The Revengers

The Revengers
Eps.23



"Lu serius mau ke New York?".Tanya Ian pada ku.


"Hem."


"Yang menyerang perusahaan lu bukan orang biasa Yohan. Lu masih tetap punya pikiran untuk ke sana."


"Iya, karena mereka masih memiliki hubungan dengan target ku."Tegas ku menatap dingin sepasang manik mata ini.


Aku beranjak dari tempat duduk ku,"Gue akan ke kantor."


Aku berlalu pergi meninggalkan ruang kerja ku. Meninggalkan Ian yang tidak merespon, ia masih duduk terdiam di kursi depan meja kerja ku.


+++


Aku berjalan cepat menuruni tangga rumah ku. Di ujung tangga aku berpapasan dengan Tante Kalisa.


"Mau berangkat ngantor?".


"Iya."


"Hati-hati di jalan, jangan lupa makan siang."


"Iya, Permisi."Aku berlalu pergi meninggalkan kediaman rumah ku.


Aku pergi berangkat ke kantor mengunakan mobil pribadi ku. Untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaan ku di sini. Dan secepatnya mengatur penerbangan ke New York.


+++++


+++++++++


Satu Minggu berlalu dengan cepat. Dan aku masih di tempat yang sama. Di Indonesia, akan tetapi tidak di Kota S. Aku pergi ke Kota lain untuk memeriksa pekerja ku yang lain. Sementara Ian masih di Kota S sendirian, karena mama nya sudah kembali ke Korsel kemarin.


Akan tetapi di malam ini. Aku tiba-tiba mendapatkan kabar yang tidak mengenakan dari Ian di seberang sana. Di malam itu juga aku langsung kembali pulang ke Kota S. Walaupun keadaan daerah yang saat ini ku tempati tengah turun hujan badai begitu deras.


"Yohan."Mendudukkan dirinya di Sova ruang keluarga,"Apakah dia serius?".Ian terduduk dengan tatapan kosong karena yang bertanya-tanya ada di dalam pikiran nya,"Jelas iya, dia tidak pernah bohong. Tapi kapan mereka melakukan?".


Beranjak dari tempat duduknya,"CK Yohan, jika mereka tau bakal mati dia. Apa lagi mama ku yang tau."


Ian yang panik setelah mengobrol dengan Yohan di seberang sana melalui panggilan telepon. Ia bermaksud memberitahukan tentang berita yang baru saja ia ketahui dari Vano. Jika Nana mengalami kecelakaan. Akan tetapi jawaban Yohan justru membuat nya benar-benar terkejut. Yohan justru mengatakan jika Nana tengah mengandung anak nya. Suatu kebenaran yang belum pernah di ketahui sama sekali. Suatu kebenaran yang membuat nya khawatir dan panik. Di kala Ian tau betul kalau kedua kakak Nana tidak menyukai Yohan. Apa lagi Nazil kakak pertama Nana yang paling membenci Yohan. Bisa di bayangkan apa yang akan terjadi jika kedua kakak Nana mengetahui nya.


Tanpa menunggu waktu lama ribut dengan isi kepala. Ian bergegas mengambil kunci mobil lain. Dan mencari informasi tempat di mana Nana di rawat. Untuk membantu mempercepat Yohan sampai di rumah sakit..


+++


"Apa?Tidak mungkin. Dokter pasti salah memeriksa tidak mungkin putri kami hamil. Tadi dia hanya mengalami kecelakaan tabrakan, mungkin karena itu putri kami mengalami pendarahan."Yudha yang ekspresi syok nya tidak bisa di bohongi lagi.


"Tidak pak. Memang ini kenyataan nya, putri bapak dan ibu tengah hamil. Usia kehamilannya baru 1 Minggu, dan sayangnya janinnya tidak bisa kami selamatkan. Karena kecelakaan itu, benturan yang keras membuat goncangan hebat bada rahimnya yang masih sangat rapuh."


"Dengan terpaksa kami harus melakukan operasi untuk mengangkat bayi nya."Kata Dokter pria ini. Melihat keluarga pasien yang sangat terpukul, dokter pria ini mencoba menghibur dengan berkata,"Kalian perlu bersyukur karena keadaan rahim Nona Nana baik-baik saja. Karena dalam kasus seperti ini 99persen selalu ada kerusakan di rahim yang akhirnya terpaksa harus angkat karena rusak."


Yudha tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya bisa terdiam merangkul tubuh istrinya yang goyang menjaga keseimbangan tubuh sendiri.


"Kami membutuhkan salah satu perwakilan keluarga untuk menandatangani beberapa berkas."


"Biar saya saja."Kata Nazil mengganti kan ayahnya sebagai kakak tertua.


Sementara Nazil berlalu pergi bersama dokter tadi. Yudha menuntut istrinya agar duduk di kursi yang tersedia.


"Bang!Nana bakal baik-baik saja kan?".Tanya Rara yang ikut pergi ke rumah sakit, karena Rara adalah orang yang telah menolong Nana sahabat nya saat kecelakaan terjadi di depan area sekolahan.


