The Revengers

The Revengers
Eps.12



"Crazy lu!?".Bentak Ian beranjak turun dari atas motor yang sudah terparkir di depan rumah,"Hampir saja tadi kita menjadi selembar kertas."Lanjut mengomel marah.


"New hardly need to panic."Aku beranjak turun dari atas motor setelah melepaskan halm ku,"Gue tidak akan biarkan sepupu gue terluka."Ucap ku sebelum berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


Ian masih terdiam di tempat menyungging senyum tipis melihat kepergian ku,"Fu***ck."Umpatnya sebelum menyusul masuk ke dalam.


Next....


"Jadi kau gagal mendapatkan informasi penting nya?".Tanya pria yang duduk di kursi coklat tua kebesaran nya.


Menunduk tidak menatap langsung lawan bicara,"Aku hanya berhasil mendapatkan foto pelat nomor nya."


"Hmm, cari informasi nya cepat."Suruh pria ini yang langsung di laksanakan. Olah anak buah nya.


++


"Kenapa lu pereteli plat nomor nya?".Tanya Ian yang baru saja masuk ke dalam garasi.


"Nomer plat nya ganti."


"Kenapa kan kemarin lu baru saja memperbarui semua surat-surat nya."


"Diem."Aku menatap dingin Ian yang nyerocoh sejak tadi.


Beranjak dari tempat ku jongkok,"Ayo pergi dua jam lagi kuliah online lu di mulai."


"CK gue sudah berusaha melupakan malah lu ingatkan."


Aku yang sibuk membereskan peralatan yang baru saja aku gunakan,"Tidak mau cepat lulus?".


"Iya mau, siapa yang tidak mau cepat-cepat lulus."


"Makanya kuliah yang rajin."Aku berlalu meninggalkan Ian seorang diri di dalam garasi.


++


"Tuyul kecil sialan."Brakk....Pria ini menepis laptop menyalah di atas meja sampai jatuh hancur membentur dinding ruangan ini.


"Panggil orang terbaik kita. Suruh dia menangkap tuyul kecil itu. Jika terlalu sulit di tangkap bunuh di tempat."Perintah pria ini pada anak buah nya.


+++


Slamp.....Aku melempar buku ke atas meja ruang keluarga di mana Ian tengah pergunakan ruang keluarga untuk belajar.


"Rangkuman pelajaran kuliah ku tahun kemarin."Kata ku,"Kau ambil mata kuliah bisnis bukan?".


"Iya, wahh terimakasih. Akhirnya bala bantuan datang."Ian mencium-cium buku itu.


Sementara aku berlalu pergi dari sana meninggalkan Ian melanjutkan belajar nya. Aku hendak kembali ke lantai atas akan tetapi bibi pembantu menghentikan langkah ku.


"Permisi den."Ucapnya.


"Aden bibi mau minta izin untuk mengambil cuti satu Minggu. Bibi mau pulang kampung mau merawat ibu bibi yang tengah jatuh sakit."


"Iya, pesangonnya nanti ambil di kamar ku."Kata ku memberikan izin.


"Baik Den terimakasih banyak. Permisi."Bibi pembantu berlalu pergi meninggalkan ujung tangga ini.


Aku kembali fokus pada jalan yang tersusun rapi ini untuk memulai langkah naik ke lantai atas. Setibanya di lantai atas. Aku yang sudah ada di dalam kamar langsung menutup pintu kamar kembali.


Akan tetapi belum lama aku merebahkan tubuh ku. Aku kembali bangun dan duduk dengan cepat, tangan kanan ku bergerak cepat meremas dada kiri ku yang tiba-tiba terasa nyeri.


Uhuk...Uhuk....Uhuk.....Tidak hanya nyeri di dada kiri, aku juga mulai batuk-batuk. Rasa sesak seakan-akan akan mengambil nafas ku. Membuat batuk menyerang brutal bersamaan dengan rasa pening luar biasa di kepala ku.


Aku sangat kesakitan aku berusaha merubah tempat duduk ku agar rasa sesak ini menghilang. Sayang, aku justru semakin terbatuk-batuk dan semakin sesak. Keringat dingin juga mulai bercucuran membasahi tubuh ku.


