
Jauh dari sana, sesosok pria berjalan santai mendekati meja makan di rumah makan sederhana tepi jalanan sungai. Pria ini menyodorkan satu buket bunga pada perempuan cantik yang tengah duduk seorang diri di meja makan ini.
Menerima bungan ini dengan senang hati,"Thanks Ney".Di susul senyum hangatnya pada pria yang saat ini sudah duduk di kursi kosong depannya.
Neymar nama pria ini,"Bagaimana kabar mu?".
"Baik",balas Nova."Sekarang kerja di mana?".
"Masih di tempat yang sama dulu".
"Benarkah. Aku kemarin ke sana tidak bertemu dengan mu. Aku ambil kesimpulan kau sudah dapat pekerjaan lain".
"Hari apa kesana?".
"Minggu".
"Aku sip malam kalau Minggu".
"Oh".
"Sudah ketemu Yohan?". Neymar mengganti topik pembicaraan, yang di balas langsung anggukan ringan oleh Nova.
"Iya, kemarin",ucapnya."Seperti dia masih marah dengan ku, dia sangat cuek dengan ku. Padahal aku sangat ingin sekali kita akur seperti dulu lagi. Bukan sebagai pacar tapi sahabat".
Tidak mungkin Yohan beneran pacaran sama Nova. Di kala dia sendiri sudah tau sejak awal siapa orang tua kandung Nova. Isi kelapa Neymar yang menolak untuk mempercayai ucapan Nova.
Neymar memutuskan untuk pergi dari sana. Bersama dengan Nova yang akan ia ajak untuk berkeliling taman sebentar sembaring melanjutkan obrolan santai nya.
++++++
Entah kenapa sudah sejauh ini, dan hanya tinggal satu target. Tapi kenapa masih belum rasa puas dalam diri ku. Seperti masih ada yang sesuatu yang sangat penting telah ku lewatkan. Dan aku sama sekali tidak mengetahui apa itu. Di kala menurut sudut pandang ku, aku sudah merancang rencana serumit mungkin dan serapi mungkin agar tidak ada satupun yang menyadari permainan ku.
Namun tetap saja aku sangat tidak tenang. Seperti aku harus memeriksa lagi semuanya dari awal. Aku harus benar-benar memastikan tidak ada satupun yang ku tinggalkan.
Ditengah kegiatan berperang dengan isi kepala. Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di samping ku duduk. Dan berkata,"Ketemu lagi".
Nada bicara menyapa membuat perhatian sedikit mendongak, tapi tidak berpaling melihat sumber suara.
"Dan seperti tujuan kita sama lagi".Ucap seseorang ini lagi. Masih tetap berdiam berdiri di samping ku duduk.
"Jadi apa rencana mu saat ini?".Dia berganti bertanya pada ku yang masih terdiam. Cuek nan dingin."Aahh....kau tetap saja dingin. Padahal kita kan sudah menjadi teman".
Aku beranjak dari tempat duduk ku. Berbalik badan dan mulai melangkah pergi dari tempat ini tanpa mengatakan sepatah kata pun pada nya.
Sampai sesosok pria ini kembali berkata,"Perempuan yang kau jadi alat bukan perempuan sembarangan. Jangan pernah kau meremehkan nya".
Aku yang awalnya tidak tertarik dengan ucapan. Seketika itu juga menghentikan langkah ku, terdiam membelakangi nya.
"Jika aku ingin mengetahui lebih banyak informasi, seperti kau harus menyetujui kesepakatan ku. Untuk mengajak ku berkerjasama dengan ku".Suatu tawaran untuk ku yang masih terdiam, belum merespon apapun perkataan pria itu.
+++
Terduduk ketakutan dengan kedua tangan yang sudah terikat rapat,"Tunggu mau apa kau".
Menjilat penda tajam dalam genggaman tangan nya,"Memastikan kau mati adalah tugas ku",di susul senyum sinis mengerikan.
Hendak berusaha untuk kabur. Akan tetapi ia lagi-lagi di sadarkan dengan kedua tangan yang sudah terikat kuat. Begitu juga dengan kakinya. Suatu keadaan yang tidak seharusnya ia alami, jika saja ia lebih waspada dan tidak meragukan targetnya.