The Revengers

The Revengers
Eps.7



Selepas olahraga basket aku dan rekan-rekan ku beranjak untuk duduk di tepi lapangan. Rehat melepas penat.


Melihat kepergian ku,"Yohan."Panggil Ian yang masih duduk dengan yang lain,"Kemana?".


"Kelas."


"Di kelas kan ada as".Sadar akan maksud ucapan Yohan. Ian ikut beranjak menyusul ku. Di ikuti dengan yang lain.


Aku merasa seperti ketua mereka. Dan aku benci posisi ini. Karena aku menjadi pusat perhatian sepanjang perjalanan ke kelas. CK.


Sampai di kelas aku langsung duduk di bangku ku. Sementara Ian masih bergabung dengan yang lain. Bahkan Irgi sudah tidak mengunakan kaos olahraga nya. Sama seperti Vano. Keduanya duduk tenang di depan as kelas.


"Bau nya menyebar keseluruhan ruangan o'on."Ucap salah seorang siswi perempuan.


"Bau baby maskulin gini lu bilang bau."Vano menyahuti.


"Bau selokan depan rumah gue maksudnya."Kata siswi perempuan ini.


Beranjak dari tempat duduknya memperlihatkan bentuk tubuh nya yang memang maskulin seksi,"Cium nih."Ucap Vano.


"Waduh memerah bahaya."Saut siswa perempuan lain. Atau Jian.


Rara yang kepo ikut bergabung,"Wah iya."


Dania yang merasa malu juga kesal karena di ejek,"Mata mu anjing, ogah sekali mencium tubuh mu yang bau selokan depan rumah".Ucapnya kesal berlalu duduk di bangku nya.


Beranjak dari tempat duduknya menepuk bahu Vano,"Yang sabar."Ucapnya sebelum berlalu mendekati ku yang semenjak tertidur menyilang kedua tangan,"Ganti pakaian."


"Hmm."Atensi ku yang terfokus pada lawan bicara ku. Bersamaan dengan itu tiba-tiba ponsel yang aku letakkan di atas meja menyalah berdering.


Ian langsung mengambil ponsel itu, dan berlalu pergi meninggalkan ruang kelas. Aku yang melihat sekilas siapa yang menelpon. Maka nya Ian begitu bersemangat untuk mengangkat nya lebih dulu.


Aku beranjak dari tempat duduk tidak lupa dengan membawa tas ransel ku.


"Lu mau kemana?".Tanya Vano pada ku.


"Ganti."


"Yaelah ganti di sini aja."


"Di lihat mereka."


"Mereka kan cowok."


Seseorang tiba-tiba menepuk bahu ku,"Gak usah perduli sama orang kurang sehat. Ayo ganti sebelum guru bhs Inggris datang."Ucap Irgi berlalu melihat dulu keluar kelas.


Yang di susul oleh Brian yang berjalan ringan beriringan dengan ku. Tanpa aba-aba kami berdua reflek menjauh satu sama lain. Hanya itu menghindar dari.


Plakk....."Aduh, aduh, mama lu jahat sekali."Irgi mengelus-elus belakang kepala yang baru saja menjadi tempat mendarat sebuah buku yang terlempar tanpa dosa.


Mengambil buku yang terlempar,"Mama badak lu sowak."Nada kesal Nana,"Pakai koas olahraga lu bangsat."


"Aduh posesif nya."Irgi dengan sangat kembali meletakkan tasnya, untuk mengenakan kaos olahraga yang sejak tadi tersampir di bahu nya.


Brakk.....Menendang kuat belakang lutut Irgi,"Aduh salah apa lagi mama."


"Mama, mama badak lu sowak, jangan panggil gue mama bang***sat."


"Oky-oky."


Mengangkat ingin mengambil ancang-ancang memukul kepala Irgi,"Untung anak orang, hii."Gemas rasa ingin nyelinding.


Aku terdiam terpaku. Sampai Brian menepuk bahu ku,"Gak usah kaget sama Nana."


"Gak."Balas ku Cuek.


"Ra ayo ikut gue ke kantin."


"Ogah bentar lagi umi Inggris masuk."


"Bodoamat Ra isi perut lebih penting."Nana berjalan mendekati Rara menarik paksa Rara untuk ikut bersamanya,"Tepi rakyat jelata."Ucap ku mendorong kasar tiang listrik Irgi yang menghalangi jalan ku.


"Waduh anjing kecil-kecil menyeramkan sumpah."Ucap Dani yang ikut tergusur.


Next....


Lama menunggu di parkiran. Akhirnya Ian turun menghampiri ku,"Buang-buang waktu anjing."Ucap ku menatap nya datar.


