
Sementara di tempat yang terlihat tenang dan damai, terlihat dua wanita yang tengah berbadan dua sedang asik bercanda dan saling tertawa. Hingga tawa mereka terhenti kala seorang pria datang menghampiri mereka.
"Sayang, aku belum lapar." Ujar Genivee yang tampak tak berselera sama sekali, ketika sang suami membawakan sebuah sajian yang berisi makanan sehat yang dipastikan untuk dirinya dan kembarannya yang juga tengah hamil.
Akhir-akhir ini, Genivee memang tak memilki nafsu makan yang baik. Hingga membuat David kelimpungan untuk membujuk Mommy dari anak-anaknya supaya mau mengisi nutrisi. Baik untuk diri sendiri maupun keuda bayi ddalam kandungannya.
"Sayang, tapi baby-baby kita pasti kelaparan. Aku suapi, jangan menolak lagi." Tegas David yang tak ingin dibantah oleh Genivee.
"Kalian benar-benar membuat aku iri." Gerutu Genevia yang melihat keromantisan mereka.
Membuat dirinya menjadi merindukan suaminya yang telah Ia tinggalkan. Dan mungkin saja, akan segera menjadi mantan suami. Karena Evan pasti juga akan segera mengurus perceraian mereka.
Karena yang dirinya tahu selama ini, Evan seakan menanti perpisahan bersamanya. Mengingat hal itu, membuat Genevia tersenyum miris.
Betapa bodoh dirinya selama ini, yang telah berusaha memperjuangkan hal mustahil yang ia pikir dapat terjadi. HIngga akhirnya, kenyataan lah yang membuat dirinya sadar.
Dan memutuskan pergi untuk melepaskan diri dari rasa tersiksa. Juga membebaskan seseorang yang Ia cintai dari sebuah beban, yaitu dirinya. Atau mungkin bahkan juga janin dalam kandungannya.
Genevia bertambah sendu, mengingat kehadirannya memang tak Evan inginkan. Buktinya, tak ada kabar sama sekali tentang suaminya yang mencari dirinya. Atau hanya sekedar menanyakan keberadaan anak dalam kandungannya, yang merupakan darah daging Evan.
"Kau juga harus makan Nevia, janin dalam kandunganmu pasti juga merasa lapar." Tutur David menginterupsi istri dari adiknya, yang tengah mengandung keponakannya.
David menyerahkan menu satunya untuk Genevia, kemudian dirinya sibuk kembali membujuk istrinya dan menyuapkan makanan pada Genivee.
"Aku akan memakan ini di sana. Tak ingin panas dengan adegan yang kalian lakukan." Tutur Genevia menunjuk gazebo yang ada di sana.
"Hei kau sendiri lihat, makan harus dimanja. Sepertinya ungkapan itu lebih cocok aku berikan untukmu." Balas Genevia menggoda adiknya. Kemudian berlalu menuju tempat yang ingin dirinya tuju.
"Dia selalu saja memilki jawaban." Gumam Genivee kesal.
Membuat David terkekeh pelan. "Benar apa yang Genevia katakan, makan lagi Sayang." Tutur David dengan menyodorkan makanan pada Genivee.
Dan perkataan David mendapat tanggapan malas dari Genivee. "Dav, apa yang akan kita lakukan? Aku tak pernah menduga, hal ini akan terjadi." Tanya Genivee.
Genivee menanyakan rencana yang akan mereka lakukan untuk membantu hubungan Evan dan Genevia. Karena kepergian Genevia dari rumah Evan, sama sekali tak terprediksi oleh mereka.
Hingga rencana awal yang sudah mereka susun, seketika menjadi berantakan. Karena uuntuk saat ini, tak akan penting lagi mengetahui alasan dibalik kedatangan Chelsea.
Karena nyatanya, kelakuan wanita itu sudah berhasil membuat kakaknya pergi meninggalkan Evan.
David menghela nafas pelan. "Kita akan menunggu kedatangan Evan. Mungkin beberapa jam lagi, dia sudah sampai di sini." Tutur David.
"What! Bagaimana ...?" tanya Genivee yang tak mampu lagi berkata-kata.
Genivee tak pernah menyangka kalau suami kakaknya itu akan menyusul sampai ke sini. Karena setelah sekian hari kepergian Genevia, sepertinya pria itu msih santai-santai saja. Lalu apa yang membuatnya berubah pikiran sekarang.
Next .......