The Revengers

The Revengers
Eps.9



Brak....,"Aduh buku ku."Perempuan ini berjongkok segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas lantai.


Aku ikut turun membantu membersihkan buku-buku yang berserakan ini,"Lain kali hati-hati."Pesan ku sebelum berlalu pergi dari sana.


Hari ini aku mengambil surat izin untuk pulang dengan alasan ada kepentingan keluarga yang harus aku hadiri. Sementara Ian tetap di sekolah.


Next....


Aku pergi keluar gerbang sekolah dengan berjalan kaki. Langkah ku terhenti di depan mobil warna hitam yang tengah menunggu kedatangan ku. Aku langsung beranjak masuk ke dalam mobil yang akan tancap gas meninggalkan area sekolahan.


"Mereka semua sudah berkumpul?".Tanya ku yang sudah duduk di kursi tengah penumpang.


Supir yang fokus mengemudi mobil,"Sudah Tuan."


Aku membungkuk untuk mengambil kantor tas yang berisi kan pakaian ganti. Aku berganti pakaian di dalam mobil karena akan buang-buang waktu juga harus pulang lebih dulu.


++++++


Villa tidak terlalu mewah akan tetapi jauh dari kebisingan Kota adalah markas ku. Di dalam Villa sudah ada beberapa orang suruhku yang aku kumpulkan.


Aku yang baru saja sampai di tempat pertemuan, segera beranjak turun dari dalam mobil untuk berjalan masuk ke dalam Villa. Di dalam aku langsung di sambut dengan baik oleh orang-orang kepercayaan ku.


Membungkuk serentak memberikan hormat itu yang mereka lakukan sekarang. Aku berlalu berjalan di tengah nya, dan berhenti di ujung sana berbalik menghadap mereka.


Dengan setelan jaket dan celana panjang hitam,"Aku ingin mendengar informasi yang sangat penting itu."Ucap ku menatap tajam dingin lurus ke depan.


"Moana akan melakukan pergerakan nya kembali. Menculik remaja atau anak-anak untuk di jual organ dalamnya. Dan sangat kebetulan Moana bergerak di daerah ini."Rohman mengatakan lebih dulu informasi yang ia dapatkan pada ku.


"Pegerakan mereka juga di sertai dengan penjualan barang haram."Timpal Haris menambahi.


Susana hening beberapa saat. Sampai akhir aku yang sudah duduk menyangga dahu ku berkata,"Tetap fokus pada posisi mu."


"Sisanya serahkan pada ku."


"Tapi Tuan itu sangat berbahaya untuk anda. Moana buka....".


Aku yang memotong ucapan itu,"Justru karena itu aku tidak ingin mengambil resiko dengan menyuruh kalian mengambil peran lebih jauh lagi."


"Deva sudah menjadi korbannya."Ucap ku menatap datar dingin mereka.


Susana kembali hening dan dingin. Di tambah lagi hujan rintik-rintik di luar mulai berjatuhan menambah suasana yang sudah dingin ini semakin dingin.


Aku masih duduk di sova tunggal kebesaran ku. Aku yang terlihat duduk tenang dengan isi kepala yang bertempur menyusun rencana.


"Kalian bisa pergi setelah hujan reda. Jangan berbuat gegabah."Beranjak dari tempat duduk ku atensi ku langsung tertuju pada Lucky,"Aku akan membunuhnya."Nada bicara dingin ku mengancam.


Aku berlalu pergi dari ruang ini. Pergi ke ruangan lain untuk mencari ketenangan. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa sangat letih.


"Lucky, bener kata Tuan. Jangan gegabah."Kata Haris.


"Hmm."


Lucky berlalu pergi dari sana untuk duduk di Sova yang masih kosong di ruangan ini.


Next......


Menjelang sore. Aku masih setia duduk di dalam ruangan ini seorang diri. Karena isi kepala ku belum berhenti untuk bertempur. Suara langkah kaki sepatu yang masuk ke dalam ruangan ku mengalihkan atensi ku untuk melihat.


"Bagaimana?".Tanya Ian menaruh tasnya di atas meja kerja ku, dan duduk di kursi kosong di depan ku.


"Moana mulai bergerak."Kata ku di lanjut dengan mengatakan beberapa rencana yang sudah kupikir dengan baik resikonya.


