk melihat-lihat ponselnya. Tertera nama sang kembaran di sana.


Karena merasa tak enak, akhirnya dirinya memanggil balik kembarannya. Deringan pertama belum diangkat oleh Genivee.


"Apa dia marah?" gumam Genevia saat panggilannya tak juga diangkat oleh Genivee.


Membuat dirinya berpikir apakah Genivee merajuk, karena panggilannya yang lebih dari lima kali tak dirinya angkat.


Namun pemikiran Genevia segera tertepis, saat panggilan kedua yang dirinya lakukan akhirnya direspon oleh Genivee.


"Mengapa lama kau mengangkat panggilan ku?" tanya Genevia.


Padahal selama ini, Genivee adalah orang yang tak pernah telat mengangkat panggilan apapun. Maka tadi dirinya berpikir, adiknya itu sedang merajuk karena panggilannya tak dirinya segera angkat.


"Adik ipar kakak yang membuat ku melakukannya." Tutur Genivee dengan terkekeh, menyalahkan kelakuan David.


Genevia menghela nafas pelan. Mengerti maksud perkataan Genivee. Apalagi jika bukan kegiatan bercinta yang mereka lakukan.


"Ya baiklah. Lalu ada apa kau menghubungiku dari tadi?" tanya Genevia tak ingin membahas kegiatan ranjang pasangan itu.


"Aku hanya ingin bertanya hubungan kakak dan kakak ipar bagaimana? Apa baik-baik saja?" Tanya Genivee yang nampak khawatir.


Kehamilan sang kakak membuatnya merasa harus selalu memantau keadaan pernikahan kakaknya. Karena jika terjadi sesuatu, seperti tertekan batin Genevia. Akan sangat berpengaruh pada kandungan kakaknya itu.


Awalnya Genevia tak ingin menceritakan tentang Chelsea. Namun setelah Genivee memaksa terus-menerus, membuat Genevia akhirnya menceritakan kehadiran wanita itu.


...🥀🥀🥀...


"Dav, apa kau mengenal wanita bernama Chelsea? Apakah wanita itu pernah dekat atau memiliki hubungan dengan Evan?" tanya Genivee setelah Genevia selesai mencurahkan kisahnya pada sang adik.


David terkejut bukan main mendengar nama wanita itu disebut .


"Dia dia..."


Next .......