
Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi kota ini. Setelah gemuruh petir beberapa kali bergejolak menyambar-nyambar membuat kilatan cahaya.
Nana yang telah berhasil memasukkan Yohan ke dalam mobil nya. Kini dirinya sudah duduk kembali di kursi pengemudi. Drumm....Drumm.......
"Ayah."Menggeser gagang telfon yang bergetar-getar.
*Tidak perlu khawatir. Kan ayah yang suruh Nana berangkat mengurusi pondok."Nada bicara Nana yang masih kesal di seberang sini.
*Marah sama ayah."
*Tidak juga."
*Di luar hujan deras jangan lupa buat teh jahe biar hangat badannya. Maaf karena ayah menyuruh kamu melakukan pekerjaan yang harus abang-abang kamu lakukan."
*Nana tidak marah sama ayah. Hanya kesal saja karena harus libur sekolah dan ketinggalan mata pelajaran".
*Na di kulkas pondok ada dua botol air dengan lebel warna biru tolong kamu buah iya."
*Kenapa di buang. Hemmm ayah minum iya."
*Tidak, itu bukan minuman akan tetapi...iya sudah nanti kamu buang saja jangan di minum."
*Hem."
*Nanti kembali ayah traktir."
*Benar Hoyehhh.....Okay kalau begitu."
*Wassalamu'alaikum, selamat malam ratu ayah."
*Wallaikumsalam, ayah ku yang tampan nya tidak ada yang tandingan."
Panggil berakhir.
Uhukk.... Uhukk.... Berpaling ke arah kursi penumpang belakang,"Apa dia bangun."Nana segera menyalah mesin mobil untuk segera tancap gas ke tujuan nya.
++++++++
++++++++++++++
Dua hari telah berlalu dengan cepat. Selama dua hari itu juga Ian belum juga mendapatkan informasi tentang keberadaan Yohan. Ia bahkan tidak mendapatkan kabar dari Yohan sama sekali.
Selama dua hari itu juga Ian tidak berhenti mencari keberadaan Yohan. Karena kesibukan nya mencari keberadaan Yohan. Ian pun tidak masuk sekolah selama dua hari ini.
+++
"Ah...,"Tangan ku yang langsung bergerak menggenggam kepada ku yang tiba-tiba berdenyut pening.
Aku beranjak bangun untuk duduk. Membuat selimut yang menyelimuti tubuh ku terbuka. Fokus ku melihat tubuh ku yang terbalut perban luka. Begitu juga dengan kening ku.
Teringat dengan kejadian semalam. Aku ingat jika ada seseorang yang menolong ku. Mungkin orang itu yang mengobati luka ku.
Aku beranjak dari atas tempat tidur. Menurunkan kaki ku satu persatu. Jika boleh jujur luka-luka cambukan di punggung ku masih sangat terasa panas dan perih. Tangan ku bergerak menggenggam pinggang ku yang paling terasa perihnya.
Ceklek....Pintu kamar ini tiba-tiba terbuka dari luar. Menampilkan kaki perempuan yang melangkah masuk ke dalam kamar ini. Fokus ku terangkat untuk melihat sesosok itu.
"Lu sudah siuman. Syukurlah."Puji syukur Nana. Tidak lupa dengan kedua tangan yang membawa satu baskom.
"Gue pikir lu bakal mati,"Menaruh baskom yang ia bawah di meja kecil dekat tempat tidur ku,"Bagaimana mana lu bisa jatuh dari jurang tinggi itu. Masih hidup pula?".Ngedumel Nana tangan yang mulai bergerak ingin menyentuh perban luka ku.
Aku menepis kasar tegan Nana. Plakk....,"Aduh."Mengelus punggung tangannya,"Gue mau ganti perban lu, anjing. Infeksi kalau perban lukanya tidak di ganti."Bentak Nana meninggikan nada bicara.
Tatapan mata yang dingin dan tajam seperti biasa,"Lu yang ganti semua pakaian ku?".Tanya ku.
"Tidaklah anjing, gue menyuruh tukang kebun pondok ku untuk mengganti semua pakaian lu."
"Sekarang cepat duduk dengan benar, gue akan ganti perban luka nya."Nana membuka kotak obat yang ada.
"Ian sudah mengetahui keberadaan ku?".
"Tidak, selama dua hari ini kau demam dan mengigau. Aku sangat ingin sekali memberitahu dan membawa mu ke dokter. Namun kau terus mengigau jangan, dan mohon jangan."Jelas Nana menceritakan diri ku semalam dua hari aku tidak sadar.
"Bagus."Ucap ku.
Nana mulai mengobati luka-luka ku. Membuka perban luka berlahan sebelum ia beri obat, dan membalut lagi dengan perban luka yang baru.
Sesaat kemudian. Nana yang sudah selesai mengobati luka-luka pun tengah mengemasi kotak obat pada tempat nya.
Aku masih terduduk memperhatikan nya. Nada bahasa yang berganti. Aku berkata,"Kamu tidak takut dengan ku?".
Tanpa melihat lawan bicara,"CK takut kenapa?Lu kan manusia sama kek gue."