Bibi pembantu yang baru datang, langsung menerobos masuk ke dalam kamar ku. Mungkin ia khawatir mendengar suara batu brutal ku.


Bibi mengelus punggung ku,"Aden sakit?Aden punya Asma?".Tanya khawatir.


"Uhukk...A...air...Uhuk..ai...". Ucapan ku bahkan terbata-bata karena sesak.


Bibi pembantu yang menyadari maksud ku dengan sigap segera menuangkan air putih untuk ku. Ia memberikan gelas berisikan penuh air putih kepada ku.


Aku langsung mengambil gelas berisikan air putih untuk segera aku minum. Sementara bibi pembantu masih setia di samping ku mengelus lembut punggung ku,"Pelan-pelan minumnya den."


"Uhukk...Uh....".Baru juga di ingatkan.


"Aduh den biar bibi panggil den Ian biar di antar ke dokter. Aden sangat kesakitan."Kata bibi pembantu. Lantas aku segera menggenggam tangannya untuk menghentikan langkah nya. Aku tarik nafas ku dalam-dalam dan aku hembuskan dengan sekali hembusan,"Jangan bi, jangan pernah beritahu Ian soal kejadian di hati ini. Jika sampai Ian mengetahui kejadian di hati ini. Aku pastikan bibi dan seluruh keluarga bibi akan krisis ekonomi."


Terlalu kejam nya ucapan ku membuat bibi pembantu langsung menunduk pandangan. Tak berani menatap ku secara langsung.


"Tunggu sebentar aku akan mengambil pesangon bibi."Aku beranjak dari tempat duduknya berlalu masuk ke ruang ganti di mana lemari-lemari ku berjejer rapi.


Langkah yang masih bergetar ini keluar dari ruang ganti. Aku memberikan sebuah amplop coklat kepada bibi pembantu.


Bibi pembantu yang menerima itu,"Aden apakah Aden tidak salah?Uang ini terlalu banyak untuk pesangon saya. Apakah Aden akan memecat saya?".


"Saya mohon jangan pecat saya den. Saya memiliki seorang anak yang membuat biaya hidup dari saya."


Masih dengan ekspresi dingin datar,"Siapa yang memecat bibi. Aku berikan pesangon lebih untuk ibu bibi yang sakit. Mungkin uang itu akan berguna untuk pengobatan nya."


"Soal yang tadi aku benar-benar memohon kepada bibi untuk tidak pernah menceritakan kejadian tadi kepada siapapun. Terutama pada Ian."


"Iya den."Balas nya,"Saran saya Aden harus segera pergi ke dokter."


"Hem."


"Baiklah den, permisi."Bibi pembantu berlalu pergi meninggalkan ruang kamar pribadi ku.


Selepas kepergian bibi pembantu. Aku kembali beranjak dari tempat duduk ku untuk kembali mengambil air putih di atas meja depan tempat tidur ku.


Syukurlah rasa sesak ini juga sudah mereda. Walaupun masih terasa sesak dan panas di tenggorokan.


Selesai minum air putih. Aku berlalu mengunci pintu kamar untuk segera beristirahat.


Aku yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Kedua tangan yang bersilangan di belakang kepala sebagai bantalan. Sepasang atensi ku terfokus melihat langit-langit kamar ku. Terutama pada lampu kristal yang terpasang tepat di bawa tempat tidur ku.


"Sudah lama sejak terakhir kalinya penyakit sialan ini kambuh. Aku pikir pada hari itu adalah hari terakhir. Nyatanya masih sama. Setiap kali aku lelah, stres dengan pekerjaan. Penyakit sialan ini akan tetapi kambuh."Gumam ku entah berbicara dengan siapa di gelapnya ruangan ini.


+++


"Yohan sudah tidur."Gumam Ian yang menghentikan langkah kaki di depan kamar yang pintu sudah tertutup rapat. Kembali melanjutkan langkah kakinya karena barang bawaan nya sudah mau ada yang jatuh dari gendongan nya,"Tidak biasanya dia tidur cepat."Gumam Ian masih berlanjut.


Sayangnya pemilik kamar ini belum sepenuhnya tidur. Aku masih terjaga sulit sekali untuk ku tidur, memejamkan kedua mata ku. Padahal aku tau betul jika aku tidak segera beristirahat sakit ini akan kambuh lagi.