WINDING LOVE

WINDING LOVE
MERINDUKAN



“Kei, kau tidur di kamar bersamaku.” Tutur Genevia pada Keiko yang tengah siap-siap untuk menuju ruang tamu.


“Apa kalian akan nyaman tidur berdua?” Tanya Nyonya Albert yang mengedepankan kenyamanan tamu yang hadir di kediamannya. Apalagi Keiko merupakan anggota keluarga mereka saat ini.


“Dia akan nyaman Mom, aku akan pastikan.” Ujar Genevia dengan yakin. Menyela Keiko yang hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Nyonya Albert.


Genevia yang selama menikah senantiasa tidur bersama suaminya, Evan. Kini merasa tidak nyaman bila harus tidur sendirian. Terlebih ia yakin, akan merasa kesepian tidur seorang diri di kamar sebesar itu.


Belum lagi, dirinya pasti akan merasa merindukan Evan. Setidaknya jika ada seseorang yang tidur berbaring bersamanya, dirinya tidak akan merasa kesepian. Dan tidak akan terlalu merindukan Evan.


“Iya Mom, aku akan nyaman bersama Genevia.” Ujar Keiko dengan tersenyum.


Nyonya Albert memang memintanya untuk memanggilnya dengan panggilan yang sama dengan kedua putrinya. Supaya mereka tidak merasa dibeda-bedakan, dan dapat lebih dekat.


Genevia dan Keiko telah berbaring di sisi tempat tidur saling berdampingan. Genevia maupun Keiko tidak dapat tidur padahal sudah setengah jam yang lalu mereka membaringkan diri di ranjang empuk itu.


“Kau belum tidur?” tanya Keiko menoleh ke sampingnya, ketika merasakan ranjang yang tempati terasa bergerak.


“Hem ... kau juga belum tidur Kei.” Jawab Genevia menanggapi pertanyaaan Keiko yang mengatakan dirinya belum tidur. Rupanya, Keiko juga belum terlelap seperti dirinya.


“Aku merindukan sepupumu Kei.” Keluh Genevia mengatakan alasannya yang membuat dirinya kesulitan untuk tidur.


Entah mengapa, padahal belum sehari jauh dari suaminya. Genevia telah merasa rindu kepada pria tampan yang sayangnya sellau dingin dan acuh kepada dirinya.


Meski dirinya tahu hal itu merupakan watak seorang Evan Sanders, namun tetap saja Genevia merasa sesak dengan sikap Evan yang seolah tak pernah peduli padanya.


Keiko menghela nafas pelan, rupanya alasan Genevia adalah merindukan Evan sepupu dinginnya itu.


“Hubungi saja, pasti dia belum tidur saat ini.” Titahnya pada Genevia yang masih terdiam menatap langit-langit kamarnya.


“Mungkin dia tak akan mengangkatnya, karena bukan panggilan penting.” Tutur Genevia lirih, ia merasa mulai tidak percaya diri untuk hanya sekedar menghubungi Evan saja.


“Wah di mana rasa percaya dirimu yang kemarin? Mengapa kau tampak layu sekali saat ini?” Ujar Keiko merasa heran dengan perubahan Genevia yang terlalu singkat menurutnya.


Genevia menghela nafas berat, ia juga tak tahu mengapa menjadi pesimis begini. Rasanya ia telah lelah dengan semua skenario kehidupannya ini.


“Entahlah Kei, aku merasa Evan sepertinya tidak akan luluh padaku sampai kapan pun.” Tutur Genevia lirih.


Mendengar penuturan Genevia yang terlihat putus asa, Keiko mengalihkan tatapannya pada Genevia. Rasanya kata pesimis ataupun putus asa tidak cocok tersemat pada istri sepupunya itu.


“Hei, apa hanya sebesar itu usahamu untuk meluluhkan nya? Ayolah Nevia yang aku kenal sepertinya tidak mudah putus asa seperti ini.” Ujar Keiko mencoba membuat Genevia supaya tetap berusaha untuk meluluhkan suaminya.


Genevia hanya diam seribu bahasa tanpa menanggapi dengan apapun perkataan Keiko yang meminta dirinya untuk tidak menyerah. Di satu sisi dirinya lelah dengan semua hal ini, namun di sisi yang lain dirinya juga tidak ingin melepaskan Evan sebenarnya.


