
Lima Minggu setelah hari yang bercampur di hari itu. Nana dan bayi nya sudah di perbolehkan pulang kekediaman rumah nya. Dan sudah selama itu juga, selama satu Minggu setelah ia benar-benar sudah kembali sehat. Nana mengajukan dirinya untuk mengantikan suaminya menjadi pemimpin perusahaan sampai suaminya kembali membaik.
Kedua kaki Yohan masih belum sembuh, ia juga masih di bantu kursi roda jika ingin berpergian. Walaupun begitu, ia tetap berusaha berjuang untuk segera sembuh. Lelah dan sangat tidak berguna nya ia setiap kali harus melihat Nana pulang dalam keadaan kelelahan karena harus mengurus banyaknnya pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan.
Seperti di hari ini. Selepas mandi dan belum sempat makan malam. Nana sudah duduk tenang di atas tempat tidur bersama dengan baby boy dalam gendongan yang tengah ia berikan asi.
Seseorang yang Yohan suruh telah datang ke kamar membawakan nampan makanan untuk Nana. Yohan menyusu asisten rumah nya untuk menaruh air putih di meja dekat tempat tidur. Sementara nampan makanannya ia letakkan dalam pangkuan nya.
Selepas kepergian asisten rumah nya. Yohan membangunkan Nana yang sampai terlelap-lelap menyusui baby boy."Bangun Na makan dulu....Nana bangun".
Nana membuka matanya ia kerjab-kerjabkan beberapa kali matanya untuk menghilangkan pandangan kabur nya.
"Makan dulu sebelum istirahat, lagian ibu menyusui juga sangat membutuhkan banyak nutrisi makanan sehat untuknya dan anaknya",aku terfokus menatap kedua mata yang terlihat lelah akan tetapi memiliki senyuman yang tulus ia tunjukkan untuk ku.
"Aku tidak bisa makan, kasihan baby boy kalau di lepaskan asi nya",Nana terfokus melihat wajah polos itu sudah tertidur pulas tanpa menyudahi meminum asi nya.
Mengangkat sendok yang sudah terisi makanan,"Kan ada aku", menyodorkan sendok itu ke dekat mulut istri.
Dengan telaten Yohan menyuapi istri yang sibuk memberikan asi kepada baby boy mereka berdua.
Mulut yang masih penuh makanan,"Selesai ini aku masih belum bisa beristirahat".
"Biar aku yang mengerjakan pekerjaan rumah, besok kamu tinggal baca ulang saja sebelum meeting",kata ku."Namun sebelum tidur kamu katakan apa saja yang harus segera di selesaikan".
"Emang bisa?Aku saja hampir gila selama satu Minggu ini di kantor tau", cerita Nana tentang keseharian yang baru nya di kantor suaminya selama satu Minggu ini."Bagaimana tidak gila. Seorang dokter tiba-tiba banting setir ke bisnis".
"Tapi tenang, ada Ian yang penuh kesabaran mengajari ku. Walau...".
"Apa?".
"Rara sebagai bodyguard selalu mengawal paling depan",di susul tawa renyah pelan.
Membuat Yohan ikut tertawa bahagia. Senang ternyata istri tidak seperti yang ia bayangkan. Maksudnya?Yohan pernah berpikir bahwa setelah ini Nana akan meninggal kannya. Melihat dari penyembuhan nya lama mana ada ada perempuan yang betah. Namun semua itu sudah di tepis oleh ekspetasi, jika Nana istri bukan perempuan seperti itu.
"Tapi kenapa kamu dulu tidak seperti itu?".
"Iya karena baby boy anak yang baik-baik kayak ibunya. Tapi kalau kayak ayahnya iya bakal kayak Rara aku dulu".
Yohan tertawa renyah terbahak-bahak tanpa suara takut membangun baby boy yang sudah tertidur pulas itu.
"Jadi akan kita beri nama apa baby boy kita?",tanya Nana mengelus lembut pipi cubi bayi laki-laki dalam gendongan nya ini.
"Baimsendriya Narendra, di panggil Baim".
"Bagus kan Baim?",tanya Nana pada baby boy yang terlelap tidur."Uhh kenapa dia mirip sekali dengan mu?".
"Iya karena aku yang buat".
"Han",
"Ada yang salah?".
"Tidak, hanya saja dia terlalu ganteng".
"Hem..".
"Kasihan Yohan kalau sudah dewasa Baby boy bakal di kejar-kejar buaya betina".
"Huhahahh.......".
Uwekk....wekk.......Tawa Yohan yang tidak tertahankan membuat baby boy kaget sampai terbangun dan menangis.
"Tuhkan Yohan",kesal Nana.
++++++