The Revengers

The Revengers
Eps.8



Dua hari sebelum menjelang turnamen bola basket. Aku dan rekan-rekan setim ku yang sudah terpilih bersiap untuk kembali latihan. Alhasil kami di berikan ruang untuk tidak mengikuti jam pelajaran ke dua tiga agar dapat latihan.


"Waktunya sangat singkat sekali. Dan untung nya rempah-rempah ibu gue sanggup menenangkan cabe-cabean yang gue makan kemarin."Vano mengelus-elus perut ratanya.


Ian yang fokus pada lawan bicara,"Lu sakit perut?".


"Menurut lu?Ibu gue ceramah sepanjang malam sambil kasih minyak angin. Anjing gue terhura".


"Cet, cet, menyedihkan besok-besok kalian coba lagi ya."Timbal Dani.


"Loh, loh, ngajak ribut Ian. Hancurkan."Vano berjalan mendekati Dani yang di susul oleh Ian yang ikut menyiksa.


Tatapan mata yang malas dan ekspresi wajah yang datar. Terlihat terfokus sejak tadi memperhatikan ketiga hama pengganggu ini.


"Berhenti kalian bertiga."Ucap Brian pada mereka. Ya mau tidak mau Brian harus turun tangan karena dia adalah Ketua kelas dan ketua tim ini.


Sementara aku masih stay dengan gelagat tenang memperhatikan mereka. Terutama sepupuku yang sangat membutuhkan mata ku lelah dengan tingkah-tingkahnya.


Brian mulai mengatur cara permainan. Agar latihan segera di mulai dan segera selesai. Mungkin itu sisi pikiran nya yang menurut ku sama seperti yang aku pikirkan sekarang.


Sesaat kemudian setelah acara latihan selesai. Aku berjalan seorang diri di taman belakang sekolah. Iya, kenapa aku melakukan nya juga tidak tau. Yang jelas saat ini aku tengah berjalan tanpa tujuan.


Terlihat sangat tidak berguna sekali hidup ku hari ini. Di tambah lagi di mana Ian berada saat ini pun aku tidak tau. Padahal seingat ku anak itu akan mentraktir ku makan bakso.


Next.....


Gemparnya kematian bunuh dirinya seorang komlomerak yang terkenal di dalam penjara. Dan berita awal mulanya ia masuk ke dalam penjara.


Tidak terlalu tertarik karena yang ku inginkan belum sepenuhnya terwujud. Namun target sudah lebih dulu putus asa. Isi pikiran saat melihat berita kematian sasaran pertama ku yang mati karena bunuh diri. Kematian yang sangat tidak memuaskan untuk di lihat menurut ku.


Aku yang masih duduk di ruang keluarga lantas menghubungi seseorang di seberang sana.


*Pastikan Daniel tidak ikut-ikut masuk ke dalam daftar pemeriksaan. Masukkan di ke daftar aman seperti biasa."


*Siap Tuan."Balas seseorang di seberang sana.


Next....


Aku berjalan di lorong lantai atas menuju untuk kembali ke kamar tidur pribadi ku. Langkah pelan ku terhenti tepat di depan kamar Ian yang pintu kamarnya di biarkan terbuka lebar


Bahu ku yang sudah tersandar di pintu kamar yang terbuka ini,"Mengerjakan apa?".


"Tugas kuliah."Ian yang tidak fokus melihat lawan bicaranya.


Tanpa basa basi lagi aku berlalu meninggalkan kamar Ian. Karena kalau di ingat-ingat lagi aku juga punya pekerjaan kantor yang belum ku sentuh sama sekali.


Walaupun sekarang semuanya serba canggih. Akan tetapi otak dan ketelitian untuk tetap merekap data tetap harus di butuhkan. Sungguh masih sangat merepotkan. Tapi tidak mungkin juga semuanya di serahkan pada mesin.


Next....