Pergerakan cepat tidak terbaca Brakk.....Aku mencengkeram erat leher Nana mengangkat tubuh Nana dan dorong sampai tubuhnya membentur dinding kayu kamar ini.
Tatapan tajam ku tertuju pada sepasang manik mata yang membulat sempurna itu. Aku semakin menekan cengkraman tangan ku.
Wajah ini semakin memerah. Akan tetapi aku tidak melihat ketakutan di dalam matanya. Justru rasa damai dan aman lah yang aku lihat di dalam sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sebagai balas budi nya aku akan membunuhmu."Ucap ku bernada dingin.
Aku mengangkat pisau buah, mengarahkan pisau itu pada leher Nana,"Takut?".Tanya ku yang tidak melihat tatapan menjerit ketakutan di dalam sana.
Menjawab dengan nada suara sedikit lirih,"Tidak, aku percaya kamu tidak akan membunuh ku."
Aku tersenyum tipis melonggarkan cengkram tangan ku, srett...... goreng kecil aku buat di leher Nana.
Nana terjatuh berlutut di depan ku mengatur nafas nya yang engah-engah. Ia bahkan sampai batuk-batuk beberapa kali.
Aku melempar kotak obat kepada Nana yang masih terduduk di lantai,"Obati luka mu."Ucap ku berlalu mengambil kemeja ku.
Langkah ku ingin berlalu keluar meninggalkan kamar. Namun langkah ku terhenti oleh seorang yang menggenggam pergelangan tangan ku.
"Mau kemana, luka mu belum pulih."Ucap Nana yang menghentikan langkah kaki ku.
Atensi ku terfokus padanya, terutama pada leher nya yang masih mengeluarkan darah,"Aku barusan akan mengambil nyawanya dan dia masih khawatir dengan ku."Batin ku heran.
"Obati luka mu."Ucap ku.
"Hanya luka kecil di obati nanti juga bisa."
Aku menyungging senyum tipis. Berjalan lebih mendekat lagi pada Nana. Berbisik di telinga Nana,"Apa yang akan ku dapatkan jika aku tetap di sini?Apa kamu akan memberikan tubuh mu."
Depp.....Pakk....Nana mendorong tubuh ku. Lalu di susul menampar ku,"Pria baji***ngan."Umpat nya pada ku.
Aku masih terdiam di tempat ku. Wajah ku yang menengok paksa mulai kembali pada fokus lurus ku.
Nana yang awalnya terlihat tenang dan berani. Hanya sepasang mata nya saja yang sejak tadi berkaca-kaca. Kini tidak sekedar berkaca-kaca saja dan bersikap tegar. Melainkan bui bening yang mulai mengalir membasahi pipi nya, menghapus sikap tegasnya. Ia menangis tanpa suara isak tangis.
"Kedua Abang ku tidak pernah membentak ku, mereka memang sering marah pada ku. Tapi mereka tidak pernah membentak ku, bahkan memukul ku. Ayah ku bahkan tidak pernah melakukan hal saya sama."Kata Nana yang masih menangis. Pandangan nya terangkat melihat ku,"Kamu hanya orang luar. Kamu memukul ku, kamu....".
"CK seharusnya aku biarkan kamu mati di bawah jurang itu."
"Pergi, kamu bisa pergi. Pergi."Bentak Nana meninggikan nada bicara nya. Mendorong-dorong tubuh ku agar keluar dari rumah pondok ini.
Aku yang masih terdorong-dorong Slep...brekk.....Aku genggam kedua tangan Nana dengan satu tangan ku. Tenaga ku yang lebih besar lebih mudah untuk mengendalikan Nana. Lalu aku gendong tubuh Nana kembali ke lamar. Mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.
Nana yang masih meronta dan marah-marah,"Diam Nana."Bentak ku tegas membuat kaget dan terpaku di tempat nya.
Aku mengambil kota obat dan mulai mengobati luka goresan kecil di leher Nana. Selepas itu aku bangkit dari dari depan Nana duduk.
Tangan ku bergerak menghapus bekas air mata itu,"Maaf."
"Aku sangat benci dengan wanita. Mereka semua terlihat sama selalu melakukan demi uang. Selama ini aku hanya bertemu dengan wanita baji***ngan, sampai tidak bisa membedakan."Kata ku menatap dalam sepasang manik mata indah ini,"Kamu berbeda dengan mereka. Setelah ini aku akan menjadi pelindung mu. Tidak akan aku biarkan ada seseorang yang menyakiti mu."
"Bit***ch!!Lu pikir gue wanita murahan".Umpat Nana.
"Hahahah......".Aku tertawa mendengar perkataan kasar itu,"I love you."
Mengerutkan keningnya,"Lu pikir cinta adalah gorengan donat murahan yang di jual di warteg murahan pinggir jalan."Ucap Nana menatap datar pada ku.
Aku tertawa renyah mendengar respon itu. Aku tidak tau dari mana yang lucu. Yang jelas aku hanya ingin tertawa saja untuk saat ini.
Beranjak dari tempat duduknya,"Gue harus pergi ,jika lu lapar di kulkas banyak makanan yang tinggal di panaskan saja."Kata Nana buru-buru berlalu meninggalkan kamar ini.