The Revengers

The Revengers
Eps.42



Kembali ke markas rahasia ku. Yang sudah lengkap dengan peralatan yang aku butuhkan, jika di perlukan. Dan Nella, seorang perempuan yang mengatur semua yang aku butuhkan dengan baik. Yang berarti di bawah tanah kediaman rumah ku di Australia. Perlu kalian ketahui jika atu tinggal di kediaman rumah ku sendiri yang ada di Australia. Aku tidak membeli rumah apartemen. Di kala di Australia lebih nyaman memiliki kediaman rumah sendiri.


"Sudah selesai?".


Fokus pada layar laptop nya,"Sudah, semua biodata anda sudah saya ganti sesuai dengan yang anda mau."Balas Nella.


"Kerja bagus".


"Thanks, Tuan".


"Tetap pantau keamanan di pulau itu, juga pantau keamanan yang lain. Semua yang online aku percayakan pada mu".Kata ku pada Nella.


"Baik Tuan, akan saya kerjakan dengan rapi seperti biasa".


+++


"CK, baji***ngan dia benar-benar mabuk".Ian tersenyum miring melihat Lucas yang sudah kehilangan kesadaran nya.


Kepala yang tertidur di atas meja,"Astaga!!Kenapa semuanya bergerak seperti itu".


Menuangkan minuman ke dalam gelas Lucas yang kosong,"Itu karena kau sudah mabuk".


Bangkit duduk dengan benar di atas karpet ini. Tangan yang bergerak letoy tidak bernyawa,"Tidak lah bang***sat!".


"Aku Adya Lucas Fernando, putra tunggal Moana kuat soal beginian tau!!".Berusaha beranjak dari tempat duduknya.


"Kau ak....". Brugk.....,"Wuh sakit tuh".Lucas jatuh lebih dulu sebelum berhasil berdiri dengan benar.


Ian beranjak dari tempat duduknya. Membantu Lucas untuk bangun dari tempat nya berbaring. Memapah tubuh Lucas, akan tetapi Lucas justru memaksa tetap duduk di tempat nya. Terdiam dan meminum kembali air dalam gelasnya.


Tidak mau lebih kerepotan lagi. Ian bergegas memaksa Lucas untuk cepat bangun. Susah payah memaksa Lucas untuk bangun, akhirnya ia berhasil membawa Lucas ke tempat yang tidur.


Ian langsung melempar kasar tubuh berat ini,"CK, makam besi kau. Jika bukan karena uang mustahil untuk ku akrab dengan baji***ngan seperti mu".Ian tersenyum miring. Sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.


+++++


Ian yang baru sampai di kamar hotel nya. Baru selangkah kaki jengkal nya berjalan, tubuhnya terhuyat Sempkk.....ia tersungkur tengkurap tepat di depan pintu. Sepertinya efek minuman tadi sudah tidak bisa ia tahan lagi. Bahwa ia sendiri sebenarnya juga sangat mabuk.


Karena menurut keinginan Lucas, ia terpaksa juga harus ikut mengikuti porsi minum nya yang sangat tidak sedikit.


"Sial".Ian yang kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri. Mencari pegangan apapun untuk membantu nya kembali berdiri dengan baik.


++++++


++++++++++


Keesokan pagi. Atau lebih tepatnya sudah siang hari. Ian masih tidur nyenyak menyalami alam mimpi nya. Dengan pakaian yang masih sama ia kenakan tadi malam. Hanya saja sudah kacau balau.


Ia yang tidur tengkurap menggeliat membalikan badan mengubah posisi rebahan. Sayup-sayup ia melihat langit-langit kamarnya yang membosankan. Ian terbangun duduk, karena suara bel kamar hotel nya yang terus saja berbunyi berisik sekali.


Lantas ia segera beranjak dari tempat duduknya nya. Melepas kemeja yang kancing nya sudah tidak saling merekat. Menarik kaos hitam untuk ia kenakan. Sembaring langkah kakinya tetap berjalan ke arah pintu utama.


"Hmm."Ian yang sudah membuka separuh pintu kamar nya.


"Sudah terlambat bodoh!Ini semua karena minuman sialan air kuda kau!".Omel Lucas di depan pintu kamarnya.


"Oh".


"Iya, cepat bersiap bodoh!".Geram Lucas pada Ian.


"Hem".


Lucas hendak masuk ke dalam kamar Ian, akan tetapi terlambat karena Ian secepatnya menutup pintu kamar kembali. Membuat suara benturan di luar pintu terdengar keras. Lantas Ian membuka kembali pintu kamarnya separuh.


"Suara apa tadi?".Tanya Ian dengan ekspresi bodohnya yang polos. Atau mungkin efek minuman belum sepenuhnya hilang.


Mengelus hidung nya yang memerah,"Sakit bodoh!!".


"Hmm".Ian kembali menutup pintu kamarnya dan lagi-lagi terdengar suara benturan keras. Namun yang ini Ian tidak memperdulikan. Langkah kaki nya sudah bergerak kembali ke kamar untuk membersihkan diri yang lengket dan bau.


Tanpa Ian sadari di luar kamar. Lucas tengah Ngedumel marah-marah entah pada siapa. Sembaring mengelus hidung memerah nya.


"Sialan tuh bocah. Aku mau masuk malah di tutup pintu nya. Tidak ada kah etika memperlakukan tamu. Apakah memang ini yang ia tau menelantarkan tamu di luar".


