The Revengers

The Revengers
Eps.20



Nana masih menumpahkan semua kesedihannya di dalam pelukan hangat mamanya. Namun ia tiba-tiba bergerak cepat melepaskan pelukan itu. Mendekap erat mulutnya dengan kedua telapak tangan. Nana bergegas turun dari tempat tidur berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Alyah yang khawatir dengan keadaan putrinya bergegas menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Setelah melihat betapa tersiksanya tangisan putrinya tentu membuat Alyah sebagian seorang ibu sangat khawatir.


Apa lagi saat sampai di dalam kamar mandi ia melihat putrinya muntah-muntah mengeluarkan cairan kuning. Dengan telaten Alyah memijat pelan tengkuk putrinya.


+++


Aku dan Dani sudah bergabung lagi dengan Ian yang berhasil menyelamatkan semua anak-anak yang di sekap.


Dani yang berdiri di samping ku terdiam berkaca-kaca saat melihat sesosok wanita berpakaian lusuh berdiri di tengah kerumunan anak-anak itu. Langkah kaki Dani mulai bergerak mendekat.


"Ibu."Panggil bernada rendah, sesosok wanita ini berpaling ke arah sumber suara. Tangisan pecah,"Dani, putra ku Dani."Wanita ini berjalan mendekati Dani bersamaan dengan Dani.


Dani memeluk erat wanita dewasa yang telah melahirkan nya. Melepaskan pelukan, tangan ibu Dani bergerak mengelus kedua pipi Dani,"Ini kenapa sayang?Jangan terluka-terluka kayak gini, ibu tidak mau kehilangan kamu. Jangan tinggalkan bunda seperti ayah dan adik mu. Ibu tidak mau kehilangan lagi, ibu tidak mau kehilangan lagi."Racau ibu Dani dalam tangis nya.


Menggenggam kedua telapak tangan ibunya,"Dani baik-baik saja ibu, ini hanya luka kecil. Sepulang dari sini ibu bisa mengobatinya."


"Dani ayo pergi."Teriak Ian pada Dani.


"Bentar."Balas Dani tanpa berpaling ke arah sumber suara. Fokusnya masih pada ibunya,"Ibu tetap di sini nanti akan ada pihak berwajib yang menolong bunda. Ibu tidak perlu takut nanti Dani akan kembali lagi menjemput Ibu."


"Kamu akan kembali kan?".


"Iya, Dani sudah janji sama ayah akan menjaga ibu dengan baik." Kata Dani mencium punggung bundanya,"Dani pamit, assalamualaikum."Salamnya sebelum berlalu menjauh dari sana bersama dengan ku dan Ian.


Selepas kepergian kami. Belum lama kemudian rombongan bersekala besar pihak berwajib dan ambulan datang ke tempat ini.


Sementara aku, Ian, dan Dani sudah jauh dari sana. Kami bertiga pergi dulu karena tidak ingin terikat dengan ribetnya hukum yang berbelit-belit.


Sampai di Villa. Luka Dani yang tertembak langsung di tangani oleh Ian. Sementara aku berlalu naik ke lantai atas ke kamar istirahat ku di villa ini. Di dalam kamar ini aku tidak bermaksud membersihkan diri ataupun beristirahat. Akan tetapi untuk mengeluarkan semua rasa sakit serak di dada ini yang aku tahan-tahan sejak tadi.


Tubuh terduduk jongkok di lantai, punggung menyandar dinding kamar ini. Mengatur nafas ku yang tidak teratur berlahan-lahan. Mungkin karena aku mengabaikan waktu istirahat kembali yang membuat sakit ini kembali menyerang ku. Tidak hanya sesak, jantung berdenyut cepat, sakit ini menjalar ke kepala ku yang ikut terasa sangat pening.


+++


Nana di tuntut Alyah keluar dari dalam kamar mandi. Yudha yang baru saja sampai melihat keadaan putri pun ikut langsung khawatir,"Nana kenapa?Kamu sakit?".


"Ayo langsung ke rumah sakit."Yudha yang hendak mengendong Nana. Akan tetapi Nana menepis kasar tangan ayahnya,"Tidak mau, Nana hanya masuk angin biasa saja repot-repot ke rumah sakit. Lebih baik sekarang Nana istirahat saja besok pagi juga baikkan."Kata Nana.


"Wajah kamu sangat pucat Nana."Kata Yudha yang terlihat sangat khawatir.


"Benar sayang apa tidak sebaiknya kamu ke rumah sakit saja."Kini giliran Alyah yang mendukung saran suaminya.


