
"Akhirnya Deddy!!Putra mu adalah seorang miliader. Akan ku habiskan semua sahamnya dalam sekali kedipan mata".Ucap Lucas dengan bangga duduk di kursi kebesaran Yohan(Anata)dengan senyum miring sumringah.
"Panggil yang cantik-cantik ke sini, jika tidak mau bunuh mereka".Lucas menaikan kedua kakinya ke atas meja dengan menyilang.
Sementara itu, aku masih dalam perjalanan ke kantor. Setelah mendapatkan telfon informasi dari orang terdalam nya di kantor.
*.......".
*Tunggu aku, selama itu turuti saja keinginan anak anjing selama tidak menyakiti mu".
*Baik Tuan."
Panggilan di akhir. Dan aku semakin menambahkan kecepatan mobil nya. Dengan 7000ss aku tempuh untuk sampai di kantor lebih cepat. Tatapan tajam ku menyimpan api amarah yang berkobar-kobar brutal. Lucas sudah melewati batas permainan. Dan aku sangat benci dengan permainan nya.
Next......
Aku menyalahkan telfon kembali, berkomunikasi melalui headset tanpa kabel. Aku mengobrol dengan seseorang dalam panggilan telfon di seberang sana.
*Kumpulkan semua anak buah. Bawa semua senjata, langsung datang ke kantor".
*Baik tuan".
*Tunggu aku di luar, kalian harus sampai lebih dulu dari ku".
*Baik Tuan".
Panggil berakhir.
Bremm.......Mobil dengan kecepatan tinggi, roda yang berputar cepat anginnya menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di jalanan.
+++++
Berlari cepat masuk ke dalam ruangan Lucas membuat Lucas yang duduk santai di temani para wanita-wanita cantik karyawan Yohan(Anata)langsung mengerutkan keningnya menatap pintu keluar.
"Maaf Tuan...Di luar ada banyak gangster".Ucap pria ini memberitahu.
"Tuan Yohan".Ucap wanita ini saling tatap bersama rekannya yang lain senang. Karena bos nya akan segera datang menolong.
Lucas yang mendengar jelas nama itu, atensi fokus tajam langsung tertuju wanita itu,"Bicara apa kau?".
Menunduk pandangan,"Tuan Yohan".
Smlpp....,"Sialan".Umpat nya.
"Cepat panggil bantuan".Brakk.....Pintu kantor yang terbuka kasar dari luar. Menampilkan dua pria memasuki ruangan yang di susul oleh Pria berjas rapi abu-abu.
Lucas yang ingat jika perusahaan ini sudah menjadi atas namanya dengan bangga ia beranjak dari tempat duduknya.
"Anda bisa keluar sendiri kan?".Lucas mengangkat tangan mempersilahkan,"Karena rekan anda Ian sudah membantu ku untuk mendapatkan semua saham mu, kesimpulan nya...". Memotong ucapan Lucas,"...Semua saham masih atas nama ku,"Merogoh kantong jasnya, mengeluarkan kaca bening. Aku taruh kaca itu di atas meja dan ku nyalakan ponsel tembus pandang itu.
Mengeluar cahaya biru menjulang menjadi layar tembus pandang yang langsung menampilkan lembaran dokumen nama saham perusahaan Narendra.
Melihat Lucas terdiam di tempat. Aku segera mematikan alat ku, dan kembali memasukkan ke dalam kantong jas ku.
"Kalian bertiga bisa pergi".Suruh ku pada ketiga karyawan wanita ku tanpa berpaling melihat mereka. Karena fokus ku hanya tertuju pada Lucas.
Akan tetapi Lucas tiba-tiba mengeluarkan senjata api, menodongkan senjata itu pada ku. Tepat di depan kepala ku. Begitu juga dengan beberapa anak buah ku yang berdiri di belakang ku yang ikut bergerak cepat menodongkan senjata api pada Lucas.
Ekspresi datar pada wajah ku,"Satu tembakan tidak akan membunuh ku, tapi lima tembakan cukup untuk membunuh mu".
Langkah kaki ku bergerak memutari meja kerja ku untuk berjalan mendekati Lucas yang masih menodongkan senjata api pada ku.
Sementara Lucas sudah berkeringat dingin. Nyawa ku yang terancam, justru masih tenang melangkah mendekati nya yang gemetaran.
Tangan ku bergerak cepat menarik tangan menggenggam senjata itu, dorr....senjata itu meletus menembak lantai. Aku menarik tangan nya yang lain, mendorong tubuhnya sampai pipi kanan dan tubuhnya membentur dinding ruangan ini cukup kuat. Terdesak tidak dapat lagi bergerak.
"Balas Iya kau akan mati, balas tidak ayah mu dan kau akan mati".Aku membelitkan ucapan ku.
"Iya".
Mendengarkan itu,"Hubungi Moana dan dekatkan ponselnya pada nya".Suruh ku pada anak buah ku yang langsung di laksanakan.
