The Revengers

The Revengers
Eps.6



Target kecilku berhasil ku masukkan ke dalam lubang neraka ku. Ia adalah seorang konglomerat yang bergerak dalam bidang perdagangan barang-barang ekspor untuk rakyat. Atau barang rakyat yang di jual kan ke luar negeri. Dan di adalah seorang koruptor uang hasil ekspor yang selalu saja berhasil lolos dari akal bejatnya. Yaitu koruptor hasil dari dagang rakyat.


Next....


Sepanjang pagi sampai sore. Sepupuku terus saja mengoceh. Kepala ku yang pening sejak pagi semakin pening mendengar kan ocehan nya. Sebenarnya bukan lah ocehan melainkan rasa kekhawatir dengan ku. Khawatir dengan luka cidra di kaki ku. Padahal bengkaknya sudah hilang akan tetapi ia tetap saja cerewet membuat kepala ku pening.


Aku rogo saku celana pendek selutut ku, mengambil dompet milik ku yang tersimpan di sana. Aku mengambil beberapa lembar uang untuk ku berikan pada Ian.


"Ambil. Pergi jangan kembali."Aku yang terkesan membeli mulutnya. Aku berpaling melanjutkan langkah menaikan tangga rumah dengan bantuan tongkat bantu ini.


Weerr.....Ian melesat cepat di samping. Berlari kencang naik ke lantai atas meninggalkan ku. Belum lama di atas Ian kembali berlari turun dengan pakaian yang sudah rapi.


"Gue duluan."Menepuk bahu ku sekilas sebelum melesat pergi meninggalkan rumah.


Loading cukup lama di sana sebelum akhirnya aku melanjutkan langkah ku. Karena ketiak ku sudah sangat sakit menahan beban tubuh ku.


Next...


Brakk....."Uhuk...".Punggung pria ini membentur dinding penjara cukup kuat. Darah segar ikut keluar dari mulut pria dewasa ini..


Tanpa rasa ibah pria yang menghajarnya habis-habisan mencengkeram dagunya sampai tubuhnya terangkat,"Ululluuttuu.....Pasti sakit?".Ucap nya di susul senyum miring meledek.


"Cepat panggil medis ada yang terluka."Kata pria ini.


"Baik bos Daniel."Ucap salah satu tahanan berlari pergi dari sana.


Wajah penuh luka tidak berdaya ini menatap dalam pria yang telah membuat babak belur hampir mati akan tetapi mencari bantuan medis untuk nya,"Kenapa?Kenapa kau masih perduli dengan ku sementara keinginan mu adalah membunuh ku."


"Aku memang ingin kau mati. Tapi tidak sekarang karena masih banyak permainan yang belum ku lakukan."Ucap Daniel pria yang menghajarnya habis-habisan,"Jika aku bosan baru kau ku perbolehkan untuk mati."


Masih berdiri tepat di depan ku,"Anggap saja apa yang aku lakukan saat ini sama seperti penderitaan mereka yang uangnya kau korupsi."Daniel menyungging senyum miring di akhir sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.


Next......


Aku tersenyum tipis melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku nonton. Dosa bukan melihat rekaman penyiksaan manusia. Akan tetapi tidak dosa kan kalau yang di siksa itu manusia iblis. Cik kan memang pantas mereka mendapatkan dua kaki penyiksaan. Jih, kejam sekali pemikiran ku.


Ian yang baru ikut bergabung duduk di Sova yang sama dengan ku,"CK kau mau membunuh nya?".Tanyanya pada ku.


"Sedikit permainan sebelum masuk neraka sangat di perlukan."Ucap ku dengan enteng nya tanpa beban.


Tatapan menyipitkan kedua kelopak matanya tertuju pada ku,"Kejam sekali kau Yohan."Ucap Ian.


"Kapan kembali."


"Barusan. Karena sudah puas berkencan gue pun kembali ke habitat ku."


"Rawa-rawa."Timpal ku menatap datar.


Menjinjing sebelas alisnya,"Lu mau bilang gue buaya."


"Ya."


"Gue serius sama yang ini. Yang ini terlalu langkah dan sulit untuk di dapat lagi. Semacam limited edition."


"Jaga baik-baik Rara."


