
Hari ini aku tengah dalam perjalanan ke bandara. Untuk melakukan penerbangan ke New York. Dan Ian akan kembali ke Korsel untuk sidang Kuliah semester akhir nya.
Ian yang sudah terfokus pada lawan bicara nya,"Lu serius, gue yang pakai pesawat pribadi lu. Dan lu naik pesawat umum."
"Hem."Balas ku dingin,"Gue duluan."Aku berlalu pergi dari tempat ini mendorong barang-barang ku sendiri.
Melihat jam dinding yang ada di sana,"Penerbangan ke New York masih kurang beberapa jam lagi. Tidak....mau duduk dulu"Ucap Ian berlahan-lahan menjadi rendah karena tidak ku perduli kan. Aku tetap berjalan menjauh dari sana.
Ian menggeleng ringan, sebelum berlalu pergi ke jalan lain bandara yang langsung menuju ke landasan penerbangan.
++++
"Mau pergi ke mana?".Yudha bergerak menghalangi langkah kaki putrinya.
"Keluar."Balas Nana tidak kala dingin dari Ayahnya,"Biarkan aku pergi Ayah. Aku sudah dewasa biarkan aku menentukan apa yang terbaik untuk ku sendiri."
"Menjaga diri sendiri saja kamu tidak bisa. Dan kamu bilang sudah dewasa."Kata Yudha,"Sudah cukup membuat malu keluarga tetap di rumah jagan kemana-mana."Tegas Yudha.
"Membuat malu iya."Nana tersenyum semanis mungkin untuk menutupi sakitnya mendengar ucapan itu.
Alyah yang tengah di sibuk di dapur mendengar perdebatan itu langsung pergi ke ruang tamu,"LISAN AMARAH JUGA ADA BATASAN NYA, YUDHA."Bentak Alyah ikut turun tangan,"Aku tau putri kita salah, tapi tidak seharusnya kau berkata seperti itu."
"Kamu boleh pergi, Yohan akan pergi ke New York hari ini."Kata Alyah mengetahui semuanya dari Ian yang kemarin malam datang ke sini seorang diri.
"Tidak ma, aku tidak setuju. Yohan bukan pria baik untuk adik ku."Nazil yang tidak menerima ucapan Alyah.
Berpaling dengan atensi tajam Alyah,"Jika dia bukan pria yang baik untuk Nana. Bagaimana dia mau bertahan di depan rumah selama empat hari tanpa kepastian yang jelas dari Nana yang kalian kurung."
Melihat kedua putra yang terdiam menatap nya,"Kalian bahkan tidak membiarkan Nana untuk mengatakan kemauan nya. Keinginan nya."Entahlah tapi kalau Alyah sudah marah seperti ini jalan terbaik adalah diam tidak melawan.
"Apakah pejuang nya masih terlihat buruk di mata kalian?."Semakin meninggalkan nada bicara nya,"Semua orang berhak punya satu kesempatan.Terutama Yohan."
"Nana pamit ma, assalamualaikum. Terima Kasih".Nana berlalu pergi meninggalkan rumah. Fazil hendak menghentikan,"Berhenti Fazil??".Nada bicara tegas menyeramkan Alyah lebih menakutkan dari Yudha. Mode emak-emak yang tidak bisa di lawan.
"Biarkan adik mu pergi."Kata Yudha memilih untuk membiarkan putrinya pergi mengejar Yohan.
Akan tetapi akhirnya Yudha menyusul putrinya pergi ke luar. Ia pergi ke garasi di mana putrinya tengah mengeluarkan mobil untuk di kendarai.
"Biar ayah antar. Masuk mobil ayah saja."Kata Yudha masuk ke dalam mobil pribadi nya. Yang di ikuti oleh Nana.
Mobil yang di kendarai Yudha mulai berlalu meninggalkan pekarangan rumah. Dengan kecepatan sedang Yudha mengendarai mobilnya.
Suasana dalam mobil menjadi canggung karena pertengkaran kecil tadi.
"Maaf soal yang tadi."Kata Nana.
Yudha yang fokus mengemudi mobil,"Ayah yang seharusnya meminta maaf. Maaf karena ayah berkata kasar kepada kamu. Ayah melakukan nya karena ayah tidak ingin kamu terluka lagi."
"Kehidupan menjadi orang dewasa tidak seindah seperti yang kamu bayangkan. Menjadi dewasa semakin dewasa akan semakin banyak juga tanggung jawab yang harus di pikul seorang diri di bahu sendiri."
"Ayah memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua untuk Yohan. Semoga yang ini dia tidak mengecewakan ayah."Kata Yudha memecah keheningan sesaat.
Melihat sekilas putrinya yang sembaring tadi terdiam,"Pakai sabuk pengaman nya, akan ayah tambah kecepatan nya. Kita tidak akan sampai tepat waktu jika ayah mengemudi mobil seperti ini."Yudha yang di balas anggukan ringan kepala Nana.
Nana memasang sabuk pengaman mobik yang semenjak tadi tidak ia kenakan.
