
Markas besar Moana yang belum ada seorang pun yang mengetahui tempat nya.
"Edarkan semuanya. Dan bawa uang-uang ku ke ruang operasi ambil semua uang ku. Aku ingin segera mencium bau-bau uang-uang itu".
"Baik bos permisi."Anak buah Moana berlalu pergi meninggalkan ruangan ini.
"Penghalang hilang bisnis lancar."Ucap Moana tersenyum manis mendapati bisnis legal nya berjalan mulus.
+++
Malam semakin larut tidak membuat Ian merasa mengantuk ataupun lelah sama sekali. Ia masih terjaga di depan laptop kerja milik Yohan.
Iya, demi keluarganya tidak curiga tentang hilangnya Yohan. Dengan terpaksa Ian harus menggantikan semua posisi sepupunya, sampai ia menemukan keberadaan sepupunya.
Situasi ini membuat Ian sangat stres. Ia harus membagi tiga tugas waktu nya. 12 jam kerja online, 8 jam kuliah online, dan sisanya mencari keberadaan Yohan.
+++
Buru-buru membuka kunci pintu pondok nya,"Wasakah dingin."Ngedumel kesal Nana baru pulang dari tempat kerjanya.
Ia bergegas melipat payung nya, menaruhnya pada tempat seharusnya. Lalu berpaling ke arah seisi ruangan.
"Gelap. Apakah dia sudah pergi?".Tanya Nana entah pada siapa.
Langkah kecil berjalan lebih masuk ke dalam ruangan. Langkah terhenti di ruangan yang di pergunakan untuk Yohan beristirahat. Akan tetapi Nana sudah tidak mendapati keberadaan Yohan di sana.
"Mungkin dia benar sudah pergi."Ujarnya berlalu dari sana. Mencium aroma sedap dari dapur membuat kaki bergerak ke sana.
Aku yang mendengar langkah kaki mendekati dapur bergegas merapikan beberapa peralatan makan yang aku siapkan.
"Yohan."Seru Nana,"Gue pikir lu sudah pergi."Ucap Nana.
Fokus pada beberapa makanan siap makan,"Lu yang masak?".
Belum juga mendapatkan jawaban,"Gue pikir hanya cewek saja yang bisa masak ternyata cowok juga bisa."
Mengambil sendok mencicipi salah satu makanan,"Enak banget, gue makan ya?".
"Iya."Aku ingin heran tapi dia adalah Nana.
Selepas makan malam. Aku dan Nana masih di dapur. Aku menemani Nana yang sibuk mencuci wadah kotor.
"Na."Seru ku.
"Boleh pinjam ponsel lu?".
Tanpa berpaling melihat lawan bicara,"Ambil saja. Tuh di atas meja."
Selesai dengan kesibukan nya. Nana kembali berpaling ke arah tempat ku duduk,"Sudah selesai pinjem ponsel ku?".
"Nanti saja."
"Hemm."Nana berlalu meninggalkan dapur dengan membawa barang-barang nya begitu juga dengan ponselnya.
+++
"Yohan."Ujar kaget Nana dengan kehadiran ku yang muncul tiba-tiba keluar dari ruang tamu yang gelap,"Lu dari mana?Di luar hujan deras".
"Lupa kunci pintu depan."Ucap ku dingin.
"Benarkah, astaga untung lu periksa."Nana menunduk sedikit pandangan menghela nafas panjang.
"Wasakah.....".Ujar Nana melihat seisi ruangan yang gelap gulita.
Grudkk....Tarr.....Entah sejak kapan. Namun Nana sudah terkunci oleh Yohan. Tatapan berbeda Yohan tunjukan untuk Nana yang terpojok di depan.
Menelan saliva paksa,"Hey, hey Yohan bisa bantu aku ambil korek api. Lampu lilin nya mati, gue tidak bisa jalan ke kamar gue dengan keadaan gelap."Nana yang berusaha untuk tidak canggung juga berubah untuk keluar dari posisi nya.
Akan tetapi tidak dengan Yohan. Karena ia masih terdiam di tempat nya tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.
"Yohan minggir."Nana mendorong tubuh Yohan akan tetapi dorong itu membuat Yohan mencium nya.