++++


Menjelang sore hari di ujung Kota. Di villa yang sudah Lucas siapkan. Ian pergi ke sana bersama dengan Lucas yang menyewa Villa. Lucas bilang jika villa ini akan ia pergunakan untuk pertemuan Yohan(Anata) dengan orang suruhan Lucas. Untuk membahas suatu pekerjaan kontrak yang akan membuat Yohan(Anata) menandatangani suatu lembar kertas kerja.


Dan saat ini Lucas tengah mempersiapkan suatu kertas yang di modifikasi menjadi lebar tulisan kerja. Dengan cara Lucas menempelkan suatu kertas lain di dalam tulisan tersebut. Jaman yang sudah modern membuat varian kertas menjadi beragam jenis dan aneh-aneh, juga tidak masuk akal.


Next.....


Aku masuk ke dalam ruangan untuk melakukan meeting pekerjaan dengan perusahaan lain. Sejak tidak ada Ian, aku jadi harus bekerja sangat keras seorang diri, juga banyak membagi waktu sendirian mengerjakan semuanya.


Seperti meeting saat ini. Aku datang seorang diri tanpa seorang sekertaris yang saat ini tengah sibuk di kantor dengan tumpukan file-file pekerjaan yang belum terselesaikan.


Menyambut dengan ramah,"Welcome Tuan Anata".Sapa pria setengah baru baya ini.


"Mari silakan".


Ketiga pria ini duduk di ruang tamu. Membahas rencana pekerjaan. Layak pengusaha yang tengah meeting. Sama-sama sudah saling menyetujui negoisasi kesepakatan TTD kesempatan pun di lakukan.


Next...


Selang beberapa menit setelah pertemuan. Ian dan Lucas ikut turun bergabung bersama orang suruhan nya. Lucas langsung di sibukkan dengan TTD Yohan akan ia perlihatkan di surat wasiat pemberian seluruh saham.


Menunjukkan lembar kertas,"Tuh keren kan".


Fokus pada lebar kertas itu,"Semua sudah jadi milik ku".


"Semacam itu."Kata Lucas,"Akan tetapi tidak".


Ian yang langsung terdiam karena beberapa senjata api sudah menodong kepala nya.


Lucas berubah menunjukkan sisi asli dalam dirinya,"Semua sahamnya atas nama ku".


"Ternyata benar kata pria tadi jika kau sangat sangatlah bodoh. Kau bahkan tidak sadar jika aku memanfaatkan mu".


Ian menyungging senyum miring,"CK jadi aku tertipu dan tak akan ada seorang pun yang membantu ku".


Datar dan dingin,"Bunuh dia".


Mencoba menghentikan ancaman-ancaman senjata ini,"Tunggu!!Aku sudah membantu dan apakah ini imbalan nya."


"Aku tidak akan menganggu jika kau memberikan aku sedikit saham, ataupun sedikit uang".


"Aku bicara pada mu bang***sat!!".


Sementara Lucas hanya duduk tenang menikmati kemenangan nya.


"Hyy".Ian bergerak mendekati Lucas mencengkeram kerah pakaian Lucas sampai tubuhnya sedikit terangkat,"Penghianat Sialannnn".


Dorr...Dorr....manik mata Ian langsung membulat sempurna, tanpa melonggarkan cengkraman tangannya. Bakk....Lucas meninju pipi Ian sampai tubuh nya tersungkur.


Slapp.....Brakk.....Lucas kembali menendang pelipis kepala Ian. Menerima tendang kuat itu, membuat Ian langsung kehilangan kesadaran.


Ian berusaha beranjak dari tempat ia terjatuh, sayangnya karena tendangan tadi pandangan matanya jadi kabur, buram semua. Kepalanya menjadi pening.


"Masukkan dia kedalam karung lalu lepar ke tebing belakang Villa".Suruh Lucas yang langsung di laksanakan oleh anak-anak buahnya.


Ian tarik paksa ikut bersama mereka. Tubuhnya dimasukkan ke dalam karung berukuran besar tebal, sebelum akhirnya atasan karung itu di ikat dengan tali dan pemberat batu besar.


Karung dan baru pemberat itu di gotong ke belakang villa. Di mana ada tebing tinggi yang mengarah langsung ke dalam lautan lepas.


Tubuh Ian yang terbungkus karung di lempar ke dalam tebing itu. Terjun bebas masuk ke dalam lautan.


Selesai melemparkan karung berisi Ian begitu juga pemberatnya. Kelompok pria ini pun berlalu pergi dari sana.


Melihat air yang mulai masuk ke dalam karung nya. Ian berusaha meronta-ronta untuk keluar dari dalam karung. Belum juga berhasil keluar, ombak besar menyapu karungnya membuat tubuhnya terombang-ambing di dalam lautan. Sampai terhenti karena kepalanya membentur bebatuan tanpa ia sadari.


Karung yang sudah terisi air, belakang kepala yang berdarah, di tambah lagi dengan luka tembak di punggung nya yang sudah mengeluarkan banyak darah sejak tadi. Sudah cukup membuat Ian benar-benar kehilangan kesadaran nya. Karena setelah benturan keras itu, karungnya semakin tenggelam ke dasar sungai.


Sementara Ian dengan sisa-sisa kesadaran sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Dengan keadaan tubuhnya yang semakin melemah. Usahanya untuk menyobek karung ini terus saja gagal, membuat nya sangat pasrah dengan nasib terakhir nya. Yang mungkin akhirnya cerita akan berhenti sampai di sini.