The Revengers

The Revengers
Eps.45



Dua hari telah berlalu. Selama itu juga belum ada pergerakan apapun dari ku ataupun musuh ku. Sampai akhirnya, di hari ini. Ian kedatangan tamu yang tidak terduga di kantor miliknya. Seseorang yang memang Ian tunggu-tunggu kedatangan nya sejak kemarin.


Tidak menurut ku!Karena Ian menyambut kehadiran tamunya dengan ekspresi datar nan dingin.


Tetap duduk tenang di kursi kebesaran nya,"Ada keperluan mendesak apakah sampai datang ke perusahaan kecil kami?".Basa basi Ian pada tamu nya. Bagaimana dia bilang gedung megah seperti ini di sebut perusahaan kecil.


Pria setengah baru baya dengan jas biru Dongker bersanding dengan kemeja batik, yang ia kenakan. Memberikan tatapan yang sulit di artikan, sampai akhir tangannya tiba-tiba tergerak terulur menjabat tangan Ian.


"Selamat atas keberhasilan nya Tuan Ian".Ian yang masih dapat mendengar jelas dan melihat respon ini pun hanya terdiam mengukir sedikit kerutan kecil di kening nya.


"Tidak perlu repot-repot Tuan. Aku sudah tau jika tuan telah membunuh ayah dan anak itu".Ucap pria ini,"Seneng rasanya akhirnya ada seseorang yang bisa membunuh dua hama".Duduk di kursi kosong di depan meja kerja Ian tanpa di persilakan,"Aku jadi tidak perlu repot-repot harus membunuh mereka".


Ian menatap penuh pertanyaan pada pria ini, di kalah menurut informasi. Moana dan Pria ini berteman sangat akrab. Lantas kenapa fakta mengatakan fakta lain.


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku terlihat tidak akrab dengan baji***ngan itu. Um...faktanya aku memang tidak akrab".Basa basi pria ini,"Lupakan soal itu....Aku hampir lupa apa tujuan ku jauh-jauh kesini".


"Aku kesini ingin menawarkan kesepakatan kontrak yang bagus untuk mu....Jika kau setuju aku akan menjelaskan pekerjaan nya".


"Jelaskan dulu baru aku ambil keputusan. Basa basi mu sangat amis".


Tersenyum miring sekali,"Oke."Pria ini mulai menjelaskan kontrak kerja apa yang di maksud.


"Proyek ini sangatlah bagus untuk mu. Karena jika proyek yang aku buat. Bukan!Yang kita buat berhasil. Maka kau akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak. Lebih banyak dari saham perusahaan yang kau punya saat ini".


"Cukup basa basi nya..... langsung pada inti pembicaraan. Kau mau aku membirukan suntikan dana".Ian menatap datar pria ini, atau Tuan Wolf. Tamu yang di tunggu-tunggu adalah Tuan Wolf.


Kalian sudah mengetahui kegagalan proyek nya kemarin!?Dari kegagalan itu. Seperti Wolf bermaksud mencari mesin penghasil uang untuk memberikannya donasi pembuatan mesin komputer itu lagi dari Nol. Semua mesin yang jelas akan membutuhkan puluhan miliar uang dalam pembuatan.


Lantas apa hubungannya dengan Ian?Ian adalah seorang miliarder terkaya saat ini. Yang memiliki cukup banyak saham yang menyimpan puluhan uang kertas Dollar. Kabar meledak nya pemilik baru perusahaan Narendra atau yang sekarang di ganti dengan perusahaan Walsekai. Nama yang sekarang jauh lebih di kenal sampai ke telinga Wolf. Hal itulah yang membawa Wolf datang untuk menemui Ian. Menawarkan beberapa paket manis untuk Ian agar mau memberikan dirinya donasi.


Next....


"Okey, okey....Benar yang kau katakan. Aku kesini ingin kau ikut serta dalam pembuatan komputer masa depan ku. Komputer yang dapat membantu seluruh dunia. Komputer yang akan memberikan keuntungan banyak untuk kita melihat masa depan. Itu semua akan terjadi jika kau menyetujui nya, jika tidak maka semua yang ku katakan akan tetap menjadi mimpi untuk ku".


"Apa kegunaan komputer itu?".Ian yang mulai tertarik.


"Untuk mempermudah petugas keamanan negara melakukan tugasnya".


Sama-sama masih terduduk di kursi nya masing-masing. Ian yang duduk di kursi kebesaran nya, dan Wolf yang duduk di depannya.


"Aku tidak akan percaya sebelum aku melihat nya".


"Kau bisa melihat, kapan pun kau mau Tuan".


"Sekarang".


+++++


++++++++


Selasa


1 Januari, 2047


Sejak hari itu. Selama beberapa tahun ini. Ian mulai bekerja sama dengan Wolf. Ia juga mengikuti beberapa meeting tertutup dengan Wolf. Hal itu terus berlangsung dengan baik selama beberapa tahun.


Hingga tibalah saat-saat yang di tunggu-tunggu yaitu jadinya komputer masa depan yang paling canggih dari komputer yang lain.


Tepat di awal tahun baru ini. Ian dan Wolf akan menyalahkan mesin komputer masa depan setelah tiga tahun penantian. Akan tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Karena tepat saat dalam perjalanan ke gedung utama pembuatan proyek.


Ian yang baru beranjak turun dari atas helikopter langsung di sambut dengan pemandangan yang tidak mengenakan. Penyambutan yang sangat tidak ingin ia lihat. Ataupun ia harapkan tidak akan benar-benar terjadi. Itu artinya Ian sudah mengetahui hal ini akan terjadi.


