The Revengers

The Revengers
Eps.47



Aku telah sampai kembali ke kediaman rumah ku untuk mengobati beberapa luka yang kami alami. Dan saat ini Zack tengah membantu ku melilitkan perban luka di tubuh ku, untuk menutupi luka tembak tadi.


Zack yang belum mengetahui siapa yang telah menembak Yohan,"Kau benar-benar nekat, jika saja kau tidak pakai rompi pelindung peluru. Aku yakin kau akan mati di tambah lagi kau jatuh dari atas gedung. Astaga bagaimana kau masih hidup!!".Zack yang geleng-geleng kepala melihat ku yang masih hidup setelah jatuh dari gedung tinggi dalam keadaan tertembak.


"Tidak lihat, jika ada dua pohon kelapa besar di tempat ku jatuh".


"Pohon kelapa?".Zack memikirkan tata letak berdirinya gedung tinggi itu.


"Orang bodoh seperti mu bagaimana bisa di angkat menjadi detektif....,"Aku beranjak dari tempat duduk ku menarik kemeja ku yang tergeletak tidak jauh dari tempat ku duduk tadi,"....Memalukan".Sambung ku sebelum berlalu pergi dari sana.


Selepas kepergian Yohan. Zack masih tetap diam di tempat nya memikirkan tata letak berdirinya gedung tinggi itu.


Aku yang baru akan memasuki ruang dapur rumah, berpapasan dengan Nella yang baru saja keluar dari kamar mandi tamu. Aku pergi ke sini untuk melihat keadaan Ian yang baru sampai langsung berlari ke dalam kamar mandi.


"Ian masih di dalam".


"Iya Tuan. Dia sangat kacau sekali".


"Kau punya jahe dan susu?".Tanya ku pada Nella.


"Ada Tuan."


"Buatlah susu jahe hangat untuk nya".


"Baik Tuan".


Aku pun berlalu masuk ke dalam kamar mandi di mana Nella baru saja keluar dari sana. Untuk melihat keadaan Ian yang penyakit hemophobia atau phobia darah nya kambuh. Setiap kali melihat darah. Ian akan merasakan mual luar biasa, tidak heran ia juga sampai muntah-muntah bahkan panic attack jantung berdenyut tidak normal berakibat pada tubuh nya yang akan menjadi lemah.


Aku yang baru saja memasuki kamar mandi. Melihat Ian yang sudah berdiri di dekat kloset menekan tombol air untuk membersihkan berkas muatan nya,"Seharusnya aku tidak melibatkan kan mu cukup jauh".Ucap ku.


Raut wajah yang masih pucat,"Santai, I'm fine. Besok juga bakal baikan. Aku sudah biasa kayak gini, lama-lama juga bakal terbiasa".Ian yang masih bisa menunjukkan senyum hangat di sudut bibir pucat nya.


"Aaaeee....,"Tangan yang masih mencari pegangan untuk menyangga keseimbangan tubuh nya,"...Minta tolong bantu aku ke kamar,"Mengulurkan tangan kanannya yang masih bergetar,"Tangan ku tremor, kaki ku lemas Ya Tuhan."Meratapi diri yang benar-benar lemah namun sok kuat.


Tanpa mengucapkan apapun aku langsung membantu memapah Ian pergi ke kamarnya.


Sampai di kamar nya. Ian yang sudah terduduk di pinggir tempat tidur. Berkata,"Besok nama perusahaan nya bakal di ganti lagi."


"Tidak perlu, aku tetep akan mengunakan nama itu. Menurut ku tidak buruk juga nama Walsekai."


"CK."Ian tersenyum miring.


"Istirahat saja besok langsung terbang ke Jepang."


"Langsung kerja lagi?".Menaikan sedikit nada bicara nya,"Maksud ku. Apa kita tidak pulang dulu ke Korsel. Sudah beberapa tahun ini kita tidak bertemu...".Memotong ucapan Ian,".... Nyalakan ponsel mu".Aku sebelum berlalu pergi dari sana meninggalkan Ian seorang diri.


