
Mendapatkan kabar Nana di culik aku segera mencari informasi tentang keberadaan geng manusia kertas tanpa kepala. Entah kenapa aku yakin betul jika geng manusia kertas tanpa kepala lah pelakunya. Di kala incaran ku beberapa hari ini adalah geng nya. Yang saat ini tengah bermasalah dengan ku.
Satu menit mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi di tikungan berliku-liku tajam. Akhirnya tibalah aku di puncak bukit tempat taman pondok rumah tradisional berada.
Aku dan Fazil bergegas beranjak dari dalam mobil. Kedatangan kami langsung di sambut oleh kerumunan pria bersenjata api.
Kami berdua mengangkat kedua tangan dengan melangkah kan kaki menjauh dari mobil. Slepkk....Aku membuat gerakan menjegal kaki salah seorang pria bersenjata. Menarik tangannya untuk merebut paksa senjata api yang di bawah.
Di susul dengan tembakan brutal yang ku lakukan pada mereka semua yang mengelilingi ku. Fazil langsung membungkukkan badan untuk mempermudah kegiatan ku.
Beres dengan itu. Di kala peluru sudah habis aku bergerak cepat menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka yang masih selamat menyadari nya. Tidak terkecuali dengan yang di lakukan Fazil.
Kami memaksa masuk secara paksa ke dalam lapangan di belakang taman pondok. Yang jalan masuknya hanya melewati pintu utama taman pondok ini.
Kami berdua berkelahi seperti monster. Tidak hanya menyingkirkan mereka. Tapi kami berdua juga membuat mereka yang menghalangi jalan kami cacat juga mati. Sampai akhir kerumunan ini memilih untuk menepis dan memberikan kami jalan secara percuma-cuma.
Baru saja menginjak paving lapangan. Kami berdua langsung di sambut oleh mereka berempat yang telah menculik Nana.
Tatapan tajam membunuh tertuju pada mereka berempat,"Di mana kau sembunyikan Nana?".Tanya ku pada mereka.
"Habisi mereka berdua".Suruh seorang pria seperti ketua dari mereka bertiga.
Mereka mengambil langkah maju. Fazil juga ikut mengambil langkah maju berdiri sejajar dengan ku.
Menggerakkan tangan bersiap melayani,"Beraninya kalian menculik adik ku!!".Fazil bergerak sangat cepat mendekati mereka lebih dulu.
Shetpp....Brakk....Menendang salah satu pria dengan tumit nya. Berganti dengan punggung kaki. Dan lutut yang mendarat pada pria lain. Saking kuatnya serangan Fazil mereka bertiga langsung tersungkur tidak sadarkan diri.
Fazil terdiam di tempat nya dan mengulangi kalimat yang sama ia ucapkan,"Di mana adik ku sekarang?".Di barengi menengok ke arah ketua geng ini.
Pria ini mengangkat tangannya memberikan aba-aba pada anak buahnya yang lain untuk membawa keluar sadra.
Kedua tangan yang terikat. Nana di gelandang kedua pria berjalan ke lapangan.
"Leyahlah kalian, Abang ku tidak akan memberikan kalian hidup".Nana mengintimidasi mereka.
"Diam bang**sat",Pakkk.....Salah seorang pria yang menggelandang Nana menampar Nana.
Aku berjalan mendekati Fazil,"Mari selesai,"Aku melesat cepat menyerang ketua mereka.
Tidak terkecuali dengan Fazil yang secepat mungkin menyerang mereka yang telah melukai adiknya.
Beberapa menit kemudian. Seluruh pria gangster telah lenyap dari hadapan mereka berdua. Dari banyaknya pria gangster tidak ada satupun dari mereka yang sadarkan diri.
Fazil melepaskan tali yang melilit kedua tangan adiknya,"Kamu baik-baik saja?Mereka tidak melukai mu?Pipi mu memarah".
"Tidak bang, astaga khawatir nya. Mereka cuma menculik ku biasa karena mereka...,"Menjedah ucapannya berpaling melihat ku,"....Mereka akan menjebak mu".
"Kalian baik-baik saja?".Ian dan yang lain yang baru saja tiba di tempat ini.
"Baik".Balas Nana menyungging senyum tipis,"Eh!!Kita harus segera pergi sebelum mereka datang".Teringat dengan ucapan nya tadi Nana bergegas menarik kedua pergelangan tangan kedua pria ini untuk mengikuti langkah nya.
Akan tetapi langkah kakinya terhenti saat ia melihat para rombongan pria menakutkan memasuki lahan lapangan ini.
"Arya".Seru Fazil pada teman nya,"Bawa Nana pergi dari sini".
"Eh!!Tidak, tidak, seenaknya saja mengambil keputusan sepihak, tidak aku mau tetap di sini mambantu. Apa gunanya sabuh hitam ku jika aku tida...".Tanpa basa basi tubuh Nana tiba-tiba terangkat oleh ku yang menarik kerah pakaian. Untuk melemparkan tubuh Nana pada Ian yang buru-buru langsung menangkap tubuh Nana.
"Jaga Nana".Ucap ku tanpa berpaling melihat ke belakang.
Berhasil mengendong tubuh Nana,"Kau tidak papa?,"Terfokus pada raut wajah syok Nana,"Bener-benar Yohan anak orang di lempar kayak barang".
Sementara Nana masih terdiam syok dalam gendongan Ian. Tanpa basa basi lagi Ian pun berlalu pergi menjauh dari sini yang di ikuti oleh Arya.
Kini di sini hanya menyisakan Aku, Fazil, dan Kanzo dan Kenichi yang berdiri di belakang kami berdua.
"Maaf soal itu".Ucap ku pada Fazil.
Menyungging senyum miring,"Cukup baik, jika tidak begitu adik ku tidak akan pergi. Dan aku tidak bisa melakukan hal seperti itu pada adik ku".Nada bicara pelan Fazil.
"Ada urusan apa mencari ku, Tuan Yohan?".Sorot mata dingin pria di barisan paling depan hanya tertuju pada ku.
"Membunuh mu".Balas ku singkat pada dan menjelaskan semuanya.