
Genevia yang mendengar perkataan Evan yang melarangnya untuk keluar rumah hari ini menjadi kesal. Padahal hari ini dirinya ada urusan di kampus, terlebih saat ini dirinya kesiangan.
"Aku tak peduli Van, hari ini aku harus ke kampus." Tegas Genevia kepada suaminya.
Salah sendiri kenapa Evan bangun kesiangan sehingga tak pergi ke kantor. Atau jangan-jangan memang Evan memang tidak berniat bekerja hari ini, makanya sengaja bangun kesiangan. Entahlah, Genevia tidak ingin pusing memikirkan yang sebenarnya.
Genevia bergegas menuju bathroom untuk membersihkan diri dan bersiap. Tanpa ingin mendengar jawaban Evan yang kemungkinan kembali melarangnya.
Sementara Evan yang melihat Genevia berlalu dari hadapannya merasa geram karena Genevia tidak mengindahkan larangannya. Hingga ia beranjak dari tempat tidur dan menyusul istrinya menuju bathroom.
Evan mengetuk pintu yang rupanya dikunci dari dalam oleh istrinya. Tak lama kemudian, Genevia menyembulkan kepalanya untuk menanyakan maksud dan tujuan Evan mengganggunya yang sedang membersihkan diri.
"Ada ap ..." belum sempat Genevia menyelesaikan perkataannya, dirinya lebih dulu terdorong oleh Evan yang tanpa permisi masuk ke dalam bersamanya dan mengunci pintu kembali.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Genevia terkejut dengan apa yang baru saja Evan lakukan.
"Aku ingin membersihkan diri." Ujarnya dengan datar.
"Baiklah, aku akan mandi setelah kau selesai." Ujar Genevia hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari bathroom.
Namun langkahnya tertahan kala lengannya dicekal oleh tangan Evan. Dan dirinya dibuat terkejut kala Evan mendorongnya dengan cepat menuju shower yang akhirnya membasahi tubuh mereka berdua.
"Van apa yang ..." ucapannya kembali terpotong oleh tindakan Evan yang tiba-tiba menyatukan bibir keduanya.
Genevia mencoba menghentikan tindakan Evan dengan memukuli dada pria itu supaya melepaskan tautan bibir mereka. Namun hasilnya nihil, tenaganya kalah kuat dengan tenaga yang Evan miliki.
Sebenarnya Genevia tak masalah dengan kegiatan yang mereka lakukan ini. Namun dirinya harus segera ke kampus, tak bisa ditunda lagi karena dirinya telah bangun kesiangan.
Dan dengan tindakan yang Evan lakukan ini, tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan hal yang lebih lagi. Tentu saja hal itu akan membuat kegiatan membersihkan diri mereka menjadi semakin lama karena dibarengi dengan kegiatan lainnya.
Berulang kali Genevia mencoba menghentikan Evan, namun usahanya terasa sia-sia. Kini dirinya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Evan lakukan padanya. Juga tentang rencananya untuk ke kampus, ia rasa akan gagal hari ini.
Dan rupanya benar, apa yang Genevia takutkan terjadi juga. Evan benar-benar mengajak dirinya melakukan kegiatan bercinta sebagaimana yang biasa mereka lakukan. Tak ada yang dapat dirinya lakukan saat ini, selain hanya pasrah dengan keadaan yang terjadi.
Setelah cukup lama, akhirnya kedua insan yang saling menyalurkan rasa itu keluar dari bathroom dengan ekspresi yang tampak berbeda. Jika Evan berekspresi datar sebagaimana biasanya, tidak dengan Genevia yang terlihat sekali cemberut menahan sebuah kekesalan yang mendalam.
Saking kesalnya sampai dirinya lupa bahwa pria yang sudah membuatnya kesal itu merupakan pria yang ia cintai selama ini. Pria yang sampai saat ini masih ia perjuangkan untuk memenangkan hatinya.
Namun semua perasaannya itu terasa sirna dan terlupakan karena perbuatan Evan yang membuat dirinya kesal. Hari ini ia gagal ke kampus untuk mengurus hal-hal penting terkait perkuliahan.
...🥀🥀🥀...