Bahkan seragam sekolah Rara saat ini masih penuh dengan bercak merah pekat darah Nana yang tidak ia perduli kan.


Fazil melepaskan jas hitamnya, ia kenakan jas itu pada Rara untuk menutupi bekas darah itu,"Adik ku adalah perempuan kuat, dia akan baik-baik saja."


"Abang akan telfon Abang mu agar kamu segera pulang da...". Memotong ucapan Fazil,"Tidak, Aku tetap mau di sini, aku mau menemani Nana."


Fazil yang mengetahui betul kalau Rara pasti akan menolak perintah nya. Ia angkat tangan kanannya ia tepuk ubun-ubun kepala Rara,"Jangan keras kepala Ra. Pakaian kamu kotor, kamu harus segera pulang. Ayah dan mama mu akan khawatir jika kamu tidak pulang-pulang."


"Bodoh."


Rara mendongak melihat tangan itu,"CK mentang-mentang aku pendek. Dahlah iya aku pulang."


"Pinter."Menepuk ubun-ubun kepala Rara,"Abang mu akan segera sampai di sini."


"Nanti kalau Nana sudah siuman langsung kabarin Rara iya."


"Iya."


+++


Aku masih mengemudikan mobil ku dengan kecepatan penuh. Hampir 8000 cc ku tempuh agar sampai lebih cepat di Kota tujuan. Menerabas jalan raya yang tidak terlalu ramai ini, hujan yang deras juga berangsur-angsur rendah.


Karena aku sendiri juga sudah mendapatkan alamat rumah sakit di mana Nana di rawat dari Ian.


+++


"CK Sialannnn....Mobil mewah tapi miskin bensin."Menunduk menyadarkan kepalanya pada setir mobil,"Aku pikir ini mobil listrik seperti yang biasa di pakai."Gumamnya lelah meratapi kecapean diri sendiri.


Di jaman sekarang bensin sulit pula untuk di cari. Membuat Ian semakin putus asa. Akan tetapi saat ia sudah turun dari dalam mobil. Membuka dan mencium isi dalam tangki bensin,"Ini jenis bensin terbaru. Ahh banyak di daerah ini."Bersemangat,"Tapi gue harus dorong dulu."Lesung kembali.


+++


"Nana."Alyah mengelus lembut pipi putrinya yang masih terbaring tidak sadarkan diri setelah operasi.


Dokter bilang Nana akan bangun besok pagi atau besok. Akan tetapi keajaiban datang kembali, jari tangan yang terbalut plester luka infus tiba-tiba menunjukan pergerakan nya.


"Ayah."Ucap lirih Nana membuka kelopak mata nya belahan-lahan.


Tangan Yudha langsung bergerak mengelus lembut surai rambut putrinya,"Ada apa sayang?".


"Nana takut."


"Takut kenapa sayang?".


"Ayah tetap di sini temani Nana."


"Iya, ayah tetap di sini, ayah akan menemani Nana sampai sembuh."


"Mama juga, jangan ke mana-mana."


"Iya mama kamu tetap di sini."Yudha yang membalas perkataan putrinya untuk istrinya yang tidak bisa berkata karena tengah menahan air matanya. Hancur rasanya ketika tau ataupun melihat putrinya yang ia pikirkan baik-baik saja dan bahagia. Ternyata menyembunyikan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.


+++


Sementara Nazil dan Fazil duduk di luar karena adiknya masih belum di perbolehkan di kunjungi banyak orang. Walaupun keluarga dekatnya sekalipun.


"Bang."


"Hmm."


"Siapa yang berani melakukan itu....". Memotong perkataan adiknya.


Nazil yang tengah terduduk memejamkan kedua kelopak matanya,"Tutup mulut mu, gue berusaha melupakan pelakunya dan fokus pada kesembuhan adik ku."


Terdengar demikian akan tetapi memiliki arti lain. Fazil yang mengerti maksudnya memilih untuk terdiam, dan tidak membuka obrolan kembali.


Sementara itu Yohan muncul dengan kemeja kacau nya. Berjalan di lorong rumah sakit tempat Nana di rawat. Fazil yang melihat pertama kali pun berkata,"Bang lihat."


Nazil membuka kelopak matanya bersamaan dengan perhatian berpaling ke arah jalan yang adik nya lihat,"Kenapa bern***gsek ini ada di sini?".Batin Nazil bertanya.


Kedua Abang Nana beranjak dari tempat duduknya menyambut kedatangan ku.


Aku yang sudah berdiri di depan mereka,"Bagaimana ke ada Nana?".


"Kenapa bertanya tentang keadaan adik ku?Apa hubungan mu dan adik ku?".Interogasi Nazil apa inti pembicaraan.


Tanpa rasa takut ataupun gugup aku mengatakan apa yang seharusnya aku katakan sejak awal. Walaupun pada saat pertemuan waktu itu, aku sudah berjanji pada Nana untuk tidak pernah membahas kejadian di malam itu. Ataupun mengatakan nya pada siapapun.