Mengambil helm yang akan ia kenakan,"Sorry, sorry gue bonceng deh."Kata Ian,"Perut gue mules banget, gue di toilet lama bener sumpah. Bahkan sekarang masih sakit, kayak gue keracunan makanan deh."


"Makanan tai."Ucap ku terdengar kasar tidak perduli,"Itu karena sambal Bakso tadi kurang banyak."


"Astaga lupa gue tadi kan lomba makan bakso setan sama Vano."Mulai duduk menyalahkan mesin motor,"Kira-kira apa kabar dengan Vano."Moto yang di kendarai Ian berlahan-lahan meninggalkan halaman parkiran sekolah.


Next.....


Menujuk ekspresi sekaratul maut di depan toilet,"Aduhh Bu."Mendekap perutnya kembali masuk ke dalam kamar mandi. Terus melakukan itu berulang kali. Sampai seragam sekolah yang kacau itu semakin terlihat kacau. Bahkan celana panjang bawahan pun entah ada di mana. Karena hanya celana pendek seatas lutut saja yang masih melekat.


Mencengkram kuat pinggiran pintu kamar mandi,"Aduhhh ibuu masih sakit lagi".Menunjukan ekspresi wajah pucat.


Melihat Abang nya yang baru ingin keluar kamar mandi sudah masuk lagi,"Bu Abang kenapa?".Tanya adik perempuan Vano yang baru pulang dari sekolah.


"Biasa kurang banyak vitamin cabe yang dia makan."Ibu Vano yang sibuk membuat minuman rempah-rempah untuk Vano yang sudah kembali masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Melihat putri nya yang hendak pergi,"Mau kemana?".


"Ganti baju mandi makan tidur."


"Bersih-bersih rumah."


Membungkuk-bungkuk,"Aduh...aduh....capek nya."Adik perempuan Vano berlalu pergi dari dapur.


"Woy."Suara tegas Vano menghentikan langkah adik perempuan nya yang sudah ada di ambang pintu kamar tidurnya.


Vano yang masih meringis menahan sakit,"Bantu ibu bentar baru istirahat sepuasnya."


"Iya bang, ini mau ganti baju dulu."Balas adik perempuan Vano yang masih mendapatkan tatapan tajam tegas.


Next....


Aku yang melihat Ian masih terduduk di kursi ruang tengah depan toilet di lantai bawah,"Perlu ke dokter."


"Gak, gak, sudah baikan tinggal istirahat saja sebentar."Ucap Ian beranjak dari tempat duduknya.


"Permisi den."Ucap bibi pembantu rumah,"Membawakan segelas air berwarna coklat ke kuningan,"Di minum den ini rempah-rempah yang ampuh meredakan sakit perut. Syukur, syukur Aden nanti tidak perlu minum obat-obatan."


Menerima pemberian itu. Ian langsung meminum habis rempah-rempah itu,"Makasih Bi, tinggal istirahat sebentar pasti sembuh."Ucapnya berjalan dengan tangan kanan yang tetap mendekap perut ratanya berlalu pergi melewati ku.


"Tas lu."Ucap ku melihat tas sekolah Ian yang tertinggal.


"Inisiatif dikit lah."Ucap Ian yang tetap berjalan pergi.


Next.....


Tokk....Tokk.....,"Masuk."Ucap ku pada Ian yang mengetuk-ngetuk pintu kamar ku.


"Ada telfon gue bit****ch, gue jadi lupa awalan buat rangkuman skripsi."Omelnya berjalan mendekati ku yang duduk di kursi belajar.


Menunjukkan rekaman video,"What sudah mati!Lemah."Ucapnya yang bisa melampiaskan kekesalannya pada rekaman video CCTV.


"Rencana selanjutnya bagaimana?".


"Tidak gegabah dulu, karena yang terakhir ini tergabung dalam residivis penjualan barang haram juga organ tubuh manusia secara legal."Kata ku pada Ian.


"Aku juga belum mendapatkan informasi yang berguna untuk menyusun rencana selanjutnya."


"Jadi kita tetap menjadi anak sekolahan selama beberapa tahun ini."


"Iya, sampai rencana ini yang belum terlaksana ini selesai."


"Kalau gitu bantu gue kerjain soal pas kuliah gue, gue benar-benar mau lulus cepattt. Rasanya depresi."


"Hem."


"Lu mau."


"Ya."


"Bentar gue ambilkan."Ian melesat cepat meninggalkan kamar ku. Sampai tidak memperdulikan aku yang hendak berkata,"Jangan banyak gue ada kerjaan kantor yang belum selesai."