Tak terasa telah tiga minggu berlalu sejak kejadian Evan yang mengajak Genevia bercinta di kamar mandi, hingga saat ini sikap Evan masih sama seperti tiga minggu yang lalu.
Namun saat dirinya harus pergi ke kampus untuk mengurus urusan perkuliahan, Evan juga tak melepaskan dirinya sama sekali. Justru pria itu yang membolos bekerja demi bersama dengannya, dan mengantarnya ke kampus.
Tentu saja yang terjadi selama ini membuat hatinya merasa bahagia. Karena dirinya menjadi memiliki banyak kesempatan untuk membuat Evan luluh kepadanya.
Dengan membuat pria itu ketergantungan dengan kehadirannya, kemungkinan besar Evan akan merasa kerinduan yang mendalam jika jauh darinya.
Awalnya Genevia merasa aneh dengan sikap Evan yang berubah secara tak terduga, bahkan terkesan tiba-tiba. Dan Genevia tak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya.
Karena apapun alasannya yang terpenting saat ini baginya adalah Evan yang akan terus menempel padanya. Dan tak bisa jauh-jauh darinya.
Juga selama ini Genevia tak pernah berhenti memberikan seluruh perhatian sebagai bentuk rasa cintanya kepada Evan untuk membuat pria itu semakin terpikat dengannya.
Meski sikap Evan masih saja tetap dingin kepadanya, namun Genevia tak masalah. Mungkin watak Evan memang seperti itu, tak bisa bersikap hangat kepada orang lain.
Sekalipun istrinya, atau seseorang yang dekat dengannya. Genevia selalu mencoba untuk berpikir positif tentang suaminya, supaya dirinya tak akan mudah menyerah dengan usahanya.
Dari apa yang Genevia amati selama ini, Ia dapat melihat belum ada cinta Evan untuk dirinya. Namun terkadang dirinya jadi bingung, padahal Evan jelas-jelas belum mencintainya. Tapi mengapa pria itu selalu ingin di dekatnya, senantiasa menempel padanya.
"Aku tak bisa ikut ke kantor, karena harus ke kampus." Ujar Genevia kepada Evan yang sedang bersiap.
Mendengar perkataan istrinya, Evan menoleh sekilas pada Genevia. Kemudian terdiam sejenak tampak berpikir.
Jika biasanya dirinya akan membatalkan niatnya untuk pergi ke kantor, dan mengantar Genevia ke kampus. Namun kali ini dirinya tak bisa untuk tak pergi bekerja, karena ada rapat penting dengan klien yang lumayan berpengaruh pada perusahaannya.
Akhirnya Evan menghela nafas. "Pergilah, aku ada rapat penting hari ini. Tak bisa mengantarmu." Ujar Evan setelah memutuskan keputusan yang menurutnya terbaik.
Genevia mengangguk sebagai jawaban atas perkataan Evan. Kini dirinya akan bersiap untuk kuliah, setelah selesai menyiapkan keperluan Evan.
Masih seperti biasanya, Genevia mengiringi Evan sampai pria yang berstatus suaminya itu meninggalkan pekarangan rumah. Tak lupa juga sebuah kecupan di pipi sebagai semangat pagi.
Genevia melangkahkan kakinya memasuki rumah untuk segera bersiap berangkat ke kampus. Jika biasanya Keiko akan ikut Jiak dirinya pergi seorang diri, namun kali ini hal itu tak akan terjadi.
Karena gadis cantik itu telah kembali ke negaranya. Keiko sudah harus kembali pada rutinitasnya yang berprofesi sebagai seorang model. Sehingga Ia harus meninggalkan sepupu dan istrinya yang hubungannya sebenarnya belum menunjukkan ke arah yang baik.
Saat dalam perjalanan, ponsel Genevia terdengar bergetar. Ketika ia lihat, rupanya sang saudara kembar calon ibu.
"Ada apa Vee?" Genevia mengangkat panggilan dari adiknya, setelah berhasil menepikan kendaraannya di pinggir jalan. Supaya tak menghalangi kendaraan lain untuk lewat, terutama menghindari terjadinya kecelakaan.
Next .......