Menunggu panggilan itu tersambung aku pun mendekat wajah ku pada telinga Lucas,"Jangan menyeleweng dari ucapan mu. Aku bisa berbuat lebih jika aku mau".Bisik ku menjedah ucapan ku,"Bilang padanya untuk datang ke Villa C dengan alasan kau akan merayakan pesta besar kemenangan mu".
Tersambung dalam panggilan.
*Lucas, daddy mendapatkan kabar kau berhasil mendapatkan semua saham pria itu...Apakah itu benar?".
*Iya, aku akan merayakan pesta kemenangan ku di villa C".
*J...".Brakk...... Panggilan langsung di matikan oleh anak buah ku. Dan aku semakin menekan kepala Lucas ke dinding ruangan.
"Lenyalah".Tangan ku yang sudah siap menghancurkan anak anjing ini. Akan tetapi salah seorang anak buah ku jauh lebih dulu menahan pergerakan ku.
Menunduk kepalanya dengan kedua tangan masih menggenggam pergelangan ku,"Maaf Tuan. Akan tetapi wajah babak belur akan membuat masalah nanti".
"Hemm.....Iya...Tuhan masih memberi nya kesempatan untuk bernafas beberapa jam lagi. Sungguh mulia".Ucap ku melepaskan cengkraman ku yang mengunci pergerakan Lucas.
+++++
Dua jam dalam perjalanan ke villa C. Bersama dengan Lucas yang sudah siap dalam penjagaan ketat. Bersama dengan ku yang mengikuti mobil yang membawa Lucas.
Sampai di Villa lebih awal. Aku menyuruh semua anak buah ku menjalankan perannya masing-masing. Sementara aku pergi ke dalam Villa mengawasi dari kejauhan. Untuk memainkan sedikit permainan pada anjing dan anak anjing ini.
Semua anak buah ku memerankan karakter nya masing-masing sebagai tamu dalam acara. Untuk menambah suasana menarik dalam permainan ku.
Selang beberapa menit kemudian. Mobil Moana sampai di dalam perangkap ku. Ia keluar mobil setelah sekertaris nya membukakan mobil untuk nya.
Pria tua bangka itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa dengan ekspresi tenang summering. Lucas berjalan melakukan peran karakternya. Menyambut kedatangan ayahnya dengan senyum sumringah. Merangkul Moana erat-erat.
"Kau selalu membuat Daddy bangga Lucas".Moana yang masih merangkul pinggang putranya.
"Tentu dad, putra mu tidak akan pernah mengecewakan mu".Lucas di susul senyum sumringah nya.
Yang di balas Moana dengan mengacak-acak surai rambut putranya. Tiba-tiba.
"AAARRRGGGHH......".Teriak Lucas menjerit kencang sampai membungkukkan tubuhnya, dan kedua tangan nya meremas perutnya.
Saking sakitnya Lucas sampai terduduk lemas. Kakinya menjadi lemas seketika mati rasa. Sulit untuk kembali berdiri.
Di sisi lain Moana menjadi bingung putranya kenapa, sekaligus khawatir dengan yang di alami putranya. Ia sempat berteriak beberapa kali pada mereka untuk memanggil kan dokter. Akan tetapi tidak satupun dari para tamu yang bergerak membantu.
Lucas semakin kesakitan. Dan kali ini kedua tangannya sudah tidak meremas perutnya, melainkan menarik surai rambutnya sendiri. Membuat sela-sela surai rambut kepala nya mengeluarkan cairan merah pekat berbau amis. Kepalanya mendongak ke atas melihat langit-langit malam. Manik matanya membulat sempurna. Memerah.
"Lucas kamu kenapa?Apa yang sakit?Lucas jangan buat Daddy khawatir apa yang sakit?".Khawatir Moana.
Berpaling melihat mereka,"Panggil dokter, tuli kah kalian".Sayangnya mereka tetap terdiam di tempat nya masing-masing.
Suara teriakan itu tiba-tiba hilang menjadi hening tiba-tiba. Akan tetapi Lucas masih terdiam mematung di posisi nya yang mendongak melihat langit-langit malam.
Bokk......Clekkk....Clekkk.....Perut Lucas meledak hancur, darah-darah dan semua isi perut bersemburat. Kemana-mana tidak terkecuali membasuh muka Moana dengan warna merah pekat berbau amis.
Seketika itu Moana langsung terdiam terpaku, manik matanya mengecil dan membulat sempurna. Kedua tangan yang menggenggam kedua lengan Lucas berlahan-lahan bergetar.
"Lucas".Ujarnya pelan. Mulai tergerak untuk menopang tubuh Lucas yang sudah tidak sabar kan diri. Menjadikan paha nya sebagai bantalan putranya.
Moana mengelus pipi penuh darah itu. Tangannya tergerak menutupi kedua mata yang masih melotot,"Lucas".Ujarnya kembali.
"Bukan!!tidak ini bukan Lucas. Tidak!!!!!".Moana yang langsung beranjak menjauhi tubuh hancur Lucas. Ketakutan syok luar biasa.