
Dua hari setelah pertemuan yang tidak mengenakan itu. Nana belum mendapatkan kabar apapun lagi tentang Yohan. Sampai di suatu ketika Yohan tiba-tiba sudah duduk tenang di ruang makan bersama keluarga besar nya.
Bersama dengan bang Nazil juga Istrinya Linda yang tengah mengandung buah cinta nya 5 bulan. Juga mama Alyah yang duduk di kursi kebesaran Yohan.
"Kenapa dia di sini?".
"Eh Abang pikir kamu akan senang dia datang ke sini".Saut Nazil terfokus melihat adik perempuan nya yang baru saja memasuki ruang makan.
"Hemm",Nana berlalu duduk di samping ibunya. Yang berarti ia akan duduk di samping Yohan.
Suasana makan-makan berlangsung hening sampai acara makan-makan selesai. Selesai mengemas rapi wadah bekas makan seorang diri. Karena Nana sangat tidak mau kakak iparnya yang super duber aktif biasa jadi kenapa-kenapa karena posisi nya saat ini sangat beberapa dengan saat ia tidak membawa apa-apa dalam kandungan nya.
Benar-benar selesai dengan acara makan-makan. Nana berebut dengan Yohan yang terus-menerus ingin berada di dekat Alyah.
Alyah yang sudah sangat risih menjadi bahan rebutan sangat lama sekali. Sampai hari benar-benar menjelang larut malam. Ia mengambil tindakan tegas untuk mendudukkan diam keduanya di sova panjang depannya duduk. Untuk di sidang.
Sementara Abang Nazil yang baru saja selesai dari mengantar istirahat beristirahat. Kembali ikut bergabung ke ruang tamu, duduk sampai mama nya.
Pembicaraan serius mulai terjadi,"Sekarang apa keputusan kalian berdua?Kalian berdua sudah sama-sama dewasa sudah saat kalian mengambil keputusan kelanjutan dari hubungan kalian".
"Maksud mama apa?".
"Jangan maksud-maksud Nana. Kamu sudah dewasa seharusnya kamu sudah menikah".
"Bang Fazil belum tuh, dia bahkan masih sibuk dengan pekerjaan nya".
"Terus kamu mau seperti bang Fazil?".tanya Alyah."Bang Fazil sudah memiliki rencana akan segera menikah setelah operasi ayah calon mertua nya selesai".
"Bang Fazil sudah punya calon?Ihh ko tidak cerita ke aku, awas saja kalau pulang",geram Nana memukul-mukul sendiri kedua tangan mengepal nya.
Alyah yang terfokus pada Yohan yang semenjak tadi hanya diam memperhatikan Nana yang super aktif,"Bagaimana nak Yohan?".
"Saya mau segera di percepat Tante, bukankah tidak baik menggantung putri orang tanpa kepastian",kata ku terfokus pada lawan bicara ku."Tante tetapkan tanggal nya saja, saya yang akan mengurus semuanya".
"Tunggu-tunggu kalian kenapa tidak tanya aku dulu, mau atau tidak".
"Abang yakin kamu mau Dik, sudah diam saja tidak perlu banyak bicara, jadi kelihatan sekali kalau sebenarnya kamu mau cuma gengsi",Ucap Nazil membuat wajah Nana benar-benar memerah terbakar.
"Mungkin besok jika tidak ada penundaan dalam penerbangan Om dan Tante wali saya akan datang ke Indonesia untuk bertemu dengan Tante".
"Apakah mereka berdua sehat-sehat?".
"Sehat-sehat Tante, hanya saja surai rambut Om Kenji sudah berubah warna".
Tergelak tawa,"Yang jelas iya, mereka berdua sudah tua seperti saya".
Membuat yang lain ikut tertawa mendengar topik pembicaraan ini. Namun tidak dengan Nana yang masih terdiam menahan malu sangat malu dengan perkataan kakak pertama nya.
++++++
Singkat cerita hari pun semakin menjelang malam. Yohan memutuskan untuk segera berpamitan untuk pulang kekediaman rumah nya.
Sebelum ia benar-benar pergi. Sesuai dengan janjinya tahun lalu. Nana mengajak Yohan untuk melihat makam anak mereka yang di makamkan di halaman depan rumah.
Usai dari sana Yohan langsung berpamitan untuk pergi. Tidak lupa Yohan juga meninggalkan beberapa bingkisan yang tertinggal di jok mobilnya untuk Jerry yang sejak tadi tidak kelihatan berkeliaran.
Menerima pemberian ini,"Jerry sedang di cas, biasanya kalau dia mau mengecas jam segini dia akan bangun besok pagi melepaskan sendiri cas nya".
"Nanti setelah menikahi Jerry di bawa atau di tinggal?".
"Ehmmm......mungkin akan ku tinggalkan agar ada seseorang yang mengawasi mama saat yang lain sibuk dengan dunianya",kata Nana."Lagian Jerry anjing robot yang paling sempurna yang belum pernah aku lihat. Kamu hebat bisa merancang robot seperti itu".
Yohan hanya membalas dengan senyuman tipis. Ia mencium sekilas kening Nana,"Selamat malam".
"Hati-hati di jalan".