Nana yang terkejut menjatuhkan pegangan lilin dalam genggaman tangan nya. Kedua matanya terpejam rapat-rapat,"Apaan ini dia mengambil ciuman pertama ku."Batin Nana mengigit bibir Yohan di susul mendorong tubuh Yohan lebih kuat lagi agar menjauh dari nya.
Yohan meringis menyungging senyum miring. Ia menghapus bekas darah di ujung bibir nya. Tatapan mata Yohan memerah berkaca-kaca.
Ini sudah di luar batasan. Nana hendak berlari dari sana untuk kembali ke kamarnya mengunci pintu kamar sampai esok hari. Mungkin itu ide bagus untuk menghindar dari Yohan. Pria misterius teman sebangku nya ini.
Sayang, sangat di sayangkan. Yohan berhasil menggenggam pergelangan tangan nya erat. Mengehentikan langkah kakinya. Nana mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan genggaman kuat yang melingkar ini. Akan tetapi nihil, tega Yohan terlalu besar untuk nya.
Yohan kembali mendekat pada Nana. Tidak habis akal Nana menendang perut Yohan dengan harapan pria ini akan melepaskan genggaman tangan. Cukup di sayang ancang-ancang itu terlebih dahulu di sadari oleh Yohan. Alhasil Yohan menggenggam kaki lincah itu.
"Lepas Yohan. Atau....". Memotong ucapan Nana,"...Apa?".Tanya nada dingin Yohan.
"Gue akan membunuh lu."Nana tidak kala dingin membalas tatapan dingin itu.
Bukan Yohan jika takut dengan gertakan murah seperti itu. Tangan yang menggenggam telapak kaki kanan Nana berlahan-lahan mulai bergerak lebih jauh ke atas.
Nana mengigit rapat,"Hentikan."Bentak nya.
Yohan mengangkat kedua tangan Nana dalam genggaman ke atas. Mengunci pergerakan Nana lebih rapat,"Lu Gila? Berhenti Yohan."
"Tidak bisa."Balas Yohan berbisik di telinga Nana yang memerah.
Pergerakan itu turun ke leher Nana memberikan tanda kepemilikan di sana,"Gue tidak akan memaafkan lu."Ucap Nana.
Yohan tidak perduli dengan ucapan itu, ia masih terdiam melakukan kegiatan. Tangan bergerak mengendong tubuh Nana.
Memilih ada ruang untuk melarikan diri Nana berusaha meronta-ronta kembali. Akan tetapi tetap tidak bisa. Tenaga besar Yohan selalu berhasil menghentikan pergerakan nya.
+++
Ian masih menginap di Villa. Selepas selesai dengan pekerjaan kuliahnya. Ia bergegas menemui anak buah nya di ruang tamu lantai bawah.
Suasana sangat hening karena pembahasan mereka tentang bisnis legal Moana yang semakin meledak membuat kekacauan di mana-mana.
"Tidak perlu mencari keberadaan Yohan lagi. Kalian fokus pada tugas kalian. Laporan ke pada ku jika salah satu dari kalian mendapatkan informasi tentang markas besar Moana."Kata Ian,"Bertindak lah dengan hati-hati."
Menyadari kecemasan para anak buahnya,"Tenang saja Yohan tidak akan mati semudah itu. Sepupu kayak dia tidak mungkin di kalahkan dengan mudah."Kata ku.
"Iya, tuan."Balas Haris dengan nada bicara ringan.
+++
Entah kamar siapa ini. Yang jelas Yohan berhasil membawa Nana yang terus melawan ke dalam kamar ini.
Yohan yang melihat pegerakan tangan Nana langsung menepis kerang buah sampai buahnya berserakan ke lantai berserta dengan pisau buahnya. Iya, Nana bermaksud mengambil pisau buah untuk membela diri dari Yohan.
"Aku hanya akan mati saat kau benar-benar menginginkan ku untuk tetap tinggal."Kata Yohan yang saat ini sudah menindih tubuh Nana.
Sepasang mata yang berair ini semakin deras menguarkan bui bening nya. Nana begitu berharap Yohan menghentikan semuanya. Namun Yohan tidak memperdulikan permohonan itu. Yohan tetap melanjutkan aktivitas nya. Sampai pada titik yang sangat Nana takutkan akan terjadi.