WINDING LOVE

WINDING LOVE
MERASA KEHILANGAN



Semenjak kejadian pertemuan mereka di rumah makan waktu itu, sikap Genevia berubah kepadanya. Wanita itu terlihat lebih cuek dan terkesan tidak peduli sama sekali padanya.


Jika sebelumnya Genevia selalu tersenyum kepadanya dan menjalankan tugas-tugasnya sebagai istri. Sekarang semuanya terlihat berbeda, Genevia tidak lagi pernah memberikan senyuman kepadanya.


Meski mereka masih rutin melakukan kegiatan ranjang bersama, namun tak sehangat bisanya saat Genevia menikmatinya. Akhir akhir ini Genevia terlihat terpaksa saat mereka melakukannya.


Entah mengapa Evan merasa ada yang hilang dari hatinya, hanya tersisa sebuah kekosongan dan kehampaan membuatnya sesak. Ia merasa seperti kehilangan sesuatu namun ia tidak mengerti apa yang telah hilang dari segala yang ia alami selama ini.


Tak ingin pusing memikirkan hal yang tidak pasti ia ketahui, Evan memutuskan menyibukkan diri dengan tumpukan berkas yang setia menunggunya.


Sepulangnya Evan dari kantor, ia mencoba menghubungi Genevia untuk menawarkan jemputan. Entah mengapa ia ingin melakukannya, ia ingin Genevia kembali bersikap seperti biasanya tidak seacuh ini kepadanya.


“Ada apa Van?” tanya Genevia dari seberang sana.


Bahkan cara bicaranya saat ini lebih acuh tidak selembut dulu, Evan merasa ada yang hilang.


“Apa kau tidak ingin aku menjemputmu?” tanyanya menawarkan diri tetap dengan sikap datarnya.


“Tidak, aku mampu mengemudikan mobil sendiri.”


Jawab Genevia di seberang sana dan langsung menutup panggilan. Seolah membalas kebiasaan Evan yang sering menutup panggilan dahulu tanpa menunggu jawaban orng lain.


Evan menghela nafas untuk menahan gemuruh hatinya, baru kali ini ada seseorang yang berani memutus panggilannya sepihak. Namun ia tak dapat marah kepada Genevia, entah mengapa ia tidak sanggup marah pada istrinya itu.


Berbeda dengan Genevia yang memandang nanar ponselnya. Ia melakukan semua hal ini demi membatasi hatinya untuk tidak lagi jatuh pada pesona Evan, suaminya yang mampu membuatnya terpesona.


Sesampainya di rumah Evan, Genevia segera membersihkan diri dan menyempatkan diri untuk makan di sore hari.


Ia akan mengunjungi rumah orangtuanya dan menginap di sana, hatinya merasa tidak kuat lama-lama menahan diri untuk bersikap acuh pada suaminya. Maka ia akan meminta solusi dari kedua orangtuanya.


Setelah menyelesaikan kegiatan makannya, ia mencari Evan yang ia ketahui telah pulang tiga puluh menit sebelum dirinya. Ia mengetuk pintu Evan untuk memanggil sang pemiliknya. Setelah dibukakan oleh suaminya, ia segera mengatakan maksud dan tujuannya mencari Evan.


“Aku akan mengunjungi orangtuaku dan menginap di sana. Apa kau mengizinkannya?” Genevia merasa perlu untuk meminta izin suaminya.


Evan mengangguk mengerti, tentu ia akan mengizinkan istrinya untuk mengunjungi orangtuanya. Namun tidakkah Genevia berbasa-basi untuk mengajaknya? Meski belum tentu ia akan ikut, namun bagaimana pun ia merupakan menantu Albert meski pernikahan mereka atas dasar kerja sama.


“Apa kau tidak ingin menawarkan aku untuk ikut? ” tanyanya to the point.


Genevia tentu saja terkejut mendengar pertanyaan Evan, apa pria itu ingin pergi bersamanya untuk mengunjungi orangtuanya? Apa ia tidak salah dengar?.


Setahunya Evan merupakan orang yang tidak suka membuang-buang waktu, jadi ia berpikir Evan tidak mungkin akan ikut bersamanya. Namun jika pria itu menginginkannya, baiklah ia kan mengabulkan.


“Baiklah, kita akan pergi bersama” ujar Genevia akhirnya.


NEXT .......