"Nyalakan ponsel ku."Ian yang langsung merogoh-rogoh kantung celana panjang mencari benda pipi itu. Tidak mendapatkan benda pipi yang ia cari. Lantas ia segera menarik jas yang di lempar Yohan tadi ke atas tempat tidur.


Baru mendapatkan benda pipi yang ia cari. Ian yang baru mengetahui jika ponsel nya mati daya,"CK, aku bahkan tidak tau jika ponsel ku mati...Dasar sepupu sialan".Ian mengecas ponselnya untuk mengisi daya. Sembaring ia nyalakan. Di saat itulah beberapa notifikasi chat dan telfon masuk secara brutal ke dalam ponsel. Semua panggilan telpon dan Notifikasi itu dari ayah dan mama nya.


Mendekap mulut nya,"Walass....mati aku".Menelan Saliva nya paksa. Wajah yang pucat semakin pucat melihat notifikasi-notifikasi itu.


Tersambung.


*Hallo Yah".


*Sibuk iya sibuk jangan lupa cas Hp mu. Anak sialan".Nada marah Kenji di seberang sana.


*Lupa Yah, maaf. Mama tidak ada di sana kan, jangan di kasih tau ke mama. Aku takut beneran."


*Tidak, mama mu sedang ada di dalam kamar rawat inap kakek Mamoto".


*Kakek sakit!?Sejak kapan?Aku kenapa tidak di kasih tau?".


*Tidak di kasih tau kau bilang. Mama mu sudah telfon berkali-kali tidak kau angkat, dan kau bilang tidak kasih tau. Anak macam apa kau?Kau yang mengabaikan kami, di telfon susahnya minta ampun, seperti seleb tidak terkenal ".


*Ya Tuhan ayah. Maaf."


*Besok Yohan bilang akan terbang ke Jepang. Kau ikut lah, jika tidak....koros!!".


*Ya...".Tututttu.... Panggil telfon di akhir sepihak oleh Kenji di seberang sana.


"Sepertinya ayah tidak main-main, pakai kalimat ingin membunuh...ku".Ian tertekuk lesung meratapi nasibnya.


Tokkk....Tokkk.....,"Masuk".


"Aku bawakan susu jahe hangat".Nella yang melangkah masuk ke dalam kamar Ian menaruh gelas berisikan susu jahe hangat di atas meja dekat tempat tidur.


"Yohan yang suruh?".


"Iya, permisi".


"Hemm, terimakasih".


"Iya".


+++++


"Aku akan mengambil penerbangan malam ini".Zack yang sudah siap meninggalkan kediaman rumah ku karena urusan di sini telah usai.


Aku yang sudah terfokus pada lawan bicara ku,"Di luar sudah ada dua orang suruhan ku, mereka akan memantau mu dari kejauhan".


"CK, kau tidak percaya dengan ku".


"Bukan tidak percaya, akan tetapi ada seseorang yang mengincar nyawa mu. Jika kau masih ingin hidup dan menyerahkan semua informasi pada atasan mu. Kau membutuhkan mereka berdua, jika tidak terserah kau".Kata ku cuek,"Kau bisa pergi sekarang".Aku berlalu pergi meninggalkan ruang tamu ini untuk naik ke lantai atas kediaman rumah ku.


Zack tetap pergi ke bandara. Ia membiarkan dua orang suruhan Yohan tetap mengikuti nya dari kejauhan. Karena menurut Zack ada benarnya juga ucapan Yohan. Di kala Wolf adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia kegelapan di Kota ini. Yang berarti akan banyak orang jahat yang tidak akan suka dengan mereka yang telah menghabisi Wolf.


+++++++


+++++++++++


Pagi-pagi sekali. Aku dan Ian sudah melakukan penerbangan mengunakan pesawat pribadi ke Jepang. Untuk menjenguk kakek kami yang tengah jatuh sakit.