...🥀🥀🥀...


Di tempat yang lain, terlihat seorang pria tampan dengan wajah datarnya sedang termenung dengan menatap ponselnya di ruang kerja.


Sejak dirinya pulang dari perusahaan, tangannya terasa gatal untuk menghubungi seseorang yang entah mengapa sejak meminta izin padanya untuk menginap di rumah kedua orangtuanya membuat dirinya merasa ingin sekedar hanya melihat atau mendengar suaranya.


Namun sejak tadi, niatnya itu tidak dapat terealisasikan karena ia merasa bukanlah hal yang tepat melakukan tindakan itu. Drinya juga tak mengerti mengapa kini merasa gelisah atas keberadaan wanita yang berstatus istrinya, yang detik ini tidak ada bersamanya.


Namun detik berikutnya, Evan tersadar dengan pikiran-pikiran konyol yang sejak tadi menguasainya. Sepertinya dirinya telah terbiasa dengan keberadaan istrinya, hingga membuat dirinya merasa seperti ini. Evan yang tak ingin berlarut-larut dalam pikirannya yang tampak konyol menurutnya, segera bangkit berdiri untuk melangkah menuju kamarnya.


Evan memutuskan untuk membersihkan dirinya, karena sepulang dari kantornya ia langsung menuju ruang kerja yang terdapat di rumahnya. Selain karena telah merasa tubuhnya gerah dan lengket, Evan juga ingin menyegarkan pikirannya dari apa yang sejak tadi mengganggu dirinya. Pikiran yang terasa konyol, baginya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Evan siap untuk membaringkan tubuhnya di ranjang yang selama ini ia tiduri bersama Genevia. Evan menoleh sekilas pada sisi ranjang di mana biasnya Genevia tidur di sampingnya.


Evan menghela nafasnya kasar, kala pikirannya kembali teringat tentang wanita cantik yang berstatus istrinya itu.


Namun belum sempat dirinya membaringkan diri, terdengar suara yang berasal dari ponselnya yang berada di nakas sampingnya.


Menandakan terdapat panggilan masuk sedang menghubungi dirinya. Evan mengurungkan niatnya untuk berbaring, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengangkat panggilan yang sedang berlangsung.


Setelah ia lihat, rupanya wanita cantik yang merupakan sepupunya yang saat ini sedang menghubungi dirinya. Evan pun menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan dari Keiko, sepupunya.


“Apa kau sibuk Van?” tanya Keiko di seberang.


“Ada apa kau menghubungiku?” tanpa menjawab pertanyaan Keiko, Evan justru menanyakan tujuan Keiko menghubungi dirinya.


Tak biasanya sepupu yang telah membuat rencananya berantakan tempo hari menghubungi dirinya di malam hari seperti ini. Karena biasanya di jam-jam seperti ini, Keiko sedang asik mengobrol dengan kekasihnya yang ia ketahui keturunan Jepang tulen melalui jaringan seluler.


Dari seberang sana, terdengar Keiko menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tetap saja, melalui komunikasi apapun sepupunya itu tetaplah tampak acuh dan dingin. Lama kelamaan dirinya ikut merasa kesal dengan kelakuan Evan yang bersikap dingin pada Genevia.


Jika terhadap keluarganya, Keiko dapat memaklumi karena mereka telah terbiasa dengan sikap Evan yang terkesan tidak peduli. Namun jika kepada Genevia, Keiko tahu seberapa dalam Genevia mencintai Evan.


Pastilah Genevia akan senantiasa merasa terluka jika Evan bersikap dingin dan acuh kepada wanita cantik yang menjadi istri sepupu dinginnya itu.


“Apa aku dilarang untuk menghubungimu?” ujar Keiko dengan kesalnya.


Tak tahukah sepupunya itu, bahwa saat ini istrinya sedang merindukan dirinya yang sedang tak berada bersamanya. Namun istri sepupunya itu bahkan tak berani untuk hanya sekedar untuk menghubungi saja, karena takut mengganggu Evan.


Dan juga takut tidak dihiraukan karena dianggap bukan panggilan yang termasuk penting menurut Evan.


NEXT .......