"Lu tau dari mana gue jalan sama dia?".Menciptakan matanya,"Jangan usik kehidupan pribadi gue Yohann!!".


"Rara anaknya Om Kevin."


"Ck kenapa kau selalu mengetahui sesuatu lebih dulu dari pada aku. Padahal Rara saja tidak mengenal lu".


"Dahlah gue naik duluan."Ian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kan seorang diri balkon tengah lantai tiga rumah ku.


++++++


+++++++++++


Dua hari berlalu. Kaki yang cidra juga sudah jauh lebih baik. Aku berangkat ke sekolah sudah tidak perlu repot-repot lagi membawa tongkat bantu yang sangat menyulitkan pegerakan ku.


Siang bolong ini. Aku dan teman-teman sekelas ku tengah melakukan kegiatan di luar ruangan. Pelajaran olahraga yang jatuh di jam siang bolong yang terik.


Sepertinya langit cerah di atas sana mengetahui jika siang nya aku mendapatkan pelajaran olahraga. Maka dari itu langit-langit yang awalnya terlihat cerah panah terik menusuk kulit. Kini sudah tidak lagi karena awan abu-abu tipis yang bergerak menutupi.


"Beberapa hari lagi ada lomba basket yang sangat dadakan sekali. Pak guru juga tidak memiliki cukup waktu untuk merekrut tim yang pas. Maka dari itu pak guru ingin mengambil tim itu dari kelas kalian."


"Kalian setuju jadi perwakilan sekolah kita."


"Di coba saja dulu pak."Kata salah seorang siswa.


"Baiklah bapak akan mulai memilih."Pak guru olahraga.


"Brian, Vano, Dani, Ian, dan Yohan. Dan anggota cadangan Billal dan Irgi. Kalian yang terpilih seperti memiliki kemampuan non akademik yang bagus, jadi jangan kecewakan pak guru."


"Baiklah sekarang kita mulai dengan pemanasan lebih dulu."Fokus pada Nana,"Nana tetap di lapangan walaupun tidak ada olahraga lain setelah pemanasan. Kamu selalu menghilang di jam olahraga."


"Baru juga sekali."


"10kali masih bilang sekali."Tegas pak guru ini,"Lihat apa yang akan saya lakukan jika sampai menghilang lagi."


Perempuan yang terlalu malas ini hanya menghela nafas kasarnya. Raut wajah yang sangat tidak mood untuk di pandang perempuan ini junjung.


Next...


Tapp....Tapp....Tapp.....Aku pantul-pantul kan boleh basket ini mengikuti pergerakan ku. Tapp.....Aku masukkan bola ku melewati lawan ku Shett.... Langkah lincah ku melewati lawan dengan baik. Kaki ku memantul ringan melompat sedikit untuk memasukkan bola ke dalam ring.


Kaki ku kembali turun menginjak lapangan ini. Tangan ku bergerak menghapus bui bening yang membasahi Surai rambut kepala ku.


"Keren Yohan."Ucap Dani pada ku. Yang ku balas hanya dengan senyum tipis.


"Kalian juga harus semangat, kemampuan kalian masih belum di keluarkan semuanya."Ian yang berucap lantang memberikan semangat untuk anggota timnya.


"Okay."Ujar Dani,"Are my ready."


Anggota tim semakin semangat. Aku yang memperhatikan sejak tadi tanpa ku sadari menyungging senyum lebar melihat si happy virus yang selalu berhasil membuat orang-orang di sekitarnya merasa percaya diri.


Next.....


Selepas melakukan permainan basket untuk persiapan turnamen antar sekolah beberapa hari lagi. Aku dan rekan-rekan yang sangat letih langsung menepis ke pinggir lapangan. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh di sana.


"Oii."Nana yang datang membawa kantung plastik besar berisik botol air mineral.


"Aduh-aduh ayang Nana pengertian sekali."Ucap Dani yang langsung mengambil air mineral.


"Mata mu."


"Sadis seperti biasa."Timpal Billal ikut mengambil air mineral itu yang di susul dengan yang lain.


"CK anak kecoa kurap."Umpat Nana sebelum berlalu pergi dari sana tidak lupa ekspresi wajah kejar datar.