The Revengers

The Revengers
Eps.22



Kami pulang mengunakan pakaian yang sama awal kami pergi meninggalkan rumah. Yang berarti kami berdua sempat berhenti sejenak untuk berganti pakaian kembali.


Baru sampai rumah. Selesai mandi dan berganti pakaian lain. Kami langsung berlalu pergi lagi, dan kali ini bersama dengan Tante Kalisa. Yang menyuruh kami berdua untuk menemaninya berbelanja.


Tepat di tempat pengantin membayar uang belanjaan,"Ganteng-ganteng Tante putra nya."Mendengar ucapan gadis penjaga kasir. Aku memalingkan wajah ku cepat ke arah lain. Tidak jauh berbeda dengan aku Ian pun sama, akan tetapi Ian juga berkata,"Ingat mama udan ada yang punya."


Tanpa berpaling ke arah sumber suara,"Iya lupa, kamu kan banyak yang punya."


"Etss ma ko malah jelek-jelekin anak nya sendiri."Kesal Ian.


Kalisa yang terfokus pada sepasang atensi putranya,"Fakta, coba kenali siapa dia kalau kamu cuma punya satu ke mama."


"Belum waktunya, udah lah ayo cepat bayar terus cari makan."Kata Ian mengalihkan topik pembicaraan.


+++


Malam yang panjang kami habiskan berjalan-jalan di luar bersama dengan keluarga Ian dan mama nya.


Sesampainya di rumah aku dan Ian selesai membantu membereskan barang belanjaan langsung berlalu pergi ke kamar masing-masing. Karena jika boleh jujur kami berdua sebenarnya sangat lelah, karena sejak kemarin kami berdua tidak dapat beristirahat dengan baik.


Tanpa membersihkan diri lebih dulu, selepas melepas jaket dan melemparnya asal. Aku langsung merebahkan tubuh ku ke atas tempat tidur. Aku bermaksud untuk segera memejamkan kedua mata dan beristirahat. Akan tetapi lagi-lagi pikiran ku bertanya-tanya soal kejadian di malam itu kembali lagi. Aku kembali mendudukkan diri ku,"Apakah dia belum kembali dari pondok?Kenapa tadi dia tidak masuk sekolah?".Tanya ku entah pada siapa.


CK, tidak mau terlalu banyak memikirkan hal yang tidak berguna. Aku beranjak pergi untuk mencuci muka sebelum melanjutkan waktu tidur ku yang tertunda.


Di tambah lagi aku juga harus menyiapkan penerbangan ku ke New York. Untuk mengurus pekerjaan ku yang bermasalah di sana.


+++


Ceklek.....,"Ada apa Vin."Tanya Yudha pada tamunya yang berkunjung malam-malam bersama putra pertama nya.


"Putri ku Yudha."Kevin yang sudah memasang ekspresi wajah sangat khawatir akan tetapi Yudha tidak peka membuat Kevin terasa sangat putus asa.


"Rara di sini?".Yudha yang justru bertanya balik kepada Kevin.


Menghela nafas kasar,"Hemaa...".


"Siapa sayang?".Alyah baru ikut bergabung untuk melihat siapakah tamu berkunjung malam-malam kekediaman.


"Mencari Rara?".


"Iya."


"Putri ku."Mengerutkan keningnya dengan pandangan sedikit tertunduk lesung.


"Masuk dulu Vin. Kau sudah lama tidak berkunjung ke rumah ku."Yudha mempersilahkan Kevin dan putranya untuk masuk ke dalam rumah.


"Biar aku bangunkan Rara."


"Jangan Al nanti biar di gendong saja sama abangnya."


"Kalau gitu duduk dulu biar aku buatkan minuman."Alyah berlalu pergi ke dapur.


Sementara Kevin, dan Putranya sudah duduk di ruang tamu kediaman Yudha.


"Sepi om, Nazil, Fazil tidak di rumah."


"Nazil berangkat ke Bandung, Fazil belum pulang jam segini."


"Hmm."


"Bagaimana dengan pekerjaan mu, sepertinya sedang longgar?".


"Tidak om, iya sama saja padat."


"Kalau sepi-sepi gini ada Nathan Jovan pasti langsung kayak pasar tradisional."Ucap Kevin tiba-tiba tanpa terasa ia merindukan masa lalunya.


Yudha menyungging senyum tipis nya,"Iya, cita-cita mereka berdua ingin punya banyak anak katanya."


Tertawa renyah,"Iya."Di susul helaan nafas singkat mengeluarkan sedikit rasa sesak.


"Nathan Jovan siapa yah?".Tanya Arya anak pertama Kevin.


"Sahabat ayah."


"Mereka ada di mana sekarang?".


"Mereka berdua sudah meninggal."Balas Yudha,"Mungkin saat ini mereka berdua tengah sibuk gelud di atas sana, karena mereka berdua tidak pernah akur walaupun sahabat akrab."Yudha kembali menyungging senyum tipis mengingat betapa berisik nya kedua sahabat nya.


+++