
Sudah menjelang pagi hari. Yohan juga telah siuman sejak tadi malam. Namun belum ada seorang pun menyadari nya. Ia tetap di biarkan seorang diri di dalam kamar rawat inap nya. Seakan-akan ia memang tidak memiliki siapa-siapa seperti dulu.
Kembali teringat masa lalu membuat nya terdiam memperhatikan langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Di tambah lagi ia juga menyadari betul jika dirinya saat tengah lumpuh. Kedua kaki tidak bisa ia gerakkan sama sekali. Dan semakin ia memaksa rasanya semakin sakit di sekujur tubuh.
Di tengah renungan lamunannya. Seseorang tiba-tiba saja muncul memasuki ruangan Yohan dengan baik yang sama seperti yang ia kenakan hanya saja berbeda warna.
"Nana",seru ku terfokus melihat seseorang itu.
Iya, sudah ada di sana dengan model pakaian yang sama seperti. Tangan kiri yang di perban infus sama seperti nya.
Ia mendorong tongkat infus nya berjalan mendekat ke ranjang pesakitan Yohan. Tanpa duduk terlebih dahulu di kursi kecil yang tersedia di dekat sana.
Nana yang masih berdiri menatap dingin Yohan,"Han sampai di sini saja iya, aku tidak bisa lanjut hubungan dengan orang cacat seperti mu. Maaf Han aku tidak mau anak ku menderita karena mu".
"Apa yang kamu katakan Na, kamu sedang bercanda".Aku tertawa renyah mendengar ucapan yang tidak terlihat bercanda sama sekali.
"Aku akan urus surat perceraian besok",berbalik badan berjalan menjauh pergi meninggalkan ruangan ini.
"Na, Nana, bercanda mu tidak lucu Na, cepat kembali, Nana!!".Teriak aku tanpa bisa berbuat apa-apa selain berteriak pada istri yang pergi meninggalkan.
Pakkk..... tamparan keras membuat nya terbangun dari tidur nya. Matanya membelak menatap dua seseorang di samping kanan nya.
"Mimpi buruk apa kau sampai manggil-manggil nama adik ku?",tanya sewot Nazil yang terkadang seperti tidak akur saat tidak di depan istri, mama, dan Nana.
"Nana di mana?".
"Jawab dulu pertanyaan ku?".
"Nana sudah melahirkan, sejak kapan?".
"Kemarin malam, saat kau masih di IGD. Anak mu laki-laki",Fazil menurunkan nada bicara menjadi rendah di akhir kalimat.
Mendorong kasar bahu adiknya,"Oi kalau tidak suka dengan keponakan laki-laki tuh jangan di perlihat-lihatkan be***go",ujar Nazil.
"Yohan tidak masalah kenapa Abang marah",sewot Fazil.
"Siapa yang tidak marah, jelas aku marah. Siapa yang tidak akan marah saat anaknya tidak di akui".
"Bukan tidak di akui cuma kami kaget Yohan kedua lahir",jelas Nazil.
"Hemm..... tidak terima alasan".
Setelah saling tertawa lepas. Ketiga pria ini menjadi terdiam satu sama lain.
"Kedua kaki ku lumpuh, apakah itu benar?".
"Itu hanya sementara, kau hanya perlu rutin kontrol untuk beberapa hari setelah ini",kata Nazil pada Yohan."Jangan sampai berkecil hati yang membuat adik ku bersedih. Karena dia adalah orang paling bahagia saat mendapatkan kabar kamu selamat dari kecelakaan itu",tuturkan nya.
"Iya, terima kasih selalu menjaga Nana".
"Bang*****sat!!!Kau barusan bilang terima kasih?",Nazil menujuk ekspresi kaget di buat-buat."Serius hampir serangan jantung".Entah kenapa ayah satu anak ini terlihat jauh lebih kekanak-kanakan dari dua pria ini.