++++++


++++++++++


Baik aku ataupun Ian berlari sekuat tenaga menerabas ranting yang menghalangi jalan kami. Dorr...Dorrr.....Aku dan Ian tetap berlari walau senapan timah panas terus mengejar lari ku dan Ian.


"Aaaa.....,"Brugk..... Melihat Ian terperosok ke dalam lubang aku segera menghentikan lariku,"Kau tidak papa?".


"Tidak papa lari saja aku akan lari lewat sini. Kita bertemu di ujung."Ucap Ian berlari beda jalur dengan ku.


Dorr....,"Hy baji***ngan-baji***ngan cepat keluar."Teriak penuh marah sekelompok pria yang mengejar kami.


"Waauu.....,"Ian melompat kembali untuk menghindari lubang di depannya. Atensi nya sempat berpaling melihat belakang sekilas,"CK gue aman tapi bagaimana dengan Yohan."Gumamnya merasa khawatir dengan Yohan yang berpisah dengan nya.


Aku masih berlari. Sesekali aku juga berlindung di balik pohon besar untuk melindungi tubuh ku dari sasaran gila timah panas yang menggila.


Merasa lumayan jauh dari lawan. Aku bersiap mengatur senjata api yang akan ku gunakan. Karena hanya dengan lari saja tidak akan membuat mereka menyerah dengan mudah.


Ckelek...ckelek... Senjata laras panjang canggih telah berhasil ku rakit dengan benar.


"Cepat keluar baji****ngan."Ucap lantang seorang pria mencari ku.


"CK bukan baji***ngan. Tapi bayi kecil yang Gemoy."


"Jangan begitu nanti kalau Beby kebelet siapa yang lepaskan celananya."


"Hahhhhahhhh........".Tawa menggema mereka. Membuat tangan ku ingin rasanya bergerak cepat. Tapi tidak emosi ku akan menghancurkan attitude ku.


Aku memantau situasi dari tempat persembunyian ku. Setelah jumlah target sudah ku kantongi. Aku bersiap untuk mengeluarkan serangan.


Dorr..... Tembakan kembali di lontarkan akan tetapi kali ini ke udara. Sstt....Dorr..... Sayangnya bersamaan dengan itu senapan laras panjang otomatis ku jauh lebih cepat dan tetap sasaran memecahkan tempurung kepala mereka.


Ketiga pria yang masih hidup terpaku pada tempat nya melihat rekan nya yang tumbang di depannya dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


Tidak sampai di situ. Aku yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan kembali memberondong senjata laras panjang ini kepada lawan.


Dari banyaknya orang yang berhasil ku bunuh, aku menyisakan satu orang yang masih bernafas walaupun keadaan akan cacat umur hidup.


Aku berjalan mendekati pria yang merangkak-rangkak menyeret tubuh untuk berlari dari ku. Ia terlihat sangat ketakutan, wajahnya pun memucat. Manik hitamnya mengecil bergetar-getar.


Seperti pria ini sangat tidak beruntung karena bertemu dengan ku. Aku yang sudah ada di dekat nya menyodorkan ujung pistol ku ke belakang kepalanya.


"Mau pergi ke mana paman. Anak apa tadi, baby, iya baby boy ini ingin mengobrol. Apakah pantas untuk paman meninggalkan seorang anak kecil sendirian di tengah hutan."


"CK basa basi sekali aku."Aku yang geli sendiri dengan cara bicara ku.


Pria ini berusaha bangkit berpaling ke arah ku. Bersujud-sujud di depan ku meminta ampun. Miris sekali bukan, dia yang biasa membunuh orang kini mengemis nyawa pada ku.


"Di mana anak-anak itu di sekap, dan di mana gudang barang haram itu berada?".Tanya ku pada pria ini.


"Apa tuan akan mengampuni ku jika aku mengatakan semuanya."Kata Pria ini.


"Hem."


"Aku tidak tau di mana anak-anak itu di sekap, akan tetapi aku tau di mana barang haram itu di simpan."Kata Pria,"Di danau biru yang paling terkenal."


"Tunggu, tunggu, Tuan kau bilang katanya kau tidak akan membunuh ku. Tuan tolong ampuni aku. Aku mohon tuan anak ku tengah sakit di rumah, aku terpaksa melakukan ini. Aku mohon Tuan."Pria ini bersujud-sujud di bawah kaki ku memohon-mohon untuk di ampuni.