"Tidak mau, Nana mau istirahat saja. Lebih baik kalian berdua keluar sekarang."Kata Nana berlalu berjalan mendekati tempat duduknya,"Jika pergi jangan lupa matikan lampunya."Nana yang sudah berbaring menyelimuti tubuh nya kembali dengan selimut tebal nya.


Yudha hendak membujuk putrinya kembali, akan tetapi Alyah menggenggam tangan nya menghentikan pergerakan nya.


"Jangan mas biarkan istirahat, mungkin benar putri kita hanya butuh waktu untuk istirahat."Kata Alyah.


Yudha dan Alyah akhirnya berlalu meninggalkan kamar tidur milik putih mematikan lampu kamar putrinya. Dan menutup kembali pintu kamar sebelah akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana.


Selepas kepergian kedua orang tuanya. Nana kembali membuka selimut nya. Ia merai gawai yang ia biarkan tergeletak di atas meja samping tempat tidur.


"Apakah aku harus menghubungi Rara. Apakah harus... Sekarang hanya Rara yang bisa membantu ku".Batin Nana bertanya-tanya bimbang. Akan tetapi belum juga ia menekan gagal telfon nomor Rara. panggilan telepon masuk lebih dulu ke dalam ponsel. Dari Rara, suatu kebetulan.


Tersambung.


*CK, terus perempuan-perempuan yang lain ku anggap apa anjing?".


*Hahaheh.... Intinya tidak enak aja Na tidak ada lu. Gue jadi punya pikiran buat berhenti sekolah."


*Hmmm."


*Bercandaan, Na."


*Ra."


*Hem?".


*Kalau gue cerita sesuatu tentang aib gue ku bakal comber tidak iya."


*Lu lupa gue di lahir dari keluarga apaan dan sahabat siapa."


*Lupa."


Helaan nafas kasar terdengar di seberang sana.


*Gue lahir di rahim Ibu gue yang dingin nya mengerikan, ayah ku pendirian tegasnya, peles posesif, dan Abang es balok ku dengan tatapan membunuhnya setiap ketemu adiknya sendiri. Intinya di rumah berasa kek di rumah hantu. Dan sahabat gue yang paling dingin dan cerewet kalau sedang kumat kesurupan pare."


*Hem."


*Huhhhhajhahakkkk......".


*Ra, bisa tidak lu besok bolos sekolah dan datang ke rumah gue."


*Tidak bisa, tapi demi lu gue akan bolos huahhahah......".


*Nanti sebelum ke rumah gue minta tolong beli kan tespek. Jangan beritahu siapapun soal ini. Jangan ada yang tau."


*CK buat apa?Lu tidak kebebasan kan mainnya. Tapi perasaan lu kan mainnya sama gue terus, si anak baik. Lu tidak mungkin kan, Na."


*CK pikiran lu, gue telat aja jadi takut heheh....".


*Okay-okay siap, tunggu gue besok."


Panggil berakhir.


"Gue percaya sama lu Ra, lu adalah teman terdekat ku."Batin Nana yang menaruh kepercayaan harapan pada Rara sahabat dekatnya.


+++


Selepas membersih diri. Kini aku akan tengah merebahkan tubuh lelah ku di atas tempat tidur. Melepas rasa lelah sepanjang hari beraktivitas.


Tanpa disadari lamunan ku yang memperhatikan langit-langit kamar teringat akan kejadian malam itu di pondok. Aku berusaha untuk melupakan kejadian di pondok, akan tetapi lengah sedikit aku selalu mengingat nya.


Walaupun malam itu aku benar-benar tidak mengingat apa yang aku lakukan pada Nana. Entah kenapa aku tidak mengingat nya, dan aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi di malam itu. Walau tetap saja, aku tidak mengingat. Aku hanya ingat, aku sudah tidur di kamar yang sama bersama dengan Nana.


Entahlah! Seingat ku sebelum aku kehilangan kesadaran. Aku meminum habis air putih di kulkas setelah itu aku pergi ke depan rumah lalu...Aku lupa apa yang terjadi. Aku lupa!


Aku beranjak dari tempat ku tidur. Mendudukkan diriku mengacak-acak surai rambut yang sudah berantakan dari awal.


"Aku harus bicara dengannya. Tidak!Dia pasti sangat membenci ku sekarang. Dia tau apa yang ku lakukan dan aku tidak ingat. CK sialan, minuman dari mana itu. Cerobong."Kata ku entah pada siapa di dalam ruangan kamar yang gelap ini.