"Baji***ngan ini mencoba menghancurkan proyek kita Tuan Ian",Wolf yang baru saja naik ke atas gedung ini. Melalui pintu di belakang Yohan berdiri bersama dengan anak-anak buah Wolf.


"Sialan!Lalu bagian dengan proyek nya?Aku akan meminta ganti rugi atas semuanya jika kau tidak berhasil Wolf".Ian menatap dingin nan tajam Wolf.


Melangkah lebih maju ke depan sembaring di barengi dengan gerakan naik turun nya kedua tangannya,"Tenang-tenang Tuan. Semua masih aman. Kau tidak perlu khawatir berlebihan".


"Justru aku yang khawatir sekarang".Wolf menatap tajam Yohan.


"Aku bingung pelajaran seperti apa yang harus ku berikan pada baji***ngan ini. Di kala sangat tidak baik membiarkan seekor tikus keluar hidup-hidup".Kata Wolf,"Tikus yang mencuri makanan harus di bunuh. Sangat bahaya jika di biarkan, tikus itu akan datang lagi membawa kaw....".Memotong basa basi Wolf.


"Lempar saja dari sini. Bukankah kau bilang jika di sini hanya ada anak buah mu dan satu gedung saja....Jadi tidak masalah kan jika kau berbuat semau mu. Seperti membunuhnya".Ian menyungging senyum miring mematikan pada Wolf.


"Tapi dia kan sepupu mu".Wolf terfokus pada Ian.


Ian yang tetap tenang dengan raut wajah datar,"Lalu?".Membalikan ucapan,"Siapa yang menganggap pemalas beban keluarga sepertinya sebagai sepupu. Sit!...apa yang bisa ku harapkan darinya". Membuat tatapan tajam Yohan langsung tertuju pada Ian. Mengintimidasi.


"Akan ku bunuh kau bersama mereka".Nada suara berat Yohan mencekam mengerikan.


Wolf tertawa terbahak-bahak mendengar bualan Yohan,"Hahhahhhh....... Membunuh!?Apakah aku tidak salah dengar?Kau yang",Wolf melangkah mendekat Bakkk.... Menendang perut Yohan dengan lutut membuat tubuh Yohan membungkuk paksa,"Kau bahkan tidak bisa melawan bodoh!!".Berganti dengan melontarkan tinjuan membuat Yohan hampir terjungkal.


Suasana yang mencekam justru terdengar Dorr.....Suara tembakan. Peluru panas tiba-tiba melesat mulus tepat di samping Wolf. Mendarat mulus di dada kiri Yohan dengan baik.


Si pelaku penembakan,"Usai sudah bercandaan nya,"Ian mengeluarkan aura mengerikan dalam dirinya,"Lepar dia!!".Suruh Ian bernada tegas.


Tubuh lemah Yohan di gelandang ke tepi gedung. Di sana Yohan yang masih sedikit berdiri menghadap para musuhnya pun memberikan senyuman termanis terakhir kali. Pada mereka, sebelum akhirnya tubuh nya terjun dari atas gedung tinggi ini.


Selesai memberikan aba-aba. Mereka yang akan melempar tubuh Yohan. Akhirnya terlaksana, tubuh Yohan terjun bebas dari atas gedung tinggi ini.


Angin malam yang sangat dingin, dengan posisi jatuh yang menghasilkan angin dingin yang lebih kuat menusuk kulit,"Usai sudah".Gumam Yohan dalam keadaan tubuh yang masih bergerak jatuh dengan cepat.


+++++


Perempuan berambut hitam legam panjang yang tengah berdiri di barisan paling depan menunggu lampu hijau menyalah. Namun di tengah keramaian itu, entah kenapa perempuan yang tengah terbawah suasana dalam lamunan nya ini bergerak maju,"Astaghfirullah!!".Nana yang hampir saja terserempet motor yang melintas cepat di depan nya. Jika saja Rara tidak bergerak cepat menarik tubuhnya kembali ke tepian.


"CK, mata lu di mana o'on. Ini jalan umum bukan jalanan bokap lu, dah jangan ngelamun. Kalau lu gini terus pulang saja lah gak usah repot-repot desak-desakan nonton pesta kembang api".Omel emak Rara.


"Eh!!Jangan!Gue susah payah minta izin. Gue harus nonton!!Gue tidak akan melamun. Janji Mbak Rara".Semangat Nana bergegas menarik pergelangan tangan Nana untuk menyeberangi jalan zebra cross ini. Bersama dengan pejalan kaki yang lain.


++++


Kembali ke atap gedung yang jadi hening setelah kejadian. Ian yang masih menggenggam erat senjata pun, segera bergerak menyimpan senjata api itu kembali.


Suasana nya yang menjadi serius,"Cepat nyalakan komputer nya. Karena jika gagal aku sudah tidak sabar untuk membuat mu menyusul tikus tadi".


"Tenanglah Tuan, apa yang ku lakukan tidak pernah gagal".Wolf menyungging senyum manis nya pada Ian sampai memperlihatkan dua gigi emas.


+++++


"Sudah siap semua?".Tanya seorang pria pada anak buahnya yang baru berkumpul.


"Sudah usai".Balas mereka berlima.


"Baiklah tinggal menunggu aba-aba Yohan".


+++++


Layar komputer besar ini berlahan-lahan menyalah. Wolf yang sangat tidak sabar menikmati keberhasilan nya, begitu sangat sumringah dan bersemangat sejak tadi.