++++
"Selamat siang. Boarding untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan 56K76 tujuan New York akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang C2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih".
(Good afternoon. Boarding for ABC Airlines flight number 56K76 to New York will commence immediately. Would all passengers please to proceed to gate C2 and have your boarding pass and ID ready. Thank you.)
Pemanggilan untuk penerbangan tujuan New York sudah terdengar. Dan disinilah aku sekarang, di barisan panjang penumpang yang akan mengantri di gerbang C2 untuk pemeriksaan.
Lama sekali aku menunggu di sana, di kala antriannya lumayan panjang. Sepertinya di hari ini banyak orang-orang yang ingin pergi ke New York. Setelah mengantri lama akhirnya tibalah giliran ku, aku memberikan password juga berkas identitas lain milik ku. Sementara diri ku dalam pemeriksaan oleh petugas lain.
Selesai melewati gerbang C2 aku kembali berjalan mengikuti petunjuk lain. Pergi ke mengantri kembali sebelum benar-benar masuk ke dalam pesawat.
"Attention, please. This is the final boarding call for passengers ABC Airlines Flight 56K76 to New York, boarding at gate C2. The final checks are to be finished and the doors of the aircraft are to close in approximately five minutes time. Thank you."
Mengerti betul pengumuman yang terdengar mengunakan bahasa Inggris. Nana yang baru sampai bergegas berlari lebih cepat. Saking terburu-buru nya ia sampai beberapa kali terhambat karena tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengan nya. Akan tetapi itu tidak menghentikan langkah kakinya untuk tetap berlari.
Sayangnya saat ia berada di gerbang pemeriksaan Boarding penerbangan New York. Penjaga keamanan di sana menghentikan pergerakan untuk masuk lebih ke dalam lagi. Karena pesawat akan lepas landas dan tidak boleh ada yang masuk selain penumpang dan petugas penerbangan.
"Saya mohon pak izinkan saya masuk."Memohon-mohon,"Saya harus segera bertemu dengan seseorang dia akan segera berangkat."
"Saya mohon pak."
Nana yang terus memaksa akhirnya membuat keributan kecil di sana. Di tambah lagi saat Yudha ikut turun tangan.
Keributan itu sampai terdengar oleh Yohan yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam pesawat. Entah kenapa langkah kakinya bergerak keluar barisan ia berjalan kembali lagi ke ujung barisan akhir paling belakang.
"Kenapa kesini?".Tanya ku pada Nana. Berpaling ke arah penjaga,"Maaf pak mereka Keluarga saya, berikan saya waktu beberapa menit."
"Baiklah, permisi."
Nana tiba-tiba menampar ku kuat, Pakk......Sampai pandangan ku menengok paksa,"Lu mau kemana be**go?Setelah yang lu lakukan kemarin lu akan pergi begitu saja."Marah Nana pada ku.
Yudha yang masih ada di sana,"Ayah akan tunggu di luar. Dan kecilkan cara bicara kalian jika tidak mau jadi pusat perhatian."Sebelum berlalu pergi dari sana.
Tangan yang masih menggenggam pipi memerah nya,"Kau sudah menolak ku. Dan ayah mu tidak merestui ku".Nada bicara sedikit lebih baik.
"Terus kalau aku bilang gitu kau bakal ninggalin aku beneran?Dan hanya karena ayah tidak merestui kau langsung menyerahkan".Yang di balas anggukan kepala ringan oleh ku,"Bit***ch".
Nana membuang muka jengkel,"Maaf."Ucap ku.
"Tidak!Aku yang meminta maaf. Maaf karena aku telah egois. Aku tau kalau aku sedang hamil waktu itu, akan tetapi aku tidak memberitahu mu. Aku bermaksud menjauhkan mu dari anak...".
Menepuk ubun-ubun kepala Nana,"Tidak papa, melihat mu baik-baik saja sudah membuat ku bahagia. Mungkin lain waktu kita bisa buat lagi."Nana yang awalnya terhanyut nyaman, langsung berubah kesal marah seketika. Karena mendengar perkataan terakhir yang aku katakan. Nana meninju perutku kuat.
"Maaf, Tuan. Saya ingin memberitahu Tuan, jika penerbangan ke New York akan segera di lakukan harap Tuan segera masuk ke dalam pesawat."Kata Seorang pramugari perempuan.
"Iya, saya akan segera masuk."Kata Ku kembali terfokus pada Nana,"Maaf tidak bisa mengobrol lama, akan tetapi tinjuan ini cukup kuat untuk ku rasakan sampai pesawat mendarat di New York.
"Terima kasih, jaga kesehatan mu. Sampai ketemu lagi Nyonya Yohan."Kata ku di susul tersenyum tipis sebelum akhirnya berbalik berjalan menjauhi Nana.
Nana yang masih di tempat mengangguk ringan,"Hati-hati, sampai ketemu lagi."Balas nya terdengar berteriak.
Akan tetap melanjutkan langkah ku untuk masuk ke dalam pesawat, tidak lupa dengan senyum sumringah yang masih terukir di sudut bibir ku.